Agustus Istimewa ^,^

Ternyata memang bukanlah salahnya si hari Senin. Kenapa sampai ada istilah I Hate Monday itu, tak lain tak bukan disebabkan karena dia hadir tepat setelah liburan, which is… sucks. 😛 Ketika kemudian hari Senin ditakdirkan menjadi hari libur, maka hari Selasa lah yang jadi imbas. Berangkat ngantor masih antara iyes dan enggak. Mood masih belum bergelora semangat kerja dan ngantuk masih merajalela. Uh oh. Masih terkenang long wiken ceria. Tralala…

Senin kemarin memang tanggal merah. 17 Agustus! Hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-70. Kalau manusia, udah kakek-kakek deh tuh hehe. Meskipun kalau ukuran negara, masih tergolong muda (bandingkan dengan negara-negara Europe sono) Masih sangat perlu banyak berbenah, tapi selalu bangga kok jadi bagian dari bangsa Indonesia. Sebagai ukuran dari kebanggaan itu, saya ikut upacara bendera dong (tapi nggak jadi). Soalnya kalau mau ikut upacara, saya mesti ke kantor saya yang di ujung dunia itu tuh. Plan B untuk ikut upacara di kantor pusat di jalan Thamrin gagal, yang mana disebabkan keterbatasan tempat sehingga yang boleh ikut upacara hanya yang statusnya eselon. Ya sudahlah, saya di rumah saja. Mantau upacara di monas lewat TV. Eh eh lha batita saya kok ya khusyuk menikmati acara live itu. Ya nak, tumbuhkan jiwa nasionalisme dan patriotismemu. ^,^

Hari senin itu, karena gagal upacara akhirnya rutinitas ibu-ibu kembali digelar, diawali dengan belanja sayur ke pasar kaget. Diantar jemput sama suami tercinta (eciye). Eh tapi pas jemput, si dia  marah-marah. Ada apakah gerangan? Ternyata, dimana-mana jalan raya ditutup dan diportal buat ajang event lomba 17-an. Rute yang harusnya 5 menit jadi puluhan menit deh, karena bolak-balik mesti melipir atau putar balik. Katanya si sayangku, emang jalan raya punya embah-nya? Ya memang kan ayah.., kan dulu emang nenek moyang kita yang berjuang hihi.. Sabar.., sekali setahun ini. Tapi ya memang nyebelin sih soalnya rada kelewatan mortalnya, bahkan ada yang bikin acaranya mortal jalan raya, padahal pas di depannya situ ada lapangan. Maksudnya apa coba? *geleng-geleng kepala*

Ngomong-ngomong soal lomba 17-an, di deket rumah saya, acaranya digelar tanggal 16-nya, jadi pas senin itu sudah sepi khusyuk syahdu. Acaranya seru. Batita saya pun ikut semangat lomba mindahin bendera, dan dapat juara dong. *bangga* Ya memang cuma sederhana banget, mindahin bendera dari garis start ke garis finish, totalnya ada 3 bendera jadi dia lari bolak balik. Tapi ya namanya batita, masih syukur bisa nyelesaiin lomba (dapat juara sih bonus lah ya). Rivalnya dia ada yang pakai nangis guling-guling dulu di jalan aspal waktu lomba mau dimulai, dan ada juga yang WO karena maunya digendong emaknya terus, nggak mau turun ke arena. Hihi.

17 Agustus ini memang istimewa buat saya. Bukan apa-apa. Karena pas tanggal itu salah seorang besties saya berangkat ke negeri orang buat ngelanjutin studi. Rasanya kehilangan, karena sehari-hari saya banyak aktivitas bareng sama dia di kantor. Kami hampir selalu ada dalam project yang sama. Dan lebih dari itu, dia sudah bukan sekedar partner, tapi sudah jadi sahabat. Tempat curhat, ketawa bareng, ngomel bareng, ngebolang bonek bareng waktu ke Yurep kapan itu, juga kompak ngebully si anu waktu jaman rame pilpres kemarin wkwkwkwk.. Kecocokan itu memang bukan hanya soal lamanya waktu bersama, tapi ada hal-hal yang memang terasa klik di hati. I’ll miss her for sure.

Dia memang punya rencana buat masa depannya, dan itu yang memotivasi  dia buat pergi. Meski di saat-saat terakhir, dia sangat gloomy dan setengah “menyesal” kenapa harus pergi. Kenapa dunia begitu kejam mbak, katanya… Haah, lebaaayy…, kata saya. (emang bukan sahabat yang baik ya, komennya aja begitu hihi). Habis, saya harus bilang apa? Saya memang dari jauh hari sudah menyadari, bahwa saya TIDAK MUNGKIN pergi jauh keluar negeri meninggalkan keluarga buat sekolah. Saya tidak akan bisa. Dengan segala blabla alasan saya. Tapi saya juga sadar, tidak semua orang harus sama dengan saya. Dan bahwa dia mengambil pilihan lain, ya itu saya hormati dan saya dukung. Apalagi keluarga dia juga support penuh. Jadi, yang bisa saya lakukan di saat-saat terakhir dimana dia hanya tinggal harus berangkat (semua tetek bengek sudah beres), ya saya hanya harus menyemangati dia. Karena dia sudah ada di satu titik dimana sudah tidak bisa lagi memilih, atau melangkah mundur. Satu-satunya pilihan adalah maju, doing best dan coming home soon.

So… semangat ya Galuh…

Bulan Agustus ini sekali lagi menjadi istimewa karena menjadi bulan terakhir saya ngantor sebelum cuti tugas belajar. Iyes, saya juga ikutan mau sekolah lagi, tapi di dalam negeri aja saya mah. Hihi. Itu saja masih galau apa otak saya bisa ngikuti materi kuliah ya, secara harus ngambil masternya tekim deui. Saya kan maunya sastra, sejarah atau psikologi aja atuh lah hihi, kayaknya fun gitu. Bismillah saja lah. Semoga bisa lancar sekolahnya, dan lulus tepat waktu, lebih penting lagi ilmunya barokah. Aaaamiiinn YRA.

Soal sekolah ini, ada rasa bersalah juga karena di kantor lagi kurang orang sebenarnya. Tapi ya, saya sudah lelah diteror “Kapan sekolah lagi?” Dan selain itu kondisi kantor juga lagi rada nggak kondusif karena mau ada reorg dst dll dsb, jadi mending sekolah dulu. Nanti kalau sudah stabil, kan kerja juga enak. (ciye kabur MODE ON niye).

Satu lagi yang akan menambah keistimewaan bulan Agustus adalah, batita saya insya ALLOH akan genap 3 tahun dan masuk era balita. Begitu cepat waktu berlalu, rasanya baru kemarin dia hadir di keluarga kecil kami. Mungkin sudah waktunya juga merencanakan punya another baby. (lalu hening) Hihi. Semoga sehat selalu ya, Nabila tersayang, juga ayahnya, si Ayah tercinta. Kehadiran kalian adalah anugerah terindah dalam hidup saya. :*

…….

Jadi, begitulah cerita saya di bulan Agustus ini. Bagaimana dengan ceritamu?

Advertisements

Posting Geje di Hari Kejepit

Wow.

Rada terhenyak juga saya waktu menyadari kalau blog ini terakhir diisi tahun lalu. Tahun lalu mboookk.. Kalau rumah udah jadi apa tau tuh, lumutan dan banyak sarang laba-laba ‘kali ya.

Hmmmmm.. Tapi trus balik lagi. Bingung mau nulis apa.

Sudah setahun berlalu, dan saya masih disini. Di kantor saya yang letaknya di ujung dunia, masih harus tabah mengukur jalan 3 jam perhari dari rumah-ke kantor. Itu durasi minimal ya, tolong dicatat :P. Kenapa belum pindah rumah, itu masalah piti dan kemantapan hati hehe.

Masih jadi staf peneliti dengan berbagai aktivitas sampingan apapun, kadang merangkap staf pembelian, staf administrasi, staf analis, staf ahli (eh nggak ding), staf apapun lah yang diminta si bos, asal ga diminta bikinin kopi aja deh.. lah emangnya saya opisboi. Masih belum sekolah. Masih suka galau karena berbagai sebab dan kadang tanpa sebab (eh! hehe).

Yang paling sering bikin saya galau adalah, instruksi bos untuk memperdalam ilmu. Bukannya saya nggak mau. Mau banget dong. Secara sebagai peneliti, ilmu saya masih super cetek. Tapi kalau disuruhnya pergi 3 bulan meninggalkan keluarga ya saya galau berat lah. Keluar negeri pula. Terakhir kemarin adalah kali kesekian. Saya diminta apply visit research dengan sponsor NEF, ke Jepang. Mau langsung nolak kok kayak minta dijambak, eh dipecat. Bolak balik kok bilang nggak melulu. Boss saya pasti super gemes ya. Ya saya paham, kondisi di kantor pasti butuh banget penguatan kompetensi SDM-nya, biar kualitasnya nggak kayak saya sekarang ini, yang apa-apa nggak tau. Kalau generasi di atas saya sudah pensiun semua, trus mau jadi apa? Tapi saya ini perempuan, yang kebetulan nggak kayak wanita pekerja lain, ambisi di karirnya nggak menggebu-gebu. Prioritas saya adalah keluarga, sampai kapanpun. Itu kenapa saya waktu milih sekolah lagi juga yang lokasinya dekat (mudah-mudah keterima, anyway). Jadi… gimana kalau para profesor Jepang itu yang kesini bawa ilmu sama alat-alatnya yang canggih-canggih trus dihibahkan..? Haha, maunya mboookk.. Banguuun.., jangan ngelindur. Lha gimana? Trus ditambah lagi suami saya nggak (belum) ridlo, mosok saya nekat. Diridloi suami aja saya masih maju mundur buat berangkat…

Ya beginilah, saya masih gini-gini aja, tapi ya alhamdulillah masih bekerja, bantu-bantu kumpulin sekeping dua keping tiga keping rupiah buat keluarga, sedikit-sedikit semoga berkah. Aaamiinnnn..

Cerita apalagi ya?

…………………..

Cerita panci aja? Gak mau? Yakin? Saya baru beli panci baru loh. Ya trus? Hihi. Ya udah cerita inisial artis yang lagi heboh aja? Eh,masih di bawah umur? Jalak jambul kuning, mau? Cerita anak-anak yang ditelantarin di Cibubur? Mumpung saya baru diceritain temen kantor tadi pas makan siang? Gak juga? Garuk-garuk tembok………..

Ah ya sudahlah sekian aja posting nggak jelas saya ini. Semoga yang (kebetulan) baca nggak ikutan pengen garuk-garuk tembok. Saya mau bikin rencana jalan-jalan buat besok aja ahh…. Tapi nanti aja deh di bis jemputan. Sekarang balik kerja dulu. Eh tapi mau ke belakang dulu ah… 😛

Au revoir my blog.

Ayah, PNS dan Hatta

Ah ayah.. Serius deh, kamu harus berterima kasih sama pak Hatta.

Hatta? Hatta yang mana?

Yang ini…

scan0001

Lho, emang kenapa?

Karena kalau saja aku belum membaca tentang beliau, mungkin aku akan bersungut-sungut  dengan keputusanmu ikut mendaftar jadi PNS dan lalu diterima.

Karena membaca pemikiran-pemikirannya, pemikiranku pun mulai berubah, yah. Kalau memang pengabdian menjadi panggilan hidupmu, aku tidak akan menghalangi. Meski itu mungkin berarti bahwa ekonomi kita akan begini-begini saja sampai nanti, aku akan ridlo. Semoga ALLOH meneguhkan selalu hatiku ini untuk mendukungmu.

Pak Hatta saja, sang proklamator, wakil presiden merangkap menteri luar negeri,  nggak sanggup beli sepatu Bally yang sangat diidamkan hingga beliau meninggal. Padahal kalau mau, tinggal telepon, pasti itu sepatu sudah siap dikenakan. Semasa pensiun, uang pensiun beliau hampir-hampir tak cukup untuk membayar listrik! Semata-mata karena kejujurannya dan keteguhannya untuk tidak “memanfaatkan” jabatan untuk hal-hal pribadi.

Dari Hatta, saya diingatkan kembali bahwa sungguh pengabdian itu bukan hal yang abstrak. Bukan semata bullshit seperti orang-orang bilang. Idealisme pengabdian itu nyata.

Jika mau, seorang Hatta bisa jadi pedagang besar. Sejak lahir pun keluarga besarnya adalah kalangan saudagar yang sukses.

Jika mau, Hatta bisa menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan gaji berkali-kali lipat dari kepala sekolah yang kewarganegaraan Belanda sekalipun. Tapi tidak. Beliau memilih memperjuangkan bangsa ini. Rela dipenjara berbulan-bulan di Belanda karena aktivitas perjuangannya yang gagah berani di jantung musuh.

Kembali ke Indonesia saat bung Karno ditangkap Belanda, beliau tetap lantang meneriakkan gelora perjuangan. Akibatnya, beliau pun ikut dibuang ke Digul, Tanah Merah yang kala itu terkenal angker dan merupakan daerah endemik malaria.

Ujung pengabdian beliau pun tak kalah epic. Beliau rela mundur dari kedudukannya sebagai wakil presiden kala idealismenya memperjuangkan nasib rakyat terbentur oleh sahabatnya sendiri. Sang dwitunggal pun pecah. Namun beliau tetap tak berhenti. Beliau terus gigih bersuara. Mensosialisasikan koperasi. Memberi masukan-masukan pada pejabat pemerintah yang sedang berjalan meski banyak yang diabaikan. Beliau awalnya berharap banyak pada pemerintahan Orde Baru, yang pada akhirnya juga mengecewakan.

Kecintaan yang tak pernah luntur pada bangsanya, tak terbendung meski nyawa sudah tak dikandung badan. Beliau memilih untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, TPU Tanah Kusir, semata karena ingin selalu dekat dengan rakyat yang sangat dicintainya.

Idealisme pengabdiannya begitu nyata dan semestinya dikobarkan kembali di benak generasi muda bangsa ini termasuk dan terutama para penyelenggara negara.

Itulah kenapa yah, aku bilang bahwa ayah harus berterima kasih pada pak Hatta. Sebab dulu, aku selalu berpendapat bahwa seorang lelaki tak sepantasnya menjadi PNS karena gaji yang pas-pasan, padahal seorang lelaki adalah tulang punggung keluarga. Bahasa kasarnya, harus mencari uang sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan keluarga. Apalagi hari gini, apa-apa mahal. Naudzubillahi min dzalik.. jangan sampai jika suatu ketika perlu uang, nggak ada, terus korupsi. (knock2 wood)

Kini aku sudah berubah yah. Terserah apa kata orang. Insya ALLOH materi bukan lagi pertimbangan utama. Aku tak akan menuntut ini itu di luar kemampuan kita. Semoga kita bisa istiqomah ya yah, menjadi PNS yang amanah.

Mama pesan ya yah, jangan pernah.. Jangan pernah terpikir sedetik pun memberi keluargamu uang atau apapun yang bukan hakmu. Bukan semata karena dikutuk masyarakat, bertentangan dengan nurani, ataupun mengkhianati negara. Tapi karena ALLOH Maha Melihat dan Mengetahui.

Di tengah semua polemik yang mungkin terjadi, karena politik birokrasi bisa sangat rumit, aku selalu berdoa agar Ayah bisa memberi sumbangsih yang terbaik untuk bangsa dan negara ini,  serta selalu dilindungi ALLOH dari apapun : bisikan setan, pengaruh jahat, rekan/atasan yang (bisa saja) busuk, apapun. Aaamiiin..

Snowball, Bayern Muenchen dan Fostress Marienberg

Lepas seharian putar-putar kota dan pusing mencari souvenir yang cihuy tapi murah, malam itu kami pun tumbang kecapekan. Makan malam seadanya. Untung masih agak kenyang habis late lunch di McD. Untung lagi kawan saya bawa aneka kue kering, ada sari roti juga (go international ni ye), mie gelas, energen.. Kami libas aja semua. Tapi air minum menipis, mau tak mau kami meluncur ke minimarket dekat hotel. Lumayan harganya lebih murah daripada di stasiun. Dengan 2,5 euro dapat dua botol besar merk Nestle ukuran 1,5 liter. Masih dapat kembalian pula beberapa sen. Dengan uang segitu, di stasiun cuma dapat sebotol. Bayangkan! Air mineral doang! *garuk-garuk tembok*

Lucunya lagi, waktu mau nyeduh mie sama energen, ternyata hotel nggak menyediakan room service. Jadi kami musti turun ke bar buat minta air panas dan habis itu kita tenteng-tenteng aja gitu ke kamar. Dapatnya cuma secangkir pula. Yaelaah..

Malam pun berlalu dengan damai. Masih juga bangun dini hari tapi berusaha tidur lagi meski jadinya tidur-tidur ayam.

Pagi akhirnya datang setelah penantian yang panjang. Langsung kami sambut dengan sarapan semaksimal mungkin. Lapar berat bok. *nyengir*

Pict 040Mari sarapan sekenyang-kenyangnyaaa… ^O^

Usai sarapan, lanjut bertualang lagi. Misi harus tuntas hari ini karena besok sudah harus pulang. Misi apakah gerangan? Itu lhooo.. Cari souvenir buat orang kantor. Bikin frustasi deh, kok gak nemu-nemu yang murah gitu. Satu euro-an gitu. *medit to the max*. 😛

Kami pun balik ke tourist information dan.. membuat mereka shock karena setelah kemarin borong snowball 9 biji dalam 2x kunjungan (sebelum dan sesudah city tour), hari ini beli lagi 4 (buat saya doang), saya lupa deh kawan saya jadi beli lagi apa enggak. Beneran tuh pegawainya sampai gak percaya, “snowball again? really?” haha..

instaweather_crop_20131204_185933Phenomenal snowball ^,^

Pict 204

Menuju tourist information

Selain itu masih balik lagi ke pasar mencari aneka magnet tempelan kulkas dan gantungan kunci khas Wurzburg, sama masih usaha mencari kaos bola untuk para suami. Pas kami nanya orang belinya dimana, malah diomelin karena menyebut-nyebut Bayern Muenchen. “We don’t really like them.” Ups, mungkin semacam nyari kaos Persija tapi di Bandung dan nanyanya ama bobotoh. Yaelah.. Salah lagi..

Pict 207Baby in cocoon.. so cute with his red nose *smooch* Yang kayak gini banyak banget dijumpai di pasar. Ibuknya santai aja belanja, kadang kepala si bayi sampai udah mengsle-mengsle di dalam stroller hehe.. Padahal udara lagi dingin-dinginnya loh.

Perjalanan berlanjut. Kami berniat menaklukkan Fostress Marienberg yang letaknya di seberang sungai Main. Rute bis yang biasanya menuju kesana hanya beroperasi hingga Oktober dan libur selama musim dingin. Padahal si benteng ini adanya di atas bukit. Jalan kaki mendaki? Yuuuk..

Pict 210Di depan patung ikon kota Wurzburg

Diawali dengan melintasi jembatan di atas sungai Main. Jembatannya cantik, dihiasi beraneka ornamen dan patung-patung ala Eropa jaman dulu. Trus ada krencengan gembok banyak banget, yang ternyata memenuhi mitos setempat dimana jika kita pasang gembok bertuliskan nama kita dan pasangan, hubungan kita bakal langgeng. So, yang masih suka percaya mitos, nih banyak temen ente di mari. Gemboknya banyak banget bok.

Picture 250Salah satu krencengan gembok di jembatan

Jalan menuju benteng sungguh mendaki dan berkelok. Angin hari itu juga lebih kencang dan dingin dari hari sebelumnya. Brrr..

Pendakian tahap satu selesai. Eh tapi habis itu pakai salah ambil rute. Malah mengikuti jalur bis yang lebih memutar. *gara-gara saya ini sih :-P* Makin lama jalan makin sepi hingga akhirnya kami  memutuskan untuk menyudahi saja. Kaki sudah sakit dan benteng yang dituju masih jauh. Masih setengah perjalanan. Terutama membayangkan perjalanan pulangnya nanti, bisa ngesot-ngesot deh. Taksi meskipun ada tapi sangat jarang yang sampai ke bukit.

Pict 247Langit gelap meggelayuti Wurzburg.. So gloomy..

Benar saja, padahal baru setengah jalan, tapi perjalanan pulang sudah terasa panjang dan melelahkan. Setiba di hotel rasanya sudah pengen rebahan saja di kasur sampai pagi. Alhasil kita pun ketiduran dan bangun-bangun kelaparan. Solusinya adalah melibas sisa stok makanan kawan saya. Daripada dibuang. Masa iya dibawa balik ke Indonesia? *cari pembenaran* XD

Paginya sarapan maksimal lagi lalu lanjut jalan-jalan ringan untuk menghabiskan waktu. Rencana untuk extend di hotel sampai sore pun buyar karena semua kamar sudah fully booked. FYI, disini jam 12 musti udah check out. Tadinya kita mau extend beberapa jam karena pesawat kita jam 10 malam. Daripada berlama-lama menunggu di bandara, kan mending bobok-bobok santai di hotel. Sayangnya misi gagal.

Jam 11.30 kami pun terpaksa check out dan langsung ke halte bis terdekat di Kulturspeicher untuk naik bis ke Wurzburg Hbf. Murah meriah lho dibanding jika naik taksi, hanya 2,5 euro buat berdua. Ya memang jaraknya dekat. Masih kalah murah dengan metromini dan kopaja yang cuma bayar 3000 saja sudah sampai ke ujung dunia. Haha.

Di stasiun Wurzburg, salju yang mulai turun dari pagi mulai melebat. Disertai angin yang berhembus kencang, super duingiinn. Tapi happy sih, akhirnya bisa merasakan salju yang ternyata kayak debu tapi dingin haha. Meski begitu, saya berharap di Frankfurt cuaca cerah sehingga penerbangannya nggak pakai delay. (alhamdulillah ini dikabulkan)

Perjalanan dari Wurzburg Hbf ke Frankfurt Flughafen berjalan lancar meski lagi-lagi kami nggak dapat tempat duduk. Fully reserved katanya. Aaarrgghh.. Sempet nekat duduk di kelas 1, eh ketahuan lho. Ya sudahlah, berdiri lagi di sambungan peron. *tutup muka*

Proses di bandara berjalan lancar. Cuma sepatu saya ini sungguh merepotkan karena nggak pernah lolos dari metal detector. Mungkin karena desainnya memang ada logamnya supaya kuat. Tapi jadinya saya musti bolak-balik copot sepatu. Nggak di Soetta, Abu Dhabi sampai Frankfurt. Yatapi masih mending. Ada ibu-ibu yang nggak lolos metal detector karena branya pakai kawat. Gimana tuh? Untung saya masih ingat untuk menyisakan bra tanpa kawat untuk dipakai saat pulang. Kawan saya sampai bela-belain nyuci malem-malem dan dikeringin pakai hairdryer *eh*

Masih dengan Etihad dengan announcement “wusss..wusss..wusss..syukron”-nya. Alhamdulillah bisa makan tanpa was-was soal kehalalannya. Transit lagi di Abu Dhabi selama hampir 4 jam. Sempat disambut calo (atau petugas?) untuk transit ke Doha. Eciye dikira PRT bok. Apa mau dikata, dari segi tampang sudah cocok. *nyengir*

Kami akhirnya sepesawat juga dengan para pahlawan devisa tersebut (yang mau balik ke Jakarta). Mereka seat-nya di bagian belakang jadi nggak bisa ngobrol. Ya lagian sudah capek juga, nggak mood ngobrol, bawaannya pengen merem aja. Tapi mungkin karena ada para TKW itu, akhirnya kami dilayani awak pesawat yang berbahasa Indonesia. Dan announcement juga ada versi bahasa Indonesia-nya. Sesuatu banget deh. Haha.

Ehtapi jangan salah, para TKW itu bahasan obrolannya sudah soal emas lho. Keren ya. Kalah deh saya, yang obrolannya masih berkisar di harga cabe dan sembako!

Perjalanan ke timur menyambut matahari ini pun berakhir di Soetta menjelang tengah malam. Suami pun sudah menjemput.

Ya. Welcome back to reality in Jakarta. Sweet memories will remain though. Au revoir, Europe. Hope someday I’ll be back again, but at that time, I am going to have fun trip with my beloved family. Aaamiinn. (Dengan ini menerima donatur untuk keperluan di atas. Terima kasih) *nyengir*

Wurzburg City Tour \^O^/

So, lanjut ke cerita training ya! Jadi, akhirnya kami dijemput menuju kawasan kantor & manufakturi….ing… EH, KOK UDAH PADA NGUAP BACANYA? Ini beneran mau tau cerita saya pas training nggak sih? Hah, enggak? Bosenin? Yaelaaah.. Trus maunya gimana? Skip aja? OKE kalau maunya situ gitu! *ala sinetron*

Long story short. Kami harus meninggalkan Lauda karena training sudah berakhir. Meski begitu, kami ada dikasih waktu ekstra untuk jalan-jalan. Ya secara, sudah jauh-jauh kemari gitu lho. Cuma karena Lauda ini super sepi (harus berapa kali saya ngetik fakta ini sih? :P), kami disarankan untuk eksplor kota tetangga yang lebih besar. Maka siang itu meluncurlah kami ke Wurzburg dengan naik kereta. Pak Phillip dengan baik hati mengantar kami ke stasiun. Perjalanan sampai di stasiun hanya sekejapan mata, dan pak Phillips pun dengan baik hati membimbing kami membeli tiket di vending machine. Jadi nggak bingung lagi seperti waktu di stasiun Frankfurt dulu itu. XD Perjalanan menuju Wurzburg berjalan lancar tanpa drama. Dari stasiun kami jalan kaki menuju hotel, yang waktu itu terasa lumayan jauh soalnya masih mencari-cari juga jalannya. Jadi rasanya nggak ketemu-ketemu. Jauh pisan euy! Untung sepanjang perjalanan bertemu dengan bangunan-bangunan yang indah, lumayan terhibur jadinya. Pict 008  Picture 072 Dan hari pun begitu cepat menggelap. Perut mulai teriak-teriak minta diisi. Akhirnya meski capek, mau tak mau kami keluar. Di tengah angin yang berhembus dingin, kami terdampar di kedai pizza ekspress dan pesan takeaway buat dimakan di hotel. Dan setelah makan, zzzz… teler semua, kecapekan. 😛 Esok harinya, kami nekat menjelajahi kota. *Ya menurut lo, jauh-jauh kesini trus bobok-bobok manis aja gitu di hotel? wkkwkwk* Berbekal petunjuk di internet, kami pun mencari tourist information yang lokasinya dekat dengan Dom St Killian, salah satu site wisata disana. Yang mana ternyata dekat sekali dengan pasar tradisional disana. Yay! Picture 164 Picture 166 Picture 173 Pasarnya cantik, bersih dan gak becek *eaaa* Soalnya cuma jual sayur mayur, buah, pakaian, dll yang kering-kering. Gak ada tuh yang jual daging/ayam/ikan yang kadang bikin becek dan bau. Daging dan sebangsanya dijual di toko khusus. Tapi yang asoy adalah harga2nya. Tomat aja sekilo bisa sekian2 euro. Lah di Jakarta paling juga ga ada 16.500 rupiah (1 euro) ‘kali.. Ya gak? Masak tomat harganya sama dengan apel? Apa disana susah kali ya nanem tomat? (bu, terus aja tuh bahas tomatnya, wkwkwk) Tapi seru sih. Apalagi menjelang natal gini, pasar jadi meriah dengan aneka keperluan natal. Hiasan pohon natal, aneka dekorasi rumah, perlengkapan baking buat bikin kue2 natal, etc.. Etc.. Pasar juga jadi berdandan cantik. Balik ke rencana jalan-jalan.. Di tourist information, kami mendapatkan city map yang akhirnya menjadi panduan kami untuk tur keliling kota. Di situ juga jual souvenir yang akhirnya kami beli buat keluarga&teman di tanah air. Usai keliling pasar, kami pun lanjut untuk jalan kaki mengikuti rute City Tour sebagaimana yang ada di peta. Wurzburg benar-benar kota tua yang indah. Kotanya kecil, namun bangunannya benar-benar klasik, terpelihara keasliannya. Mungkin kalau mau renovasi juga tidak boleh mengubah wajah asli bangunan, ‘kali ya. Rute city tour mencakup kunjungan melintasi kota melewati site-site bersejarah, berawal dari tourist information dan berakhir lagi disana pula. Cuaca yang dingin dan suasana meriah menyambut natal membuat langkah kami ringan berjalan kaki luamayan jauh. Apalagi kotanya teratur ya. Ramah pejalan kaki pokoknya. Jadi kami enjoy saja. Nggak kebayang kalau harus tur keliling Jakarta jalan kaki. Ya, abaikan kotanya yang luas. Tapi coba deh, jalan kaki dari Monas ke bunderan HI. Deket kan? Tapi mau nggak sampeyan? Dijamin ogah. Sudahlah panas gremobyos, jalan di trotoar pun bisa ketabrak sepeda (penjual kopi) atau motor (nekat). Menyeberang jalan juga musti ekstra hati-hati. Wah.

Pict 107Pict 108 Juliuspital

Picture 214Kemegahan the Residence yang konon masuk dalam Unesco Heritage

Picture 211Keren mana saya sama patung yang di belakang ini? Pasti saya dong? Ya kan? Absolut ya kan? Hihihi..

Lauda part 2

Perbedaan waktu 6 jam antara Jakarta-Lauda rupanya membuat ritme tubuh saya bingung. Alhasil, meski saya termasuk jago tidur, selama di Eropa ini saya selalu terjaga antara jam 2 – 3 pagi dan seringnya susah tidur lagi. Tubuh saya telanjur tahunya di jam segitu tuh sebenarnya sudah jam 8 atau 9 yang artinya sudah bukan waktunya tidur.

Tapi, gimana doong? Di luar masih gelap gulita. Seperti cerita saya sebelumnya, di sini matahari baru keluar pukul 8 pagi (yang artinya jam 2 siang di Jakarta). Ya sudah.. Mungkin ini waktunya saya untuk.. whatsapp-an sama suami! Yay!

Untuk komunikasi selama saya jauh dari keluarga ini, saya memang hanya mengandalkan wifi gratisan dari hotel. Memaksakan pakai telkomsel? Oh my… Big no! Sudah dari saya tiba, telkomsel dengan baik hati memberitahu saya tentang tarif roaming. Yaitu sbb.

Plgn Yth, Anda roaming di Germany. Tarif Telp ke Indonesia Rp.50 rb/mnt, SMS Rp.10 rb/SMS & Data Rp.2.000/10Kb.Info lbh lanjut, hub 1111/+628110000333

Super mahil, yes? Jadi tentunya ini bukan opsi yang bijak.

Bagaimana dengan beli simcard operator lokal, let’s say vodafone? If we stay a little longer, mungkin bisa juga. Tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya belum perlu. Jadi, no. Bukan opsi yang dipilih juga. *emak medit*

Alhasil selama di Eropa, saya intens komunikasi hanya dengan suami saja. Lewat whatsapp. Lain-lainnya seperti: titip pesan ke teteh, tanya-tanya kabar ke Akung, nanya perkembangan Lala (maemnya, boboknya, pupupnya, mainnya, rewel/enggak, dll), minta foto orang rumah (ofkors especially my lil princess)… semuanya lewat suami saya.

Syukurlah selama saya tinggal, putri kecil saya manis sekali. Tetap dengan pola keseharian dia. Nggak pakai nyariin mamanya sampai ngamuk/tantrum. Memang sih, setiap maghrib dia selalu heboh minta bukain pintu depan setiap kali gerbang utama dibuka. Dia hafal, jam segitu mama biasanya pulang. :’) Eh ternyata bukan mama, tapinya eyang atau tetangga paviliun sebelah. Nangis dikit, rewel dikit, tapi masih tahap wajar.

Di malam hari, Lala bobok dengan ayahnya. Tiap kali bangun malam (sekitar jam 1), ayahnya akan gendong dia, bikin susu sambil Lala-nya lihatin ayah nyeduh susu, trus habis minum susu dia akan langsung bobok lagi. Kalaupun nggak bisa langsung bobok, paling digendong sebentar, trus udah merem lagi. Sweet girl. And dependable husband. So grateful having them in my life. Really missed them. Wish I could fly away to my comfy home, hugging and kissing my beloved ones..  *XOXOXO*

IMG-20131203-WA0021

IMG-20131204-WA0016

IMG-20131204-WA0000

Okay. Enough dengan mellow mode.

Lanjut cerita soal Lauda saja.

Penantian yang panjang menunggu terbitnya matahari, berhasil dilalui dengan whatsapp-an sama suami, kirim foto pakai instaweather (pamer suhu yang nyaris minus ke suami wkwkwk) dan nonton tivi yang mana nggak ngerti juga bahasanya, haha. Ternyata, sinetron nggak cuman ada di Indonesia, bok. 😛

Pukul 6.00, lapar mulai mendera. Saya dan kawan saya pun memutuskan untuk turun sarapan. Brrr… dingin sekali di luar. Gelap sekali cyn.

Perlahan langit memerah jingga dan matahari pun muncul.

Picture 042

Usai menikmati sunrise (apa seh?! wkkwk) kami pun lanjut sarapan dulu. Yang mana ternyata restoran masih sepi, belum ada orang. Ngopi-ngopi pun jadi pilihan biar mata melek. Dan selanjutnya, bingung makan apa. Daging-dagingan tentu tak berani sentuh. Roti-rotian saya kok kurang berselera, soale keras dan dingin. Akhirnya salad buah jadi pilihan, dan lalu lanjut ke sereal dengan susu dingin. Hiks. Apa kabar bubur ayam anget? *dadahdadah*

IMG-20131203-WA0016

Saat kami hampir usai sarapan, tamu-tamu lain baru pada berdatangan. Yaelah.. ternyata emang kepagian bok! Haha.

Yasudah lah, mumpung masih ada waktu senggang sebelum dijemput training, kami pun foto-foto dulu.

Picture 033

Picture 028

Pict 015Usai beberes dan mandi, pukul 09.00 teng kami sudah siap meninggalkan hotel untuk training.

Bismillahirrahmaanir rahiim.. ^O^

Sepenggal Cerita di Lauda

Hari begitu cepat berlalu di Lauda. Ini harafiah lho. Gimana enggak, waktu kami baru datang, matahari sudah tenggelam dari jam 16.30. Terbit lagi keesokan harinya pukul 8.00. Benar-benar, malam yang panjang bukan hanya malam Minggu. 😛

Siang itu, setiba kami di hotel, kawan saya yang langsung telepon ke perusahaan tempat kami training alat. Bukannya kenapa, bahasa Inggris dia lebih advance daripada saya. *nyengir* Jadwal kami yang mustinya dimulai siang itu, akhirnya diundur hingga keesokan harinya. Sebagai gantinya, mereka mengundang kami dinner. Undangannya pukul 18.00 yang mana ternyata sudah gelap gulita. Kirain masih maghrib. Haha.

Pukul 18.00 kami standby di restoran bawah. Info tambahan, kamar kami di lantai 3. Tambahan lagi, kawan saya ini cantik lho, alias sesama cewek. Jadi disewain kamarnya model studio gitu, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang duduk lengkap dengan kitchen set, plus ada balkonnya. Info lagi, nggak ada lift. Untung pak supir yang jemput kami, mau bantuin mengangkat koper. Dan dia langsung angkat itu dua kopor segede-gede gaban dalam sekali naik. Giliran mau kasih tips, kitanya bingung. Disono model nggak sih kasih tips, takutnya malah tersinggung. Akhirnya malah nggak ngasih :(.

Pak Phillip dan Miss Regina tiba sesaat setelah kami turun. Syukurlah mereka lumayan jelas bahasa Inggrisnya jadi kuping ndeso saya ini lumayan bisa mengikuti pembicaraan. Wkwkwk..

Dinner berlangsung dalam suasana bersahabat, ditambah dua lagi tamu kenalannya pak Phillips yang kebetulan ada di restoran yang sama. Btw, kita dinner-nya di restoran hotel. Yang mana menjadi jelas alasannya, jika pembaca sudah baca posting sebelum ini. Tak lain tak bukan, karena Lauda kotanya super sepi. Jadi mungkin resto hotel ini salah satu yang lumayan hits (apa seh? haha)

ImageDemi kehati-hatian, meski saya penyuka daging-dagingan, saya pesan prawn spaghetti saja. Yang mana saya langsung kenyang begitu dia datang dalam mangkok besar yang cukup untuk dimakan bertiga. Oh.. not again! Ada apa sih dengan orang Eropa dan porsi besarnya ini? Mungkin memang karena postur mereka tinggi besar, jadi ukuran lambung mereka juga besar ya. Sedangkan saya, di Indonesia saja tergolong mungil.

Kawan saya mengalami masalah serupa. Dia justru lebih parah karena memesan daging rusa, yang katanya rasanya aneh, dan sudah begitu sausnya juga aneh. Dan dalam porsi besar! Belakangan, dia mengaku tak sanggup menghabiskan hidangan itu. Yang dengan segera saya pun ikut jujur ke pak Phillips sebagai tuan rumah, bahwa saya tidak bisa menghabiskan spaghetti saya. *nyengir*

Herannya, kawan-kawan semeja kami kok ya bisa-bisa saja menghabiskan semua. Masih tambah sup pembuka dan dessert. Oh my God! *takjub*

Soal dessert ini, rupanya kawan saya tak cuma sekedar kenyang dengan hidangannya, tapi juga mual karena rasanya yang aneh. Makanya begitu dia langsung mau waktu ditawari dessert. Chocolate cake dengan ice cream. Dia pun memaksa saya agar mau sharing. Ini sempet disindir kawannya pak Phillip, “Cewek tu ya.. bilangnya kenyang. Tapi tetep aja mau dessert.” Hihi.. Pengalaman ya pak, kok curhat. 😛

Sayangnya jet lag membuat kantuk begitu cepat datang dan tak tertahankan pada saya dan kawan saya. Pak Phillip pun maklum dan kami boleh ke kamar lebih dulu kalau mau. Yang mana, tentu kami mau haha. Demikianlah makan malam kami di waktu maghrib itu. Selebihnya, mata tak mau kompromi. Dan..

Zzzzz..