Annoying Neighbours

Pagi-pagi saya sudah ribut dengan suami. Masalahnya sepele tapi sangat menjengkelkan. Air!

Bermula dengan hadirnya seorang tetangga baru di lingkungan kontrakan kami. Saya sendiri tidak terlalu mengenalnya karena rumahnya agak di belakang dan kami jarang bertemu, apalagi ngobrol. Terlebih dia juga tidak mengenalkan dirinya secara resmi ke kami-kami penghuni lama.

Saya sendiri sebenarnya termasuk seorang yang lumayan individualis. Saya tidak suka orang lain ikut turut campur dalam hidup saya. Kecuali segelintir orang yang saya ijinkan karena saya anggap pantas. Mereka adalah orang-orang yang saya nilai tulus mencintai saya, peduli dengan kebaikan hidup saya dan bukan sekedar kepo, usil dan rempong, selalu ingin tahu urusan orang.

Maka dari itu, saya juga tidak suka mencampuri urusan orang. Kecuali saya merasa cukup dekat dengannya, yang saya anggap sebagai bentuk cinta dan kepedulian saya <–pembelaan diri.  Okelah, sedikit-sedikit saya mengikuti perkembangan gosip selebritas di tivi maupun “selebritas” kantor. Tapi, selama orang tersebut tidak “menyenggol” kepentingan dan ego saya, ya… gosip hanya sebatas gosip ringan saat makan siang atau ngobrol sama sahabat saja. No heart feeling.

Permasalahan biasanya mulai muncul saat kepentingan dan/atau ego saya terganggu.

Seperti pagi ini.

Sudah beberapa hari jetpump di lingkungan kontrakan sering mati karena tegangan tidak kuat. Kontrakan milik pak Tekwan ini ada 5 rumah dengan satu meteran listrik, tapi terbagi dalam 5 MCB. Jadi masing-masing keluarga bisa mengatur kebutuhan listriknya sendiri. Kalau melebihi kuota ya, MCB akan bergerak Off dan listrik di rumah tersebut akan mati. Masalah tagihan listrik, itu soal lain karena pak Tekwan yang mengaturnya.

Nah, masalahnya adalah: jetpump untuk air kami ber-5 keluarga ini, menjadi satu dengan MCB rumah tetangga terbaru kami ini. Padahal tahu sendiri, tarikan jetpump ‘kan lumayan menghabiskan daya. Akibatnya MCB sering anjlok dan jetpump pun turn off. Selanjutnya, air pun mati. Nah, hal inilah yang lumayan menjengkelkan, terlebih selalu terjadi berulang-ulang. 2 menit nyala, 5 menit mati, dst.

Saya sempat berantem dengan suami karena hal ini. Saya kesal. Tapi suami malah terkesan membela sang tetangga dengan alasan kasihan. Sungguh tak masuk akal, sekalinya berantem, sumber permasalahannya malah orang lain!

Pagi ini lagi-lagi kejadian yang sama terulang. Saya yang panik karena bangun kesiangan, bertambah kesal tak terkira saat air mulai rewel. Belum lagi nyuci piring, masak nasi, ngisi bak mandi yang kosong. Lagi-lagi suami mencoba menenangkan tapi dengan cara yang menurut saya salah. “Kasihan lah Dinda, Ibu itu listriknya juga mati terus. Gimana coba kalau kita di posisi dia?”

Oh well, mencari masalah dia!

“Ya kalau aku di posisi dia, aku akan bilang ke pak Tekwan. Bukannya diam saja. Sudahlah diri sendiri terganggu, eh mengganggu orang lain pula! Kalau memang tak bisa diatasi lagi, ya pindah saja!” Saya merepet tak karuan. Sayang…. sayang.., kamu tuh suami saya atau suami-NYA? Jengkel betul saya.

Permasalahan tetangga yang menyebalkan bukan cuma sekali ini saya temukan.

Ada lagi tetangga, tepat di depan rumah saya, yang punya kebiasaan berantem antara suami-istri. Okee.., berantem dalam rumah tangga memang soal biasa. Silakan, mau dilakukan sesering mungkin juga tiada mengapa. Tapi, please, jaga suara Anda agar tidak jadi polusi di lingkungan. Hati jadi kebat-kebit juga mendengar berbagai kata-kata kasar ituu.. Bagaimana nanti jika saya sudah punya little baby? Bagaimana saya melindunginya dari mendengar kata-kata tak sedap itu?

Yang paling mengganggu adalah saat kemarin saya dan suami menggelar arisan di rumah, mereka mulai beraksi lagi. Good, you’ve made such a perfect decision to fight at this moment, neighbours! Saat kami ngobrol ringan sih, masih tertutupi lah badai kata-kata penuh amarah itu oleh tawa dan canda kami. Tapi, bayangkan saat sedang khusyuk-khusyuknya berdoa bersama dalam suasana yang relatif hening, suara mereka sangat jelas! Dan itu jelas sangat mengganggu.

Oh dear.., oh dear.., oh dear..

Hidup bertetangga ternyata membutuhkan kesabaran ekstra. Saya lebih respect ke tetangga-tetangga saya yang lain, yang meski saya tak kenal cukup dekat, setidaknya mereka tidak rese dan bertingkah annoying!

 

Arisan!

Bukaann.., saya bukan sedang ingin me-resensi film Arisan!, apalagi Arisan!2.. wong saya belum nonton. Pengen tapi nggak sempat, jadi terlewat. Lain kali saja pinjam DVD-nya.

Nah, yang mau saya bicarakan di sini adalah arisan keluarga yang mana saya dan suami baru saja jadi tuan rumah. Cukup sesssuatu kan ya.., mengingat saya kan ibu rumah tangga baru. Hehe. Arisannya kapan.., frustasinya udah sejak kapan.. Dari jauh-jauh hari pokoknya.

Check list pun disusun. Apa-apa yang perlu disiapkan dicatet satu-satu. Persiapan tempat, konsumsi dan aneka pritilan lain.

Mulai dari ngerancang menu. Minta pendapat suami. Minta pendapat kakak. Minta pendapat ibu, padahal belio nun jauh di kota berirama sana. Menu sempat berganti-ganti namun akhirnya fix : sup, bihun goreng, ayam goreng, tempe-tahu goreng dengan pelengkap sambel dan kerupuk. Snacknya bolu aneka topping, gorengan dan jelly dalam cup. (Sampai lupa tidak menyiapkan buah >__< )

Ok, menu fix. Saatnya menyusun daftar belanja. Belanja pun dilakukan pada H-1 supaya sayur mayur dan lauk tetap dalam kondisi segar.

Lanjuuutt adalah persiapan tempat. Pinjem tikar, beli kursi plastik untuk jaga-jaga tempat di dalam nggak muat sehingga sebagian tamu bisa kongko-kongko di luar, tentunya jika tidak hujan, lalu menggeser-geser perabot agar ruangan yang sempit bisa lebih longgar, dan mengepak barang-barang yang tidak diperlukan dan menumpuknya di atas lemari pakaian. Maklum deh rumah minimalis alias sempit syekalee. Memasang kipas angin tambahan supaya tamu tidak kepanasan mengingat kami belum ada rencana pasang AC.

Pritilan-pritilan lain pun harus dipikirkan.

Baju kotor yang menumpuk karena belum sempat dicuci (derita musim hujan) langsung diekspor ke laundry kiloan.

Karpet (akan) di-vacuum.

Piring-piring, sendok, dan garpu tambahan perlu segera dibeli juga plus tempat makanan dalam jumlah jumbo : mangkuk besar untuk sup dan pinggan untuk menaruh bihun. Cup-cup untuk jelly, jangan lupa.

Semua keberantakan di rumah – buku-buku, CD, segala macam kabel laptop dan hp – pun diamankan.

Rencananya, malam sebelum hari H akan ungkep ayam dan buat jelly. Tapiii karena badan rasa remuk redam, jadilah acara masak-memasak baru dimulai pagi-pagi nggak buta. Syukurlah acaranya dimulai siang ba’da Duhur. Jadi masih ada banyak waktu. Syukurlah juga bala bantuan datang pukul 10.00 pagi itu, kakak saya dengan suami dan ponakan kecil saya, jadi persiapan bisa lebih dikebut.

Hari H yang dinanti pun tiba.

Mendung menggayut sedari pagi. Sungguh tak bersahabat dan mengecilkan hati. Tak cukup dengan itu, gerimis mulai merintik pukul 09.30. Pasrah… pasrah.. kalau tamunya sedikit. Apalagi ini pertama kalinya saya dan suami narik arisan di rumah ini. Tentu tamu masih harus mencari-cari lokasi, meski sudah dibekali peta dan no hp suami saya.

Tamu pertama datang pukul 12.30, mbah-lik saya dengan istri, anak bungsu dan mantunya. Hujan masih terus merintik, kadang melebat kadang melambat.

Obrolan terus bergulir, tapi tamu lain tak juga hadir. Aw.. aw.. aw.. gelisah.. Arisan macam apa ini..?!! Snack yang terhampar di tikar pun merana, kesepian.

Untunglah sebelum tuan rumah patah arang, tamu berdatangan satu-persatu. Langsung semua dipersilahkan menikmati makan siang yang seadanya itu. Maklum lah masih amatir dalam bidang masak-memasak. Syukurlah nampaknya hidangan cukup laris juga. Jelas bukan karena rasanya seperti masakan ala chief di hotel-hotel, mungkin lebih karena udara dingin yang cukup me-lapar-kan perut.

Usai makan siang dan sholat Dhuhur dimulailah acara.

Pembukaan.

Lalu sambutan tuan rumah, yang dibawakan mas Bay dengan suksesnya *bravo sayang!! hihi..

Sambutan sesepuh, oleh mbah-lik saya itu.

Do’a bersama dibawakan om saya.

Penarikan arisan dengan diskusi penambahan nominal arisan di putaran depan (mengingat ini arisan terakhir di putaran kali ini).

Lalu penentuan tanggal dan tempat arisan bulan selanjutnya.

Lanjuuutt.., ngobrol-ngobrol.

Pukul 15.00 tamu-tamu mulai berpamitan. Untunglah tidak hujan.

Sore itu, saya dan suami, di tengah-tengah segala keberantakan sisa arisan dan bekas medan perang di dapur, saling toast dan ber-high-five : Yes, arisan kita sukses!!!

Hhhaaahaaa… >__<

Area X, Hymne Angkasa Raya

Buku ini merupakan salah satu favorit saya sepanjang masa. Campuran science fiction dengan pencarian jati diri, arti keluarga, cinta dan persahabatan, menjadikan buku ini sempurna.

Fakta bahwa sang penulis mulai menuliskannya saat duduk di bangku SMA, membuat saya lebih terpesona.

Novel dengan riset yang serius. Tapi tetap membumi.

Kategori : Fiksi

Rating : ***** (perfecto)

 

… Kita tak pernah benar-benar sendirian …

Selalu ada orang di luar sana yang akan memahami kita.