Kinda Bitter Situation

Di kantor akhir-akhir ini rasanya campur aduk.

Heboh orang wira-wiri, grubak-grubuk ngepak barang-barang. Angkut-angkut.

Kardus-kardus memenuhi space antar kubikel. Sesak.

Gerundelan orang-orang yang sebenarnya sebagian besar ga setuju kantor kita pindah ke manalah itu.., tapi ga berani bilang ke ‘atas’.

Diskusi-diskusi para lelaki yang bertabur asap rokok di pantry..

Kaset rusak, yang mana bikin geregetan hatiku geregetan… #ala sherina

Dan hari ini…

Siiingggg..

Unit sebelah yang selantai sama unit saya sudah hampir mati. Kosong. Sampah berserak dimana-mana. Mereka yang biasa ekapresif dan membahana, tak lagi terdengar suaranya. Meja kursi hening. Komputer pun sudah habis diangkut.

Rasanya nelangsa.

Teringat bahwa tak lama lagi, giliran saya tiba.

Terusir dari “rumah” sendiri.

Terlebih untuk sebuah alasan – atau jargon – yang agak mekso.

Di unit saya sediri, kehebohan ngepak sudah dimulai karena akhirnya kemarin kardus sudah datang-tak-diundang-dan-pengennya-langsung-taktendang dhuellll yang jauhhhh jadi ga bisa balik lagi #omongan orang stress

Berusaha ikhlas… Tapi sulit…

Berusaha menikmati… Tapi ini pahit, jendral!

Berusaha melihat dari sisi positifnya… Tapi ga ketemu-ketemu…

Berusaha memahami dan mengambil hikmah… Tapi hikmah yang manaaaaa?

Semua keberantakan ini, tak juga bisa saya pahami. Untuk apa? Atau demi siapa? Mudah-mudahan memang untuk kebaikan bersama (pada akhirnya, entah kapan).

Semoga.

#masih belum ikhlas huks 😥

10 Days to Six Months

Yup, hari ini tepat 10 hari menuju ulang bulan princess yang keenam. Alhamdulillah, dia tumbuh sehat, aktif dan cantiiikk.., membuat ayah dan mamanya tergila-gila. Hehe.. Belakangan ini dia sedang senang-senangnya guling-guling. Tengkurep, balik, tengkurep, balik lagi tau2 udah di lantai aja, ngga di karpet. Hmmmppp..

Menjelang 6 bulannya princess, saya mulai sibuk cari info tentang pengenalan makanan padat sebagai pendamping ASI. Browsing sana-sini dan kena “racun” gramedia, saya akhirnya juga beli buku Makanan Sehat Untuk Bayi karya pak Wied Harriaji.

Dari berbagai sumber yang ada, saya jadi tahu manfaat pemberian MPASI buatan rumah (home made) dibanding makanan instan. Here they are.

  1. Mencegah anak menjadi picky eater alias pilah-pilih makanan. Memberikan aneka olahan bahan makanan tanpa gula-garam-penyedap rasa akan melatih lidah anak untuk menikmati cita rasa alami makanan. Dengan demikian, saat dewasa kelak dia lebih mampu menikmati makanan apapun. Sedangkan jika bayi terbiasa diberi makanan instan yang memang super uenak itu, ada kemungkinan bayi jadi tak suka sayuran (yang rasanya hambar).
  2. Variatif. Kita bisa memakai aneka bahan pangan yang tersedia di sekitar kita. Bahan lokal akan lebih baik lagi. Tentunya dengan tahapan-tahapan tertentu sesuai usia bayi.
  3. Kita bisa mengontrol apa yang boleh dan tidak boleh ada dalam makanan. Tentunya, bebas MSG dan juga pengawet.

Membaca semua itu di literatur membuat saya pengen sekali bisa memberikan princess MPASI homemade. Terutama bagian picky eaternya itu. Saya maunya anak saya doyan semua : sayuran, buah, daging, ayam, ikan… Tentunya yang halal.

Namun, saya meragukan kemampuan saya sendiri. Selama ini, untuk makan keluarga kecil kami saja, lebih sering jajan daripada masak.

Waktu yang sempit menjadi kendala utama. Pagi2 jam 6 lebih dikit saya sudah harus mejeng di pinggir jalan menunggu bis jemputan kantor. Sedangkan subuh2 tuh justru jadwalnya  princess bangun dan minta mimik. Lama pula mimiknya. Saya juga musti nyiapin segala pritilan mimiknya princess, baju2 untuk dibawa mengungsi ke rumah budhenya (princess dimomong di sana), belum lagi alat tempur ASIP saya. Memang sebagian mestinya bisa saya siapkan malam harinya, tapi doohh..kalau udah ngelonin princess tu mamanya suka kebablasen tidur.

Sore setiba saya di rumah, princess langsung sama saya dan pengasuhnya pun pulang. Untuk bisa masak, saya harus ngeloni princess dulu sampai tidur karena dia lagi ngantuk2nya. Sementara princess sensitif banget. Meski udah merem, saya mingsret bentar aja dia langsung “ihik ihik…” minta dikelonin lagi.

Alhasil, tenaga saya kadang udah tinggal sisa2 aja dan jadinya ga mood. Kalau dipaksain masak, hasilnya malah ga maksimal alias ga enak. Alasan lainnya, kemampuan masak saya sungguh cetek. Aduh.. Kasian ya suami saya.. Hihi..

Jadi pertanyaannya.. Bisa apa saya nyiapin MPASI sendiri?

Ada beberapa solusi yang saya bisa coba, ternyata.

  • Masak dengan slow cooker.
  • Masak dengan metode gravy trus dibekuin.

Sekarang masih tahap kumpul2in info tentang dua metode di atas. Toh untuk pengenalan pertama, princess baru akan saya berikan puree buah saja. Yang tak perlu dimasak hehe.

Lagipula saya masih harus galau.

Belakangan ini, produksi ASI saya turun lumayan signifikan. Entah kenapa. Paling perih kalau sekali pompa cuma dpat 30 ml. Kepala langsung cekot2 hehe. Jumat kemarin bahkan saya memutuskan pulang kantor lebih awal cuma karena susu princess habis. Gimana nggak galau. Udah gitu, nampaknya princess sedang dalam fase growth spurt. Wiken yang saya rencanakan untuk pompa-pompa-pompa kumpulin stok ASI, gagal total karena princess mimik-mimik-mimik tak henti2.

Masih berusaha keras agar princess lulus ASIX.

Tapi, saya butuh masukan nih. Kalau benar-benar tak bisa lagi, mending saya beri sufor apa MPASI dini ya? Gimana nih bu-ibu?

Rule of Thumbs of ASIP

ASIP atau ASI Perah merupakan alternatif bagi working mom seperti saya agar bayi tetap mendapat nutrisi sempurna selama masa ASIX. Namun, buat ibu-ibu rumah tangga pun, dianjurkan untuk memiliki stok ASIP untuk berjaga-jaga pada berbagai kondisi darurat seperti : harus keluar rumah beberapa saat dan bayi tidak dibawa, ibu sakit sehingga harus dirawat di RS, dll.

Perlengkapan tempur :

  1. Niat yang kuat.
  2. Dukungan dari keluarga terutama suami.
  3. Ilmu yang memadai dan terus di-update.
  4. Pompa ASI. Jenis dan merk-nya sangat beragam, dari yang manual hingga elektrik. Yang paling hits adalah Medela Harmony yang menurut testimoni ibu-ibu di berbagai forum dunia maya, sangat memuaskan. Saya sendiri pakai Pigeon manual karena lebih ekonomis dan direkomendasikan mbak-mbak di babyshop saat saya belanja baju princess. Waktu itu saya mau beli Medela, tapi stok lagi kosong. Kata si mbak, Pigeon manual bisa mompa sampai PD kosong. Karyawati di situ semua pakai merk ini. Alhamdulillah, sejauh ini sih memuaskan. Saya punya 2 set untuk dipakai bergantian. Harganya 325ribu/set (tahun 2012). Mungkin anak kedua nanti pengen nyoba yang elektrik kalo ada dananya. Maklum, mahil. Pigeon elektrik hampir 2 juta.. Duit dari manaaa?  Dianjurkan agar ibu-ibu juga mahir perah pakai tangan dengan teknik MARMET agar tak tergantung pada alat. Sebaiknya belajar di tenaga ahli seperti bidan/dokter karena kalau tidak tepat caranya, malah bisa memicu mastitis (radang payudara). Sayang, sampai saat ini saya belum bisa. Belum belajar, tepatnya. Bandel yak, hihi.
  5. Botol penyimpan ASIP. Saya pakai botol kaca dengan tutup karet. Pilihan lain, bisa pakai botol bekas YOU C 1000 tapi tutupnya diganti yang plastik. Ada juga yang bilang, untuk penyimpanan di kulkas bawah sebaiknya ASIP disimpan di botol plastik BPA free karena leukosit pada ASI cenderung menempel di botol kaca. Wallahu alam sih, tapi pertimbangan saya pakai botol kaca adalah lebih awet dan mudah dibersihkan.
  6. Refrigerator/freezer.
  7. Bottle Sterilizer. Kalau tak ada, botol bisa disteril dengan dikukus yang kabarnya membuat botol lebih awet daripada jika direbus.
  8. Alat cuci-cuci botol termasuk sabunnya. Saya pakai Cussons. Merk lain ada Sleek, Pigeon, dll.
  9. Cooler bag dan ice pack untuk membawa ASIP dari kantor ke rumah. Rata-rata bisa tahan hingga 4 jam. Merk sangat banyak. Saya pakai babypack, tapi sayang sudah mulai rusak. Mengelupas lapisan foilnya. Padahal baru dipakai 4 bulan (mungkin saya yang grusa-grusu pakainya karena teman pakai merk ini baik-baik saja). Sekarang saya pakai tas es krim gratisan dari Walls. Lumayan, kapasitas juga lebih besar hehe.
  10. Bottle warmer (optional). Lumayan membantu pengasuh si princess dalam menyiapkan ASIP dari kulkas hingga siap minum.
  11. Botol minum. Di antara berbagai merk, setelah browsing sana-sini, saya pilih Pigeon BPA free dengan dot silikon peristaltik. Alasannya : murah dibanding merk lain yang sekelas, dotnya tidak akan mengeluarkan susu kecuali jika dihisap sehingga mencegah bingung puting. Ukuran dot disesuaikan dengan usia bayi. Meski saya berencana mengganti dot dengan training cup setelah 6 bulan untuk menghindari pemakaian dot yang berlarut-larut karena konon bisa mengganggu bentuk rahang bayi. Sebagian orang cenderung ‘keras’ dan menghindari dot sama sekali. Dalam hal ini pemberian ASIP bisa diganti dengan sendok, cangkir atau soft cup feeder. You decide!

Sebelum Mulai :

  1. Selalu cuci tangan dengan sabun sebelum merah/mompa ASI, dan saat menyajikan ASIP.
  2. Berdoa dan berpikir positif. Syukuri berapapun hasil perah dan JANGAN membanding-bandingkan dengan mama perah lain. Juga jangan pernah nanyain, berapa hasil perah/pompamu? Apalagi menyombongkan hasil perah kita. Somehow ini bisa sangat sensitif.

Cara simpan :

  1. Jangan isi botol terlalu penuh terutama jika akan dibekukan karena ASIP akan memuai, bisa-bisa botol pecah dan ASIP jadi tak bisa dikonsumsi. Bisa nangis darah dehhh #bukan lebay loh inih! Cukup isi max hingga leher botol.
  2. Takaran ASIP sebaiknya untuk konsumsi 1x minum, antara 60-120 ml (note dari Catatan Ayah ASI).
  3. ASIP segar ditaruh di kulkas bawah kira-kira sejam, baru taruh freezer untuk dibekukan (kalau untuk stok jangka panjang). Jika akan segera digunakan, lebih baik tidak dibekukan sehingga kerusakan nutrisi bisa seminimal mungkin.
  4. Selalu beri label di botol, tanggal pemerahan ASIP tsb.

Lama penyimpanan :

  1. Suhu ruang : hingga 6 jam.
  2. Dalam coolbox 15°C : 24 jam
  3. Kulkas bawah : 3 – 8 hari.
  4. Freezer kulkas 1 pintu : 2 minggu.
  5. Freezer kulkas 2 pintu : 6 bulan.

Cara penyajian:

  1. Jika digunakan ASIP dari freezer, cairkan dulu di kulkas bawah (biarkan semalaman).
  2. Dari kulkas, keluarkan di suhu ruang hingga berkeringat (bisa juga ditaruh di bawah aliran air kran), baru direndam di air hangat hingga suhunya siap diminum bayi.
  3. Selalu icipi ASIP sebelum diberikan ke bayi (jaga-jaga kalau ASIP basi karena berbagai sebab).
  4. Pemberian ASIP sebaiknya dicampur antara yang segar dengan yang beku. Misal bayi perlu 4 botol selama kita di kantor, berikan 2 botol ASIP hasil hari sebelumnya dan 2 botol ASIP beku dengan tanggal paling awal. Ini mengkombinasikan prinsip FIFO (First In First Out) dengan ide bahwa ASI diproduksi dengan komposisi yang selalu berubah mengikuti usia bayi.
  5. JANGAN pernah membekukan lagi ASIP beku yang sudah cair. Berikan dalam 24 jam.
  6. ASIP yang sudah dihangatkan harus dihabiskan dalam 4 jam.
  7. ASIP dalam botol minum harus langsung habis dalam 1x minum, selebihnya botol harus diganti. ASIP yang sudah kena air ludah bayi akan segera basi. Sewaktu princess masih belajar mimik, usia ASIP dalam dotnya dibatasi 1 jam. Sayang juga sih buang2 ASIP. Tapi lebih sayang bayinya dooong *wink wink

Sekilas, segala per-ASIP-an ini memang nampak ribet. Tapi setelah dijalani, ternyata tidak juga. Terlebih manfaatnya banyak sekali. Selain bayi jadi lebih sehat, dari segi ekonomis juga menguntungkan. Memang investasi awal lumayan besar, tapi bandingkan dengan biaya untuk sufor yang juga tidak bisa dibilang murah. Selain itu, selama mompa di kantor, bonding dengan bayi juga tetap terjaga.

Jangan lupa informasikan pada bos dan teman di kantor bahwa kita akan ‘menghilang’ beberapa kali dalam sehari untuk mompa. Saya sendiri mompa 3x sehari : jam 9, 12 dan 3 sore.

Untuk memompa semangat, bisa baca buku Catatan Ayah ASI, follow @mamaperah, @tipsmenyusui, atau @ID_AyahASI. Gabung juga di theurbanmama.com. Di sana banyak info yang berguna.

Selamat berjuang demi ASIX bayi kita, untuk memberikan hanya yang terbaik buat baby-nya, jungkir balik pun para mama rela. Yakini selalu, ASIX adalah investasi terbaik untuk kesehatan bayi kita.

Salam.

My Breastfeeding Xperience

Akhir bulan ini, tak terasa saya sudah (akan) menjadi ibu selama 6 bulan (whoaaa 2 minggu lagi!) Berkah yang sangat luar biasa dalam hidup saya, suami dan keluarga besar kami.

Saya melahirkan by Caesarian Section (SC). Opsi yang terpaksa saya pilih karena berbagai indikasi medis yang muncul di akhir kehamilan. Hal yang kadang masih jadi bahan cibiran bahwa saya “belum sempurna” menjadi wanita. Hanya karena saya tidak merasakan wow-nya persalinan normal. Oh, mind your own bussiness, ladies. Apa karena saya melahirkan by SC terus saya ada di kasta di bawah anda? Saya ibu yang kurang “mantap”? Tunggu dulu.

Proses melahirkan, diakui sendiri oleh para obgyn, tak bisa ditebak akan berjalan seperti apa, normal alami, normal dengan bantuan (seperti vacuum), atau SC. Kita sudah jungkir balik usaha biar bisa lahiran normal, kalau sudah digariskan SC ya SC. Apa iya keselamatan bayi dan juga kita sendiri akan dipertaruhkan? Dan soal menjadi ibu yang baik, masih ada isu yang lebih penting. Sesuatu yang lebih bisa kita kontrol berhasil atau tidaknya. Apa itu?

Yup.

M e n y u s u i .

Sebagaimana banyak literatur bilang, ASI adalah nutrisi terbaik untuk pencernaan bayi yang masih belum sempurna, dapat menurunkan resiko alergi, serta memperkuat bonding ibu dengan bayi. Untuk itulah, penting bagi bayi untuk mendapatkan ASI eksklusif (ASIX) dimana bayi hanya mendapat ASI sebagai sumber nutrisinya selama 6 bulan pertama kehidupannya, tanpa tambahan apapun, bahkan air putih. Jadi jangan tanya, apa boleh bayi 2 bulan disuapi pisang? Karena jawabannya jelas. BIG NO. ASIX adalah hak setiap bayi, dan bahkan ada PP-nya. Kalau tak salah no 13 tahun 2012. CMIIW.

Di Indonesia, tingkat keberhasilan ASIX masih rendah. Masih kurangnya edukasi pada orangtua serta promosi susu formula yang sangat gencar menjadi faktor utama penyebabnya. Masih banyak orangtua yang kurang yakin dengan ASI dan termakan iklan dimana kandungan nutrisi dalam sufor dideskripsikan dalam cara yang sangat menggiurkan. Segala macam AA, DHA, ARA, Imunoglobulin, dsb, yang sebenarnya sudah tersedia komplit dalam ASI bahkan dengan nilai plus : lebih mudah diserap tubuh, karena ASI dilengkapi segala macam enzim yang diperlukan oleh sistem pencernaan si bayi. Pada prinsipnya pembuatan sufor kan diusahakan mendekati komposisi ASI. Jadi, kalau masih ngotot pakai sufor karena alasan kandungan gizi, ya mungkin perlu dipikir ulang deh. Lagipula bukan rahasia kalau bayi dengan sufor kadang suka sembelit. Kasihan kan?

Ada pula yang enggan menyusui karena takut payudara jadi kendor. Padahal, yang menyebabkan PD kendor itu proses kehamilan, bukan proses menyusui. Selama hamil PD mulai bengkak sebagai antisipasi persiapan nutrisi kala sang jabang bayi lahir kelak. Dan itu alamiah kok. Bahkan sebenarnya, tanpa hamil dan menyusui pun, PD akan kendor juga karena faktor usia. Lagipula jaman sekarang sih pasti ada aja cara perawatan tubuh agar PD yang kendor jadi kencang lagi. Eh, ada ga ya kok saya jadi sotoy. Ah lagipula, payudara kendor akibat hamil dan menyusui itu worthed banget kok. Percaya deh sama saya, melihat baby kita tidur pulas setelah puas menyusu itu priceless. Rasanya nyess banget di hati.

Eh tapi tunggu dulu. Karena ternyata banyak juga yang gagal ASIX karena kesulitan ‘teknis’. ASI sedikit sehingga bayi selalu lapar menjadi penyebab yang paling umum. Dalam hal ini, beberapa kasus memang memerlukan penanganan medis, misalnya tongue tie (lidah terikat) yang memerlukan insisi ringan. Tapi kabar baiknya, kasus tersebut sebenarnya relatif jarang. Yang perlu diingat, breastfeeding is a mind game. Saat kita yakin bisa, insya ALLOH bisa. Kadang yang kita perlukan agar ASI lancar hanya pikiran positif dan hati yang senang. Maka jauhi semua komentar negatif, makan bergizi, istirahat cukup dan susui/perah ASI secara rutin tiap 3-4 jam. Kalau masih sulit juga, bisa berkunjung ke klinik/konselor laktasi. Biasanya sih nanti dibantu dengan massage. Katanya sih awalnya suakiittt, tapi demi buah hati kenapa tidak? Nyawa pun kita bersedia korbankan, menahan nyeri sedikit boleh dong? Selain itu, posisi menyusui dan teknik latch on juga akan dievaluasi.

Sekali lagi, menyusui itu mind game. Waspadai lingkaran setan berikut : ASI kita sedikit –> kita stress mikirinnya –> adrenalin naik –> ASI tambah sedikit –> tambah stress –> begitu teruss..

Alhamdulillah, proses awal menyusui princess relatif lancar. Mungkin karena saya melahirkan by SC dengan proses recovery yang cepat, tidak mengalami “drama” kontraksi yang mendebarkan dan melelahkan, yang konon bisa bikin wanita paling kalem sekalipun jadi galak dan sadis saking sakitnya.., Saya merasa santai dan rileks setelah melahirkan. Ini menguntungkan buat proses breastfeeding. Jadi yaaa saya ambil hikmahnya saja meski karena SC saya belum “sempurna sebagai wanita” #dibahas!

Sebelumnya, mari jangan ingatkan kenapa saya tidak mencoba Inisiasi Menyusui Dini. Hal yang membuat proses menyusui ini jadi kurang lengkap. Jadi, waktu itu saya saking terkesimanya dengan kehadiran princess. Tau-tau doski sudah diangkut ke ruang bayi buat dimandiin, ditimbang, dll. Saya juga ga ngerti kalau IMD bisa tetap dilakukan meski kita melahirkan by SC. Ya sudahlah…

Pagi setelah operasi, princess dibawa ke kamar saya dari ruang bayi dan sejak itu saya putuskan dia akan tetap sama saya, tidak lagi ke ruang bayi kecuali saatnya dia mandi. Kehadiran princess disambut dengan suka cita. Ayah, akung dan uti semua bergantian menggendongnya. Saya belum bisaa huhu. Rupanya ini jadi motivasi tersendiri untuk proses recovery saya nantinya supaya cepet pulih hehe. Princess mulai saya susui meski ASI belum keluar, dan ybs juga hepi2 aja ngisep2 kosong hehe. Tak lama, ASI pun lancar. Posisi latch on princess juga langsung jago. Saya sendiri, alhamdulillah tidak mengalami proses mrangkaki (payudara bengkak sampai membatu karena ASI sudah diproduksi tapi tak bisa keluar) yang konon nyerinya bikin panas dingin.

Dan… Resmilah petualangan breastfeeding saya dimulai.

Menyusui kapan saja princess minta. Pagi-siang-sore-malam. Karena princess masih bayi merah, saya mesti menyusui dia sambil duduk. Jadi setiap kali dia haus, yang mana cukup sering di bulan pertama dan kedua, saya harus bangun, duduk dan menyusui dengan princess di pangkuan. Ini cukup berat di tengah malam buta karena super sekali ngantuknya. Jangan tanya jadwal tidur saya. Kaco banget. Untung masih dibantu uti, yang sukarela gendong2 cucunya kalau nangis heboh malem2.

Saya juga mulai berburu piranti untuk mendukung ASIX-nya princess. Karena saya harus bekerja kembali setelah cuti saya habis, alat tempur pun harus disiapkan!

Perburuan online pun dimulai. Dari pompa ASI — saya pilih Pigeon manual — botol2 kaca penyimpan ASIP, cooler bag plus ice pack-nya, dot botol minum yang milihnya sungguh bikin pusing saking banyaknya pilihan, bottle warmer, nursing appron hingga breastpad. Bottle steriliser dapet dari kado. Sangat membantu setelah dandang saya tak lagi bisa dipakai untuk steril alat tempur saya. Ah soal ini panjang ceritanya, ga usah dibahas ya. Bikin luka hati #apa sih? 😛

Manajemen ASIP pun saya khatamkan. Cara perah, cara simpan, lama penyimpanan, cara penyajian. Komplit. Thanks to mbah Google yang sakti mandraguna, membuat info apa saja jadi mudah ditemukan.

Saat saya harus kembali ngantor pun kian dekat.

Bagian mendebarkan pun dimulai. Yaitu melatih princess mimik pakai botol. Ayahnya memegang peran kunci disini karena pemberian ASIP tidak boleh dilakukan ibu si bayi. Alasannya : bayi itu cerdas, bisa membedakan kemasan asli sama palsu hi3.

Adududuh… Mendengar princess menangis, meronta2, haus tapi tak mau minum dari botol, ngamuk… Rasanya saya sudah siap meloncat, mengambilnya dari gendongan suami dan menyodorkan PD. Batin saya teriris2. Perih. #bukan lebay loh, ini ciyus!

Tapi suami saya cukup gigih dan meminta saya kuat. Demi princess sendiri. Kalau tak dilatih, memangnya mau puasa selama saya ngantor? Okeee, logis sih. Tapi tetap saja, di ruangan lain saya terus gelisah mendengar rengekan dan raungan princess.

Perlahan princess mau juga menghisap dotnya.

Hari pertama saya ngantor, princess hanya habis 1,5 botol @100ml. Panikkk. Tapi masih bersyukur karena pengasuh princess cukup sabar dan telaten memberikan ASIP sedikit2. Lama-lama habis 2, 3, 4 botol dan di usianya yang ke-5 menjelang 6 bulan ini, princess habis 4-5 botol ASIP selama saya kerja (jam 6.30 – 17.30). Saya pun kalang kabut memerah agar susu selalu cukup. Soalnya saya bukan ibu dengan produksi ASI melimpah. Stok ASIP saya di kulkas mentok di angka belasan botol. Malah sekarang sudah tak ada lagi. Habis bissss. Jadi benar-benar kejar tayang. Ngossshh!

Yaa ambil saja hikmahnya. Susu princess jadi selalu fresh tiap hari. Dan saya tak perlu galau kalau mati listrik dan kulkas OFF.

Ada satu slogannya @ID_AyahASI yang nancep banget di hati. Ingin sukses menyusui? Menyusuilah dengan keras kepala! That’s it.

Salam.

Moving… moving…

Akhir bulan ini nampaknya akan jadi juga kantor saya pindah. Kepastiannya bisa dikatakan mendekati 99,9%. Sesuatu yang menurut saya kontroversial dan dipaksakan.

Isu mengenai kepindahan ini sebenarnya telah mencuat sekitar 4 tahun silam. Tepatnya ketika RI 2 masih dijabat pak JK karena beliaulah yang mencetuskan ide ini untuk pertama kalinya. Mungkin menurut hitung2an bisnis, ide ini menguntungkan karena kantor saya memang lokasinya sangat strategis di jalan Thamrin. Orang akan mau membayar mahal untuk bisa menempati lokasi itu. Sedangkan instansi tempat saya bekerja sebagian melibatkan peneliti yang kegiatannya melibatkan laboratorium. Mungkin di pikiran beliau, kami tidak memerlukan lokasi di pusat kota. Laboratorium mah ditaruh di kampung juga jadi.

Tapi mungkin beliau — dan mereka yang habis-habisan ngotot memindahkan kami — lupa kalau penelitian itu hanya salah satu tupoksi instansi kami, dan bukan juga yang utama. Segala urusan riset kan sudah ada lembaga utamanya, yaitu LIPI. Lalu apa bedanya kami dengan mereka dong kalau nantinya kami juga diarahkan untuk fokus saja di lab dan riset…riset…riset…

Para bapak bangsa juga selalu berpesan, jangan lupakan sejarah. Bukan begitu? Jadi mestinya, para petinggi itu membuka kembali sejarah, alasan kenapa dulu gedung kami diletakkan di lokasi yang sekarang. Pastinya tidak asal saja ‘kan?

Teknologi bagi sebuah bangsa dan negara, memegang peran yang kunci dimana daya saing teknologi suatu negara akan mendorong kemandirian bangsa tersebut sehingga tidak tergantung pada bangsa lain, yang mana ini bagus sekali. Kita jadi tidak bisa didikte dan dibodohi bangsa lain.

Instansi dimana saya bekerja, pada awalnya didirikan di antaranya untuk menjadi pintu masuk teknologi-teknologi baru di Indonesia, mengkaji kelayakannya, mengaudit penerapannya, dan mengembangkannya hingga tingkatan yang lebih advance. ‘Kata-kata’ kami diharapkan bisa menjadi masukan bagi para pembuat kebijakan. Karena itulah kami diletakkan di pusat kota. Dekat istana. Dekat Bappenas. Dekat dengan kantor pusat berbagai kementerian. Tentunya dengan alasan untuk kemudahan koordinasi.

Cerita dari para senior pada saya si anak kemarin sore, menggambarkan betapa gemilangnya instansi saya dahulu. Tamu asing berdatangan tiap hari untuk meeting, mendiskusikan hal-hal yang tentu saja penting bagi negeri ini. Doktor-doktor yang pintar dan cerdas, lulusan luar negeri, ada dimana-mana di kantor kami. Sungguh wow lah begitu. #ga usah koprol sih xixi

Memang sangat berlawanan dengan kondisi kantor sekarang. Rupanya masa keemasan sudah berlalu dan sekarang kami hanya dipandang sebelah mata. Mungkin semacam benalu di anggaran belanja negara yang hanya menghabis-habiskan uang tanpa hasil yang sepadan. Nilai jual kami turun drastis.

Di tengah situasi yang seperti ini, apalah yang bisa dilakukan si anak bawang? Tentu tak banyak. Mustinya memang diperlukan gebrakan yang tak tanggung-tanggung agar kami kembali punya ‘gigi’. Dan untuk itu diperlukan pimpinan yang berani, jujur dan tulus mengabdi pada negara, yang punya visi  dan kemauan yang kuat agar kami bisa kembali punya tak sekedar ‘gigi’, kalau perlu ‘taring’ sekalian.

Dan bukannya memindahkan kami semua ke pelosok negeri.

Di luar semua keberatan pribadi kami, terutama yang yang rumahnya jadi juauhhhh dari kantor baru, yang jelas kantor baru kami itu masih jauh dari layak.

Mulai dari aksesnya yang sangat terbatas. Jauh dari mana-mana. Sarana transportasi umum terbatas. Suatu tempat yang mana ojek masih menjadi primadona. Suatu tempat dimana taksi tak bakal melintas kecuali kita panggil by phone.

Disana sinyal telepon pun kadang menghilang secara misterius. Pun demikian dengan akses ke dunia maya. Modem kadang tak ada gunanya disana.

Lokasi yang kalau kita sudah masuk di dalamnya, kita akan enggan kemana-mana lagi. Bahkan untuk cari makan siang. Peluang yang menjanjikan bagi yang punya usaha catering.

Pokoknya 180° bedanya dengan kantor kami yang sekarang.

Saya pribadi butuh waktu sekitar 2 jam untuk tiba di kantor dari rumah saya. Sungguh di ujung dunia. Bisa-bisa untuk sampai di kantor saja, saya sudah capek duluan. Bukannya capek kerja mikirin negara #ceilehhh…

Lebih kecewa lagi, setelah site survey ke kantor baru, ternyata bangunannya sangat ala kadarnya. Ibarat kata, sekedar jadi aja. Jangankan memenuhi syarat eco-building, urusan keselamatan saja sepertinya agak diabaikan. Entahlah ya kalau APAR, mungkin memang belum diletakkan di tempatnya karena gedung memang baru akan ditempati kira-kira sebulan lagi. Tapi apa-apaan coba, ruangan tanpa jendela yang bisa dibuka, detektor asap yang kurang, dan sprinkler yang tak nampak satupun? Manalah pula tangganya yang sangat tidak ergonomis, bikin sakit lutut. Bagaimana kalau tiba-tiba kebakaran dan kita musti evakuasi. Horor. Ga kebayang. Boleh bilang saya lebay, parnoan, atau apa. Asal tahu ya, lantai 1 gedung baru itu akan digunakan untuk laboratorium dan workshop. Dan coba tanya saya, bekerja di unit apa? Pengembangan bahan bakar. Nah! Sekali dhuar, ya berasap deh semua. #makin parno

Ketiadaan lift plus penempatan ruang staf di lantai 3 juga menimbulkan rasa gimana gitu… Baru nyoba sehari di sana aja (pas site survey) udah capek. Ga kebayang para senior saya gimana. Memang sih ada ide kalau mereka yang sudah sepuh-sepuh ditempatkan di lt 2 atau lt 1. Tapi kan malah nyusahin komunikasi dan koordinasinya. Yah, mungkin kitanya yang manja. Tapi kalau memang ga niat ngasih lift, bikin tangganya yang enakan dikit dong.

Hmppp…. Cuma bisa ngegerundel saya. Mau protes gimana juga ga guna. Siapalah saya. Sekarang cuma bisa ikhtiar minta rute bis jemputan ke daerah rumah saya. Lagi nyari temen-temen yang sedaerah nih. Doakan supaya gol ya. Urusan tua di jalan mah, ya mau gimana lagi?

Trying to enjoy this mess… Mudah-mudahan ngga seburuk yang saya bayangkan.