Snowball, Bayern Muenchen dan Fostress Marienberg

Lepas seharian putar-putar kota dan pusing mencari souvenir yang cihuy tapi murah, malam itu kami pun tumbang kecapekan. Makan malam seadanya. Untung masih agak kenyang habis late lunch di McD. Untung lagi kawan saya bawa aneka kue kering, ada sari roti juga (go international ni ye), mie gelas, energen.. Kami libas aja semua. Tapi air minum menipis, mau tak mau kami meluncur ke minimarket dekat hotel. Lumayan harganya lebih murah daripada di stasiun. Dengan 2,5 euro dapat dua botol besar merk Nestle ukuran 1,5 liter. Masih dapat kembalian pula beberapa sen. Dengan uang segitu, di stasiun cuma dapat sebotol. Bayangkan! Air mineral doang! *garuk-garuk tembok*

Lucunya lagi, waktu mau nyeduh mie sama energen, ternyata hotel nggak menyediakan room service. Jadi kami musti turun ke bar buat minta air panas dan habis itu kita tenteng-tenteng aja gitu ke kamar. Dapatnya cuma secangkir pula. Yaelaah..

Malam pun berlalu dengan damai. Masih juga bangun dini hari tapi berusaha tidur lagi meski jadinya tidur-tidur ayam.

Pagi akhirnya datang setelah penantian yang panjang. Langsung kami sambut dengan sarapan semaksimal mungkin. Lapar berat bok. *nyengir*

Pict 040Mari sarapan sekenyang-kenyangnyaaa… ^O^

Usai sarapan, lanjut bertualang lagi. Misi harus tuntas hari ini karena besok sudah harus pulang. Misi apakah gerangan? Itu lhooo.. Cari souvenir buat orang kantor. Bikin frustasi deh, kok gak nemu-nemu yang murah gitu. Satu euro-an gitu. *medit to the max*. ๐Ÿ˜›

Kami pun balik ke tourist information dan.. membuat mereka shock karena setelah kemarin borong snowball 9 biji dalam 2x kunjungan (sebelum dan sesudah city tour), hari ini beli lagi 4 (buat saya doang), saya lupa deh kawan saya jadi beli lagi apa enggak. Beneran tuh pegawainya sampai gak percaya, “snowball again? really?” haha..

instaweather_crop_20131204_185933Phenomenal snowball ^,^

Pict 204

Menuju tourist information

Selain itu masih balik lagi ke pasar mencari aneka magnet tempelan kulkas dan gantungan kunci khas Wurzburg, sama masih usaha mencari kaos bola untuk para suami. Pas kami nanya orang belinya dimana, malah diomelin karena menyebut-nyebut Bayern Muenchen. “We don’t really like them.” Ups, mungkin semacam nyari kaos Persija tapi di Bandung dan nanyanya ama bobotoh. Yaelah.. Salah lagi..

Pict 207Baby in cocoon.. so cute with his red nose *smooch* Yang kayak gini banyak banget dijumpai di pasar. Ibuknya santai aja belanja, kadang kepala si bayi sampai udah mengsle-mengsle di dalam stroller hehe.. Padahal udara lagi dingin-dinginnya loh.

Perjalanan berlanjut. Kami berniat menaklukkan Fostress Marienberg yang letaknya di seberang sungai Main. Rute bis yang biasanya menuju kesana hanya beroperasi hingga Oktober dan libur selama musim dingin. Padahal si benteng ini adanya di atas bukit. Jalan kaki mendaki? Yuuuk..

Pict 210Di depan patung ikon kota Wurzburg

Diawali dengan melintasi jembatan di atas sungai Main. Jembatannya cantik, dihiasi beraneka ornamen dan patung-patung ala Eropa jaman dulu. Trus ada krencengan gembok banyak banget, yang ternyata memenuhi mitos setempat dimana jika kita pasang gembok bertuliskan nama kita dan pasangan, hubungan kita bakal langgeng. So, yang masih suka percaya mitos, nih banyak temen ente di mari. Gemboknya banyak banget bok.

Picture 250Salah satu krencengan gembok di jembatan

Jalan menuju benteng sungguh mendaki dan berkelok. Angin hari itu juga lebih kencang dan dingin dari hari sebelumnya. Brrr..

Pendakian tahap satu selesai. Eh tapi habis itu pakai salah ambil rute. Malah mengikuti jalur bis yang lebih memutar. *gara-gara saya ini sih :-P* Makin lama jalan makin sepi hingga akhirnya kamiย  memutuskan untuk menyudahi saja. Kaki sudah sakit dan benteng yang dituju masih jauh. Masih setengah perjalanan. Terutama membayangkan perjalanan pulangnya nanti, bisa ngesot-ngesot deh. Taksi meskipun ada tapi sangat jarang yang sampai ke bukit.

Pict 247Langit gelap meggelayuti Wurzburg.. So gloomy..

Benar saja, padahal baru setengah jalan, tapi perjalanan pulang sudah terasa panjang dan melelahkan. Setiba di hotel rasanya sudah pengen rebahan saja di kasur sampai pagi. Alhasil kita pun ketiduran dan bangun-bangun kelaparan. Solusinya adalah melibas sisa stok makanan kawan saya. Daripada dibuang. Masa iya dibawa balik ke Indonesia? *cari pembenaran* XD

Paginya sarapan maksimal lagi lalu lanjut jalan-jalan ringan untuk menghabiskan waktu. Rencana untuk extend di hotel sampai sore pun buyar karena semua kamar sudah fully booked. FYI, disini jam 12 musti udah check out. Tadinya kita mau extend beberapa jam karena pesawat kita jam 10 malam. Daripada berlama-lama menunggu di bandara, kan mending bobok-bobok santai di hotel. Sayangnya misi gagal.

Jam 11.30 kami pun terpaksa check out dan langsung ke halte bis terdekat di Kulturspeicher untuk naik bis ke Wurzburg Hbf. Murah meriah lho dibanding jika naik taksi, hanya 2,5 euro buat berdua. Ya memang jaraknya dekat. Masih kalah murah dengan metromini dan kopaja yang cuma bayar 3000 saja sudah sampai ke ujung dunia. Haha.

Di stasiun Wurzburg, salju yang mulai turun dari pagi mulai melebat. Disertai angin yang berhembus kencang, super duingiinn. Tapi happy sih, akhirnya bisa merasakan salju yang ternyata kayak debu tapi dingin haha. Meski begitu, saya berharap di Frankfurt cuaca cerah sehingga penerbangannya nggak pakai delay. (alhamdulillah ini dikabulkan)

Perjalanan dari Wurzburg Hbf ke Frankfurt Flughafen berjalan lancar meski lagi-lagi kami nggak dapat tempat duduk. Fully reserved katanya. Aaarrgghh.. Sempet nekat duduk di kelas 1, eh ketahuan lho. Ya sudahlah, berdiri lagi di sambungan peron. *tutup muka*

Proses di bandara berjalan lancar. Cuma sepatu saya ini sungguh merepotkan karena nggak pernah lolos dari metal detector. Mungkin karena desainnya memang ada logamnya supaya kuat. Tapi jadinya saya musti bolak-balik copot sepatu. Nggak di Soetta, Abu Dhabi sampai Frankfurt. Yatapi masih mending. Ada ibu-ibu yang nggak lolos metal detector karena branya pakai kawat. Gimana tuh? Untung saya masih ingat untuk menyisakan bra tanpa kawat untuk dipakai saat pulang. Kawan saya sampai bela-belain nyuci malem-malem dan dikeringin pakai hairdryer *eh*

Masih dengan Etihad dengan announcement “wusss..wusss..wusss..syukron”-nya. Alhamdulillah bisa makan tanpa was-was soal kehalalannya. Transit lagi di Abu Dhabi selama hampir 4 jam. Sempat disambut calo (atau petugas?) untuk transit ke Doha. Eciye dikira PRT bok. Apa mau dikata, dari segi tampang sudah cocok. *nyengir*

Kami akhirnya sepesawat juga dengan para pahlawan devisa tersebut (yang mau balik ke Jakarta). Mereka seat-nya di bagian belakang jadi nggak bisa ngobrol. Ya lagian sudah capek juga, nggak mood ngobrol, bawaannya pengen merem aja. Tapi mungkin karena ada para TKW itu, akhirnya kami dilayani awak pesawat yang berbahasa Indonesia. Dan announcement juga ada versi bahasa Indonesia-nya. Sesuatu banget deh. Haha.

Ehtapi jangan salah, para TKW itu bahasan obrolannya sudah soal emas lho. Keren ya. Kalah deh saya, yang obrolannya masih berkisar di harga cabe dan sembako!

Perjalanan ke timur menyambut matahari ini pun berakhir di Soetta menjelang tengah malam. Suami pun sudah menjemput.

Ya. Welcome back to reality in Jakarta. Sweet memories will remain though. Au revoir, Europe. Hope someday I’ll be back again, but at that time, I am going to have fun trip with my beloved family. Aaamiinn. (Dengan ini menerima donatur untuk keperluan di atas. Terima kasih) *nyengir*

Advertisements

Wurzburg City Tour \^O^/

So, lanjut ke cerita training ya! Jadi, akhirnya kami dijemput menuju kawasan kantor & manufakturi….ing… EH, KOK UDAH PADA NGUAP BACANYA? Ini beneran mau tau cerita saya pas training nggak sih? Hah, enggak? Bosenin? Yaelaaah.. Trus maunya gimana? Skip aja? OKE kalau maunya situ gitu! *ala sinetron*

Long story short. Kami harus meninggalkan Lauda karena training sudah berakhir. Meski begitu, kami ada dikasih waktu ekstra untuk jalan-jalan. Ya secara, sudah jauh-jauh kemari gitu lho. Cuma karena Lauda ini super sepi (harus berapa kali saya ngetik fakta ini sih? :P), kami disarankan untuk eksplor kota tetangga yang lebih besar. Maka siang itu meluncurlah kami ke Wurzburg dengan naik kereta. Pak Phillip dengan baik hati mengantar kami ke stasiun. Perjalanan sampai di stasiun hanya sekejapan mata, dan pak Phillips pun dengan baik hati membimbing kami membeli tiket di vending machine. Jadi nggak bingung lagi seperti waktu di stasiun Frankfurt dulu itu. XD Perjalanan menuju Wurzburg berjalan lancar tanpa drama. Dari stasiun kami jalan kaki menuju hotel, yang waktu itu terasa lumayan jauh soalnya masih mencari-cari juga jalannya. Jadi rasanya nggak ketemu-ketemu. Jauh pisan euy! Untung sepanjang perjalanan bertemu dengan bangunan-bangunan yang indah, lumayan terhibur jadinya. Pict 008ย  Picture 072 Dan hari pun begitu cepat menggelap. Perut mulai teriak-teriak minta diisi. Akhirnya meski capek, mau tak mau kami keluar. Di tengah angin yang berhembus dingin, kami terdampar di kedai pizza ekspress dan pesan takeaway buat dimakan di hotel. Dan setelah makan, zzzz… teler semua, kecapekan. ๐Ÿ˜› Esok harinya, kami nekat menjelajahi kota. *Ya menurut lo, jauh-jauh kesini trus bobok-bobok manis aja gitu di hotel? wkkwkwk* Berbekal petunjuk di internet, kami pun mencari tourist information yang lokasinya dekat dengan Dom St Killian, salah satu site wisata disana. Yang mana ternyata dekat sekali dengan pasar tradisional disana. Yay! Picture 164 Picture 166 Picture 173 Pasarnya cantik, bersih dan gak becek *eaaa* Soalnya cuma jual sayur mayur, buah, pakaian, dll yang kering-kering. Gak ada tuh yang jual daging/ayam/ikan yang kadang bikin becek dan bau. Daging dan sebangsanya dijual di toko khusus. Tapi yang asoy adalah harga2nya. Tomat aja sekilo bisa sekian2 euro. Lah di Jakarta paling juga ga ada 16.500 rupiah (1 euro) ‘kali.. Ya gak? Masak tomat harganya sama dengan apel? Apa disana susah kali ya nanem tomat? (bu, terus aja tuh bahas tomatnya, wkwkwk) Tapi seru sih. Apalagi menjelang natal gini, pasar jadi meriah dengan aneka keperluan natal. Hiasan pohon natal, aneka dekorasi rumah, perlengkapan baking buat bikin kue2 natal, etc.. Etc.. Pasar juga jadi berdandan cantik. Balik ke rencana jalan-jalan.. Di tourist information, kami mendapatkan city map yang akhirnya menjadi panduan kami untuk tur keliling kota. Di situ juga jual souvenir yang akhirnya kami beli buat keluarga&teman di tanah air. Usai keliling pasar, kami pun lanjut untuk jalan kaki mengikuti rute City Tour sebagaimana yang ada di peta. Wurzburg benar-benar kota tua yang indah. Kotanya kecil, namun bangunannya benar-benar klasik, terpelihara keasliannya. Mungkin kalau mau renovasi juga tidak boleh mengubah wajah asli bangunan, ‘kali ya. Rute city tour mencakup kunjungan melintasi kota melewati site-site bersejarah, berawal dari tourist information dan berakhir lagi disana pula. Cuaca yang dingin dan suasana meriah menyambut natal membuat langkah kami ringan berjalan kaki luamayan jauh. Apalagi kotanya teratur ya. Ramah pejalan kaki pokoknya. Jadi kami enjoy saja. Nggak kebayang kalau harus tur keliling Jakarta jalan kaki. Ya, abaikan kotanya yang luas. Tapi coba deh, jalan kaki dari Monas ke bunderan HI. Deket kan? Tapi mau nggak sampeyan? Dijamin ogah. Sudahlah panas gremobyos, jalan di trotoar pun bisa ketabrak sepeda (penjual kopi) atau motor (nekat). Menyeberang jalan juga musti ekstra hati-hati. Wah.

Pict 107Pict 108 Juliuspital

Picture 214Kemegahan the Residence yang konon masuk dalam Unesco Heritage

Picture 211Keren mana saya sama patung yang di belakang ini? Pasti saya dong? Ya kan? Absolut ya kan? Hihihi..

Lauda part 2

Perbedaan waktu 6 jam antara Jakarta-Lauda rupanya membuat ritme tubuh saya bingung. Alhasil, meski saya termasuk jago tidur, selama di Eropa ini saya selalu terjaga antara jam 2 – 3 pagi dan seringnya susah tidur lagi. Tubuh saya telanjur tahunya di jam segitu tuh sebenarnya sudah jam 8 atau 9 yang artinya sudah bukan waktunya tidur.

Tapi, gimana doong? Di luar masih gelap gulita. Seperti cerita saya sebelumnya, di sini matahari baru keluar pukul 8 pagi (yang artinya jam 2 siang di Jakarta). Ya sudah.. Mungkin ini waktunya saya untuk.. whatsapp-an sama suami! Yay!

Untuk komunikasi selama saya jauh dari keluarga ini, saya memang hanya mengandalkan wifi gratisan dari hotel. Memaksakan pakai telkomsel? Oh my… Big no! Sudah dari saya tiba, telkomsel dengan baik hati memberitahu saya tentang tarif roaming. Yaitu sbb.

Plgn Yth, Anda roaming di Germany. Tarif Telp ke Indonesia Rp.50 rb/mnt, SMS Rp.10 rb/SMS & Data Rp.2.000/10Kb.Info lbh lanjut, hub 1111/+628110000333

Super mahil, yes? Jadi tentunya ini bukan opsi yang bijak.

Bagaimana dengan beli simcard operator lokal, let’s say vodafone? If we stay a little longer, mungkin bisa juga. Tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya belum perlu. Jadi, no. Bukan opsi yang dipilih juga. *emak medit*

Alhasil selama di Eropa, saya intens komunikasi hanya dengan suami saja. Lewat whatsapp. Lain-lainnya seperti: titip pesan ke teteh, tanya-tanya kabar ke Akung, nanya perkembangan Lala (maemnya, boboknya, pupupnya, mainnya, rewel/enggak, dll), minta foto orang rumah (ofkors especially my lil princess)… semuanya lewat suami saya.

Syukurlah selama saya tinggal, putri kecil saya manis sekali. Tetap dengan pola keseharian dia. Nggak pakai nyariin mamanya sampai ngamuk/tantrum. Memang sih, setiap maghrib dia selalu heboh minta bukain pintu depan setiap kali gerbang utama dibuka. Dia hafal, jam segitu mama biasanya pulang. :’) Eh ternyata bukan mama, tapinya eyang atau tetangga paviliun sebelah. Nangis dikit, rewel dikit, tapi masih tahap wajar.

Di malam hari, Lala bobok dengan ayahnya. Tiap kali bangun malam (sekitar jam 1), ayahnya akan gendong dia, bikin susu sambil Lala-nya lihatin ayah nyeduh susu, trus habis minum susu dia akan langsung bobok lagi. Kalaupun nggak bisa langsung bobok, paling digendong sebentar, trus udah merem lagi. Sweet girl. And dependable husband. So grateful having them in my life. Really missed them. Wish I could fly away to my comfy home, hugging and kissing my beloved ones..ย  *XOXOXO*

IMG-20131203-WA0021

IMG-20131204-WA0016

IMG-20131204-WA0000

Okay. Enough dengan mellow mode.

Lanjut cerita soal Lauda saja.

Penantian yang panjang menunggu terbitnya matahari, berhasil dilalui dengan whatsapp-an sama suami, kirim foto pakai instaweather (pamer suhu yang nyaris minus ke suami wkwkwk) dan nonton tivi yang mana nggak ngerti juga bahasanya, haha. Ternyata, sinetron nggak cuman ada di Indonesia, bok. ๐Ÿ˜›

Pukul 6.00, lapar mulai mendera. Saya dan kawan saya pun memutuskan untuk turun sarapan. Brrr… dingin sekali di luar. Gelap sekali cyn.

Perlahan langit memerah jingga dan matahari pun muncul.

Picture 042

Usai menikmati sunrise (apa seh?! wkkwk) kami pun lanjut sarapan dulu. Yang mana ternyata restoran masih sepi, belum ada orang. Ngopi-ngopi pun jadi pilihan biar mata melek. Dan selanjutnya, bingung makan apa. Daging-dagingan tentu tak berani sentuh. Roti-rotian saya kok kurang berselera, soale keras dan dingin. Akhirnya salad buah jadi pilihan, dan lalu lanjut ke sereal dengan susu dingin. Hiks. Apa kabar bubur ayam anget? *dadahdadah*

IMG-20131203-WA0016

Saat kami hampir usai sarapan, tamu-tamu lain baru pada berdatangan. Yaelah.. ternyata emang kepagian bok! Haha.

Yasudah lah, mumpung masih ada waktu senggang sebelum dijemput training, kami pun foto-foto dulu.

Picture 033

Picture 028

Pict 015Usai beberes dan mandi, pukul 09.00 teng kami sudah siap meninggalkan hotel untuk training.

Bismillahirrahmaanir rahiim.. ^O^

Sepenggal Cerita di Lauda

Hari begitu cepat berlalu di Lauda. Ini harafiah lho. Gimana enggak, waktu kami baru datang, matahari sudah tenggelam dari jam 16.30. Terbit lagi keesokan harinya pukul 8.00. Benar-benar, malam yang panjang bukan hanya malam Minggu. ๐Ÿ˜›

Siang itu, setiba kami di hotel, kawan saya yang langsung telepon ke perusahaan tempat kami training alat. Bukannya kenapa, bahasa Inggris dia lebih advance daripada saya. *nyengir* Jadwal kami yang mustinya dimulai siang itu, akhirnya diundur hingga keesokan harinya. Sebagai gantinya, mereka mengundang kami dinner. Undangannya pukul 18.00 yang mana ternyata sudah gelap gulita. Kirain masih maghrib. Haha.

Pukul 18.00 kami standby di restoran bawah. Info tambahan, kamar kami di lantai 3. Tambahan lagi, kawan saya ini cantik lho, alias sesama cewek. Jadi disewain kamarnya model studio gitu, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang duduk lengkap dengan kitchen set, plus ada balkonnya. Info lagi, nggak ada lift. Untung pak supir yang jemput kami, mau bantuin mengangkat koper. Dan dia langsung angkat itu dua kopor segede-gede gaban dalam sekali naik. Giliran mau kasih tips, kitanya bingung. Disono model nggak sih kasih tips, takutnya malah tersinggung. Akhirnya malah nggak ngasih :(.

Pak Phillip dan Miss Regina tiba sesaat setelah kami turun. Syukurlah mereka lumayan jelas bahasa Inggrisnya jadi kuping ndeso saya ini lumayan bisa mengikuti pembicaraan. Wkwkwk..

Dinner berlangsung dalam suasana bersahabat, ditambah dua lagi tamu kenalannya pak Phillips yang kebetulan ada di restoran yang sama. Btw, kita dinner-nya di restoran hotel. Yang mana menjadi jelas alasannya, jika pembaca sudah baca posting sebelum ini. Tak lain tak bukan, karena Lauda kotanya super sepi. Jadi mungkin resto hotel ini salah satu yang lumayan hits (apa seh? haha)

ImageDemi kehati-hatian, meski saya penyuka daging-dagingan, saya pesan prawn spaghetti saja. Yang mana saya langsung kenyang begitu dia datang dalam mangkok besar yang cukup untuk dimakan bertiga. Oh.. not again! Ada apa sih dengan orang Eropa dan porsi besarnya ini? Mungkin memang karena postur mereka tinggi besar, jadi ukuran lambung mereka juga besar ya. Sedangkan saya, di Indonesia saja tergolong mungil.

Kawan saya mengalami masalah serupa. Dia justru lebih parah karena memesan daging rusa, yang katanya rasanya aneh, dan sudah begitu sausnya juga aneh. Dan dalam porsi besar! Belakangan, dia mengaku tak sanggup menghabiskan hidangan itu. Yang dengan segera saya pun ikut jujur ke pak Phillips sebagai tuan rumah, bahwa saya tidak bisa menghabiskan spaghetti saya. *nyengir*

Herannya, kawan-kawan semeja kami kok ya bisa-bisa saja menghabiskan semua. Masih tambah sup pembuka dan dessert. Oh my God! *takjub*

Soal dessert ini, rupanya kawan saya tak cuma sekedar kenyang dengan hidangannya, tapi juga mual karena rasanya yang aneh. Makanya begitu dia langsung mau waktu ditawari dessert. Chocolate cake dengan ice cream. Dia pun memaksa saya agar mau sharing. Ini sempet disindir kawannya pak Phillip, “Cewek tu ya.. bilangnya kenyang. Tapi tetep aja mau dessert.” Hihi.. Pengalaman ya pak, kok curhat. ๐Ÿ˜›

Sayangnya jet lag membuat kantuk begitu cepat datang dan tak tertahankan pada saya dan kawan saya. Pak Phillip pun maklum dan kami boleh ke kamar lebih dulu kalau mau. Yang mana, tentu kami mau haha. Demikianlah makan malam kami di waktu maghrib itu. Selebihnya, mata tak mau kompromi. Dan..

Zzzzz..

Europe, We’re Coming! ^,^

Menginjakkan kaki ke Eropa, secara tak sadar telah menjadi satu mimpi saya sejak lama. Dengan semua cerita keindahannya, keteraturannya, hawa intelektualnya, sejarahnya yang panjang.. Membuat saya terpesona. Ehm. Pernah saya berkhayal, kalau tiba-tiba saya dapat rejeki dibiayai jalan-jalan dan disuruh milih sendiri kotanya, rasanya saya bakal milih kota di wilayah Eropa. Entahlah, Paris mungkin? Atau Roma? Venesia?

Dan ternyata, mimpi pun menjadi kenyataan. Meski melalui cara yang tidak sepenuhnya saya inginkan.

Long story short. Saya ditugaskan untuk pergi training alat ke suatu kota di Jerman. Namanya Lauda Konigshofen. Kota kecil di wilayah Stuttgart. Masuk di area Bavaria.

Kenapa saya kok nampaknya tak terlalu happy dengan keberangkatan saya ini? Katanya memang sudah lama bermimpi pengen ke Europe? Pertama, saya harus meninggalkan anak saya yang baru lepas setahun… Masih 15 bulan. Padahal, sejak saya hamil, saya sudah rajin ngeles kalo disuruh dinas keluar kota. Apalagi habis punyai baby. Setahun berlindung dengan alasan masih menyusui, toh akhirnya saya menyerah juga. Tak enak rasanya terus-terusan ngeles. Kesannya gak profesional gitu (baru nyadar neng? :P) Hmmh.. Trus, alasan lainnya apa selain anak? Ada deh ya. Rahasia. *minta dipentung yang baca hahaaa.

Yah pokoknya gitu deh.

Tapi toh suka tak suka, i’ve to go. Berbekal restu suami “demi menambah pengalaman dan wawasan” istrinya, saya pun berangkat.

Eh masak semudah itu?

Tentu tidak. Hahaa.. Saya masih harus urus passport (ketahuan ye belum pernah keluar negeri ckckck), urus visa (yang memakan waktu lama, entahlah saya dengar Eropa memang tergolong ketat dalam hal ijin masuk ke negara2nya), juga belanja keperluan musim dingin karena saya pergi pas Desember. Urusan visa ini bikin saya beberapa kali musti bolak-balik dari kantor saya di ujung dunia (Serpong) ke Jakarta. Tapi yang gak kalah bikin ribet tentunya yang terakhir itu. Iya. Belanja.

Sebenarnya wanita mana yang nggak doyan belanja? Tapi ini? Belanja untuk kostum beberapa hari saja, masa harus keluar uang dalam jumlah banyak (versi kantong saya)? Puyeng deh waktu akhirnya list belanja saya selesai : coat musim dingin, sepatu musim dingin, long john, syal, sarung tangan, kupluk, kaos kaki wool, aneka sweater... Lebih pusing lagi waktu lihat kisaran harganya di internet.ย  Mabok saya.

Tapi demi kelangsungan hidup saya di Eropa sana (ciyee) daripada beku dan nggak bisa kemana-mana, masak iya mau kruntelan di hotel aja, ya mau nggak mau saya harus lapang dada berpisah dengan rupiah-rupiah saya. Huhuhu.. Di suatu weekend yang cerah, meluncurlah saya berdua suami ke Pasar Pagi Mangga Dua. Demi perlengkapan winter murah! Tibalah di Toko Djohan dengan kiosnya yang kecil tapi pengunjung berjubel. Maakk.., rame bener. Ini pada mau keluar negeri semua ye? Hihi. Perburuan singkat di Djohan dan toko kembarannya yang masih berada di lokasi yang sama, Farina, menghasilkan 2 kantong besar berisi keperluan saya menghadapi dinginnya cuaca bersalju. Uhuy! Kok bisa cepet? Ya, lha wong tokonya pasang harga pas gitu. Udah gitu saya langsung main bungkus aja yang saya perlukan. Jadi kalo ditanya harga per itemnya, saya gak apal deh. Wkwkwk.

Tibalah hari itu. Sabtu berselimut awan mendung (Bukan lebay loh ini, emang beneran mendung) Di tengah gerimis yang mengguyur Jakarta, saya pamitan sama baby saya yang masih nggak ngeh bakal ditinggal lama jadi cengar-cengir aja dan kiss-bye ceria waktu di-daag-in mamanya. Pamitan ke teteh pengasuhnya anak saya. Salim ke Akung (bapak saya) sambil titip baby saya, tak terasa saya pun mewek. Hehe. Suami? Masih di kantor. Ccckkk emang karyawan teladan.. *nyengir Tenang.. beliau nyempatin ngejar ke bandara kok begitu urusan di kantornya kelar. Masih sempet ketemu sebentar sebelum saya boarding. Ala Rangga dan Cinta aja, haha.

Penerbangan berjalan mulus, 7 jam Jakarta-Abu Dhabi dan 6 jam Abu Dhabi-Frankfurt. Ditemani fasilitas entertainment di pesawat, rasa parno-an saya pun rada berkurang. Itu lho, was-was tiap kali naik pesawat. Suka deg-deg ser piye ngono, bayangin yang enggak2. Haha. Syukurlah si Ethan Hawke dan Julie Delpy berhasil bikin saya terhibur dengan film lama mereka, Before Sunset. Habis itu nonton Devil Wears Prada bikin saya sukses tertidur pulas hingga jam makan berikutnya.

Ngomong-ngomong soal makan, meski rasanya kurang spicy, coba saya nikmati saja. Mungkin ini makanan halal terakhir yang dapat saya temui sebelum menginjak Eropa, haha. Untung saja maskapainya Etihad, yang mengklaim semua menunya halal. Alhamdulillah. Meski jujur saja, kalau mereka mulai announcement pakai Arabic, yang bisa ditangkap telinga saya cuma syukron alias matur nuwun. Terima kasih. Hehe.

Transit ganti pesawat selama hampir 4 jam di Abu Dhabi. Sampai di langit Frankfurt, pesawat kami disambut hamparan awan tebal putih yang menutupi langit.ย  Ini foto jepretan kawan saya dari balik jendela pesawat.

Picture 018

Alamaakkk.. cuaca burukkah? Hmm, untunglah pesawat landing dengan mulus dan selamat. And akhirnyaa..

Welcome to gloomy Frankfurt!

Yah, gimana enggak gloomy. Sudahlah mendung menyelimuti langit (means no sun!), plus gerimis, trus dingin pula.

Alhamdulillah proses di keimigrasian berjalan lancar. Saya dan teman saya pun bergegas mencari moda transportasi selanjutnya ke Lauda Konigshofen. Bandara Frankfurt sebenarnya sudah terintegrasi dengan baik dengan stasiun kereta yang memudahkan akses hingga ke seluruh Eropa kalau perlu. Tapi namanya orang baru, tergagap-gagaplah kami, dari beli tiket ke jurusan yang benar (dengan begitu banyaknya stasiun bernama Lauda, ini Lauda yang mana yang harus dipilih?? Oh Tuhan!!) hingga mencari peron yang benar untuk kereta yang akan kami tumpangi. Petugas yang banyak dijumpai di Tanah Abang, tak nampak batang hidungnya di mari. Mau nanya ke siapa, gak ada petugas. Nanya ke sesama penumpang? Sudah dong. Tapi info yang simpang siur malah membuat kami harusย  naik-turun dari lantai 1 ke lantai 2 trus lantai 1 lagi trus lantai 3 trus lagi ke lantai 1 demi mendapat peron yang benar ke Lauda Konigshofen. Dengan koper segede gaban dan eskalator sempat mati. Ampun dah!

Ya sudahlah.

Akhirnya kami berhasil juga nongkrong di kereta menuju Wurzburg. Lhoo katanya Lauda? Iya, Lauda. Tapi kami musti transit ganti kereta dulu di Wurzburg. Kalo gak, bisa-bisa kami kebawa sampe Muenchen. Gazwat toh hihi? Syukurlah stasiun Wurzburg termasuk kecil. Kami bisa melaluinya tanpa insiden berarti. Dan akhirnya, sampai juga kami di stasiun Lauda Konigshofen.

Tapi rupanya masih ada drama lagi yang harus dilalui. Kota Lauda ini ternyata super sepi. Angkot? Jelas nggak ada ini mah. Tapi taksi juga ngga ada, terus harus gimana cobaaa. Stop! Berpikir jernihlah. Ok, tapi harus makan dulu. Lapar. Syukurlah ada kedai kebab di depan stasiun. Dengan penjualnya yang (sepertinya) berdarah Turki dan statemen halal dari penjualnya, kami pun mantap memilih kebab seharga 3,5 euro (err.. hampir 58 ribu? busett). Dan ketika datang si kebab itu, saya sampai melongo dan langsung kenyang sebelum mulai mengunyah pun. Gede banget. ๐Ÿ˜›

Hanya sanggup makan separuh, dan taksi yang katanya sudah ditelponkan penjual kebab tak jua datang, dengan gontai kami pun keluar kedai. Nahas, penduduk setempat meski baik dan ramah, rata-rata nggak bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa isyarat dan bahasa Jerman seadanya (yang artinya hampir NOL besar haha), kami menangkap hotel tempat kami menginap itu jauhnya 5 km dan kami HARUS naik taksi. Kalau jalan kaki, nggak mungkin. Pertanyaannya, gimana bisa kami menemukan taksi? Info terpercaya dari penduduk setempat, taksi hanya ada kalau ditelepon dan itu juga datangnya SATU JAM kemudian. Ini sius apa becanda yak? Untunglah akhirnya kami bisa juga menemukan telepon umum yang letaknya, entahlah mungkin sengaja mau meledek kami, nyempil tak terlihat dengan mata telanjang. Harus dengan mata batin. *becanda

Singkat kata singkat cerita, setelah beberapa kali putus nyambung, dan menghabiskan 70 cent untuk telepon, kami menunggu dalam angin yang berhembus dingin selama sekian-sekian menit sebelum akhirnya supir dari hotel datang, dengan bawa mobil tentunya! Haha. Maksud untuk beramah tamah dengan supir pun kandas karena, “No English!” kata si supir sambil nyengir. Oh oookkaayy. *pasrah

Picture 037Harap-harap cemas menunggu dijemput di depan Lauda Konigshofen Hbf

Picture 048Alhamdulillah sampai juga di hotel :’)

Sampai di hotel terjawab sudah kenapa kami ditelantarkan dengan begitu kejamnya.. (eciye..) Rupanya pihak hotel sudah datang menjemput pukul 10.00 waktu setempat tapi tak ada siapa pun. Ups iya, pesawat kami memang delay sejam di Abu Dhabi sih. Belum lagi drama di stasiun yang tentunya makan waktu itu. Jadinya telat. Sedangkan kami tak kepikiran kasih kabar ke hotel. Kami pikir, bakal gampang nemu taksi. Siapa sangka Lauda begitu sepi?

Aannyway... Masih seperti mimpi bisa menginjak tanah Eropa. Ini beneran di Eropa gak sih? *cubit pipi

Oke, saatnya istirahat. Next episode waiting! ^O^