Snowball, Bayern Muenchen dan Fostress Marienberg

Lepas seharian putar-putar kota dan pusing mencari souvenir yang cihuy tapi murah, malam itu kami pun tumbang kecapekan. Makan malam seadanya. Untung masih agak kenyang habis late lunch di McD. Untung lagi kawan saya bawa aneka kue kering, ada sari roti juga (go international ni ye), mie gelas, energen.. Kami libas aja semua. Tapi air minum menipis, mau tak mau kami meluncur ke minimarket dekat hotel. Lumayan harganya lebih murah daripada di stasiun. Dengan 2,5 euro dapat dua botol besar merk Nestle ukuran 1,5 liter. Masih dapat kembalian pula beberapa sen. Dengan uang segitu, di stasiun cuma dapat sebotol. Bayangkan! Air mineral doang! *garuk-garuk tembok*

Lucunya lagi, waktu mau nyeduh mie sama energen, ternyata hotel nggak menyediakan room service. Jadi kami musti turun ke bar buat minta air panas dan habis itu kita tenteng-tenteng aja gitu ke kamar. Dapatnya cuma secangkir pula. Yaelaah..

Malam pun berlalu dengan damai. Masih juga bangun dini hari tapi berusaha tidur lagi meski jadinya tidur-tidur ayam.

Pagi akhirnya datang setelah penantian yang panjang. Langsung kami sambut dengan sarapan semaksimal mungkin. Lapar berat bok. *nyengir*

Pict 040Mari sarapan sekenyang-kenyangnyaaa… ^O^

Usai sarapan, lanjut bertualang lagi. Misi harus tuntas hari ini karena besok sudah harus pulang. Misi apakah gerangan? Itu lhooo.. Cari souvenir buat orang kantor. Bikin frustasi deh, kok gak nemu-nemu yang murah gitu. Satu euro-an gitu. *medit to the max*. 😛

Kami pun balik ke tourist information dan.. membuat mereka shock karena setelah kemarin borong snowball 9 biji dalam 2x kunjungan (sebelum dan sesudah city tour), hari ini beli lagi 4 (buat saya doang), saya lupa deh kawan saya jadi beli lagi apa enggak. Beneran tuh pegawainya sampai gak percaya, “snowball again? really?” haha..

instaweather_crop_20131204_185933Phenomenal snowball ^,^

Pict 204

Menuju tourist information

Selain itu masih balik lagi ke pasar mencari aneka magnet tempelan kulkas dan gantungan kunci khas Wurzburg, sama masih usaha mencari kaos bola untuk para suami. Pas kami nanya orang belinya dimana, malah diomelin karena menyebut-nyebut Bayern Muenchen. “We don’t really like them.” Ups, mungkin semacam nyari kaos Persija tapi di Bandung dan nanyanya ama bobotoh. Yaelah.. Salah lagi..

Pict 207Baby in cocoon.. so cute with his red nose *smooch* Yang kayak gini banyak banget dijumpai di pasar. Ibuknya santai aja belanja, kadang kepala si bayi sampai udah mengsle-mengsle di dalam stroller hehe.. Padahal udara lagi dingin-dinginnya loh.

Perjalanan berlanjut. Kami berniat menaklukkan Fostress Marienberg yang letaknya di seberang sungai Main. Rute bis yang biasanya menuju kesana hanya beroperasi hingga Oktober dan libur selama musim dingin. Padahal si benteng ini adanya di atas bukit. Jalan kaki mendaki? Yuuuk..

Pict 210Di depan patung ikon kota Wurzburg

Diawali dengan melintasi jembatan di atas sungai Main. Jembatannya cantik, dihiasi beraneka ornamen dan patung-patung ala Eropa jaman dulu. Trus ada krencengan gembok banyak banget, yang ternyata memenuhi mitos setempat dimana jika kita pasang gembok bertuliskan nama kita dan pasangan, hubungan kita bakal langgeng. So, yang masih suka percaya mitos, nih banyak temen ente di mari. Gemboknya banyak banget bok.

Picture 250Salah satu krencengan gembok di jembatan

Jalan menuju benteng sungguh mendaki dan berkelok. Angin hari itu juga lebih kencang dan dingin dari hari sebelumnya. Brrr..

Pendakian tahap satu selesai. Eh tapi habis itu pakai salah ambil rute. Malah mengikuti jalur bis yang lebih memutar. *gara-gara saya ini sih :-P* Makin lama jalan makin sepi hingga akhirnya kami  memutuskan untuk menyudahi saja. Kaki sudah sakit dan benteng yang dituju masih jauh. Masih setengah perjalanan. Terutama membayangkan perjalanan pulangnya nanti, bisa ngesot-ngesot deh. Taksi meskipun ada tapi sangat jarang yang sampai ke bukit.

Pict 247Langit gelap meggelayuti Wurzburg.. So gloomy..

Benar saja, padahal baru setengah jalan, tapi perjalanan pulang sudah terasa panjang dan melelahkan. Setiba di hotel rasanya sudah pengen rebahan saja di kasur sampai pagi. Alhasil kita pun ketiduran dan bangun-bangun kelaparan. Solusinya adalah melibas sisa stok makanan kawan saya. Daripada dibuang. Masa iya dibawa balik ke Indonesia? *cari pembenaran* XD

Paginya sarapan maksimal lagi lalu lanjut jalan-jalan ringan untuk menghabiskan waktu. Rencana untuk extend di hotel sampai sore pun buyar karena semua kamar sudah fully booked. FYI, disini jam 12 musti udah check out. Tadinya kita mau extend beberapa jam karena pesawat kita jam 10 malam. Daripada berlama-lama menunggu di bandara, kan mending bobok-bobok santai di hotel. Sayangnya misi gagal.

Jam 11.30 kami pun terpaksa check out dan langsung ke halte bis terdekat di Kulturspeicher untuk naik bis ke Wurzburg Hbf. Murah meriah lho dibanding jika naik taksi, hanya 2,5 euro buat berdua. Ya memang jaraknya dekat. Masih kalah murah dengan metromini dan kopaja yang cuma bayar 3000 saja sudah sampai ke ujung dunia. Haha.

Di stasiun Wurzburg, salju yang mulai turun dari pagi mulai melebat. Disertai angin yang berhembus kencang, super duingiinn. Tapi happy sih, akhirnya bisa merasakan salju yang ternyata kayak debu tapi dingin haha. Meski begitu, saya berharap di Frankfurt cuaca cerah sehingga penerbangannya nggak pakai delay. (alhamdulillah ini dikabulkan)

Perjalanan dari Wurzburg Hbf ke Frankfurt Flughafen berjalan lancar meski lagi-lagi kami nggak dapat tempat duduk. Fully reserved katanya. Aaarrgghh.. Sempet nekat duduk di kelas 1, eh ketahuan lho. Ya sudahlah, berdiri lagi di sambungan peron. *tutup muka*

Proses di bandara berjalan lancar. Cuma sepatu saya ini sungguh merepotkan karena nggak pernah lolos dari metal detector. Mungkin karena desainnya memang ada logamnya supaya kuat. Tapi jadinya saya musti bolak-balik copot sepatu. Nggak di Soetta, Abu Dhabi sampai Frankfurt. Yatapi masih mending. Ada ibu-ibu yang nggak lolos metal detector karena branya pakai kawat. Gimana tuh? Untung saya masih ingat untuk menyisakan bra tanpa kawat untuk dipakai saat pulang. Kawan saya sampai bela-belain nyuci malem-malem dan dikeringin pakai hairdryer *eh*

Masih dengan Etihad dengan announcement “wusss..wusss..wusss..syukron”-nya. Alhamdulillah bisa makan tanpa was-was soal kehalalannya. Transit lagi di Abu Dhabi selama hampir 4 jam. Sempat disambut calo (atau petugas?) untuk transit ke Doha. Eciye dikira PRT bok. Apa mau dikata, dari segi tampang sudah cocok. *nyengir*

Kami akhirnya sepesawat juga dengan para pahlawan devisa tersebut (yang mau balik ke Jakarta). Mereka seat-nya di bagian belakang jadi nggak bisa ngobrol. Ya lagian sudah capek juga, nggak mood ngobrol, bawaannya pengen merem aja. Tapi mungkin karena ada para TKW itu, akhirnya kami dilayani awak pesawat yang berbahasa Indonesia. Dan announcement juga ada versi bahasa Indonesia-nya. Sesuatu banget deh. Haha.

Ehtapi jangan salah, para TKW itu bahasan obrolannya sudah soal emas lho. Keren ya. Kalah deh saya, yang obrolannya masih berkisar di harga cabe dan sembako!

Perjalanan ke timur menyambut matahari ini pun berakhir di Soetta menjelang tengah malam. Suami pun sudah menjemput.

Ya. Welcome back to reality in Jakarta. Sweet memories will remain though. Au revoir, Europe. Hope someday I’ll be back again, but at that time, I am going to have fun trip with my beloved family. Aaamiinn. (Dengan ini menerima donatur untuk keperluan di atas. Terima kasih) *nyengir*

Advertisements

6 thoughts on “Snowball, Bayern Muenchen dan Fostress Marienberg

  1. Aku sumbang sarung tangan bulukku dan kaos kaki sportyku. *ini menunjang wisata ke Euro lho* Boleh tak? hehe…

    • Saya pilih mentahnya aja mamih.. Semakin banyak euro yang disumbang, semakin cihuy deh. Hahaa.. Eh kantor apa kabar? Pasti tambah sepi nggak ada saya. Yakan? *pede*

      • haha padahal itu mentahnya kagak ada 5 Euro cyn..hehe..
        Kantor aman tentram damai, enak buat bobok..haha
        Met lliburan ya mamih! jgn lupa oleh2nya..*Blm kemana uda nagih oleh2*

      • Ya ditambahin laaah.. Segitu buat makan kebab sekali juga abis, mamih. Jangan nanggung ah nyumbangnya wkwkwk..

  2. Yang paling lucu tuh yang bra pake kawat itu. Jadi gimana tuh nasib ibunya? Musti dilepas gak branya? 😀

    • Weeww.. Udah 30 hari yang lalu, baru dibalas sekarang komennya. Maaf ya mba Lisa.. *salim
      Ibu-ibu yang pake bra kawat itu akhirnya selamat (lolos pemeriksaan), tapi saya ngga berani tanya-tanya lebih jauh, gimana prosedur sampai dinyatain lolos hihi.. Kayaknya sih makan waktu lama ya… 😛

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s