Posting Geje di Hari Kejepit

Wow.

Rada terhenyak juga saya waktu menyadari kalau blog ini terakhir diisi tahun lalu. Tahun lalu mboookk.. Kalau rumah udah jadi apa tau tuh, lumutan dan banyak sarang laba-laba ‘kali ya.

Hmmmmm.. Tapi trus balik lagi. Bingung mau nulis apa.

Sudah setahun berlalu, dan saya masih disini. Di kantor saya yang letaknya di ujung dunia, masih harus tabah mengukur jalan 3 jam perhari dari rumah-ke kantor. Itu durasi minimal ya, tolong dicatat :P. Kenapa belum pindah rumah, itu masalah piti dan kemantapan hati hehe.

Masih jadi staf peneliti dengan berbagai aktivitas sampingan apapun, kadang merangkap staf pembelian, staf administrasi, staf analis, staf ahli (eh nggak ding), staf apapun lah yang diminta si bos, asal ga diminta bikinin kopi aja deh.. lah emangnya saya opisboi. Masih belum sekolah. Masih suka galau karena berbagai sebab dan kadang tanpa sebab (eh! hehe).

Yang paling sering bikin saya galau adalah, instruksi bos untuk memperdalam ilmu. Bukannya saya nggak mau. Mau banget dong. Secara sebagai peneliti, ilmu saya masih super cetek. Tapi kalau disuruhnya pergi 3 bulan meninggalkan keluarga ya saya galau berat lah. Keluar negeri pula. Terakhir kemarin adalah kali kesekian. Saya diminta apply visit research dengan sponsor NEF, ke Jepang. Mau langsung nolak kok kayak minta dijambak, eh dipecat. Bolak balik kok bilang nggak melulu. Boss saya pasti super gemes ya. Ya saya paham, kondisi di kantor pasti butuh banget penguatan kompetensi SDM-nya, biar kualitasnya nggak kayak saya sekarang ini, yang apa-apa nggak tau. Kalau generasi di atas saya sudah pensiun semua, trus mau jadi apa? Tapi saya ini perempuan, yang kebetulan nggak kayak wanita pekerja lain, ambisi di karirnya nggak menggebu-gebu. Prioritas saya adalah keluarga, sampai kapanpun. Itu kenapa saya waktu milih sekolah lagi juga yang lokasinya dekat (mudah-mudah keterima, anyway). Jadi… gimana kalau para profesor Jepang itu yang kesini bawa ilmu sama alat-alatnya yang canggih-canggih trus dihibahkan..? Haha, maunya mboookk.. Banguuun.., jangan ngelindur. Lha gimana? Trus ditambah lagi suami saya nggak (belum) ridlo, mosok saya nekat. Diridloi suami aja saya masih maju mundur buat berangkat…

Ya beginilah, saya masih gini-gini aja, tapi ya alhamdulillah masih bekerja, bantu-bantu kumpulin sekeping dua keping tiga keping rupiah buat keluarga, sedikit-sedikit semoga berkah. Aaamiinnnn..

Cerita apalagi ya?

…………………..

Cerita panci aja? Gak mau? Yakin? Saya baru beli panci baru loh. Ya trus? Hihi. Ya udah cerita inisial artis yang lagi heboh aja? Eh,masih di bawah umur? Jalak jambul kuning, mau? Cerita anak-anak yang ditelantarin di Cibubur? Mumpung saya baru diceritain temen kantor tadi pas makan siang? Gak juga? Garuk-garuk tembok………..

Ah ya sudahlah sekian aja posting nggak jelas saya ini. Semoga yang (kebetulan) baca nggak ikutan pengen garuk-garuk tembok. Saya mau bikin rencana jalan-jalan buat besok aja ahh…. Tapi nanti aja deh di bis jemputan. Sekarang balik kerja dulu. Eh tapi mau ke belakang dulu ah… 😛

Au revoir my blog.

Ayah, PNS dan Hatta

Ah ayah.. Serius deh, kamu harus berterima kasih sama pak Hatta.

Hatta? Hatta yang mana?

Yang ini…

scan0001

Lho, emang kenapa?

Karena kalau saja aku belum membaca tentang beliau, mungkin aku akan bersungut-sungut  dengan keputusanmu ikut mendaftar jadi PNS dan lalu diterima.

Karena membaca pemikiran-pemikirannya, pemikiranku pun mulai berubah, yah. Kalau memang pengabdian menjadi panggilan hidupmu, aku tidak akan menghalangi. Meski itu mungkin berarti bahwa ekonomi kita akan begini-begini saja sampai nanti, aku akan ridlo. Semoga ALLOH meneguhkan selalu hatiku ini untuk mendukungmu.

Pak Hatta saja, sang proklamator, wakil presiden merangkap menteri luar negeri,  nggak sanggup beli sepatu Bally yang sangat diidamkan hingga beliau meninggal. Padahal kalau mau, tinggal telepon, pasti itu sepatu sudah siap dikenakan. Semasa pensiun, uang pensiun beliau hampir-hampir tak cukup untuk membayar listrik! Semata-mata karena kejujurannya dan keteguhannya untuk tidak “memanfaatkan” jabatan untuk hal-hal pribadi.

Dari Hatta, saya diingatkan kembali bahwa sungguh pengabdian itu bukan hal yang abstrak. Bukan semata bullshit seperti orang-orang bilang. Idealisme pengabdian itu nyata.

Jika mau, seorang Hatta bisa jadi pedagang besar. Sejak lahir pun keluarga besarnya adalah kalangan saudagar yang sukses.

Jika mau, Hatta bisa menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan gaji berkali-kali lipat dari kepala sekolah yang kewarganegaraan Belanda sekalipun. Tapi tidak. Beliau memilih memperjuangkan bangsa ini. Rela dipenjara berbulan-bulan di Belanda karena aktivitas perjuangannya yang gagah berani di jantung musuh.

Kembali ke Indonesia saat bung Karno ditangkap Belanda, beliau tetap lantang meneriakkan gelora perjuangan. Akibatnya, beliau pun ikut dibuang ke Digul, Tanah Merah yang kala itu terkenal angker dan merupakan daerah endemik malaria.

Ujung pengabdian beliau pun tak kalah epic. Beliau rela mundur dari kedudukannya sebagai wakil presiden kala idealismenya memperjuangkan nasib rakyat terbentur oleh sahabatnya sendiri. Sang dwitunggal pun pecah. Namun beliau tetap tak berhenti. Beliau terus gigih bersuara. Mensosialisasikan koperasi. Memberi masukan-masukan pada pejabat pemerintah yang sedang berjalan meski banyak yang diabaikan. Beliau awalnya berharap banyak pada pemerintahan Orde Baru, yang pada akhirnya juga mengecewakan.

Kecintaan yang tak pernah luntur pada bangsanya, tak terbendung meski nyawa sudah tak dikandung badan. Beliau memilih untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, TPU Tanah Kusir, semata karena ingin selalu dekat dengan rakyat yang sangat dicintainya.

Idealisme pengabdiannya begitu nyata dan semestinya dikobarkan kembali di benak generasi muda bangsa ini termasuk dan terutama para penyelenggara negara.

Itulah kenapa yah, aku bilang bahwa ayah harus berterima kasih pada pak Hatta. Sebab dulu, aku selalu berpendapat bahwa seorang lelaki tak sepantasnya menjadi PNS karena gaji yang pas-pasan, padahal seorang lelaki adalah tulang punggung keluarga. Bahasa kasarnya, harus mencari uang sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan keluarga. Apalagi hari gini, apa-apa mahal. Naudzubillahi min dzalik.. jangan sampai jika suatu ketika perlu uang, nggak ada, terus korupsi. (knock2 wood)

Kini aku sudah berubah yah. Terserah apa kata orang. Insya ALLOH materi bukan lagi pertimbangan utama. Aku tak akan menuntut ini itu di luar kemampuan kita. Semoga kita bisa istiqomah ya yah, menjadi PNS yang amanah.

Mama pesan ya yah, jangan pernah.. Jangan pernah terpikir sedetik pun memberi keluargamu uang atau apapun yang bukan hakmu. Bukan semata karena dikutuk masyarakat, bertentangan dengan nurani, ataupun mengkhianati negara. Tapi karena ALLOH Maha Melihat dan Mengetahui.

Di tengah semua polemik yang mungkin terjadi, karena politik birokrasi bisa sangat rumit, aku selalu berdoa agar Ayah bisa memberi sumbangsih yang terbaik untuk bangsa dan negara ini,  serta selalu dilindungi ALLOH dari apapun : bisikan setan, pengaruh jahat, rekan/atasan yang (bisa saja) busuk, apapun. Aaamiiin..

Snowball, Bayern Muenchen dan Fostress Marienberg

Lepas seharian putar-putar kota dan pusing mencari souvenir yang cihuy tapi murah, malam itu kami pun tumbang kecapekan. Makan malam seadanya. Untung masih agak kenyang habis late lunch di McD. Untung lagi kawan saya bawa aneka kue kering, ada sari roti juga (go international ni ye), mie gelas, energen.. Kami libas aja semua. Tapi air minum menipis, mau tak mau kami meluncur ke minimarket dekat hotel. Lumayan harganya lebih murah daripada di stasiun. Dengan 2,5 euro dapat dua botol besar merk Nestle ukuran 1,5 liter. Masih dapat kembalian pula beberapa sen. Dengan uang segitu, di stasiun cuma dapat sebotol. Bayangkan! Air mineral doang! *garuk-garuk tembok*

Lucunya lagi, waktu mau nyeduh mie sama energen, ternyata hotel nggak menyediakan room service. Jadi kami musti turun ke bar buat minta air panas dan habis itu kita tenteng-tenteng aja gitu ke kamar. Dapatnya cuma secangkir pula. Yaelaah..

Malam pun berlalu dengan damai. Masih juga bangun dini hari tapi berusaha tidur lagi meski jadinya tidur-tidur ayam.

Pagi akhirnya datang setelah penantian yang panjang. Langsung kami sambut dengan sarapan semaksimal mungkin. Lapar berat bok. *nyengir*

Pict 040Mari sarapan sekenyang-kenyangnyaaa… ^O^

Usai sarapan, lanjut bertualang lagi. Misi harus tuntas hari ini karena besok sudah harus pulang. Misi apakah gerangan? Itu lhooo.. Cari souvenir buat orang kantor. Bikin frustasi deh, kok gak nemu-nemu yang murah gitu. Satu euro-an gitu. *medit to the max*. 😛

Kami pun balik ke tourist information dan.. membuat mereka shock karena setelah kemarin borong snowball 9 biji dalam 2x kunjungan (sebelum dan sesudah city tour), hari ini beli lagi 4 (buat saya doang), saya lupa deh kawan saya jadi beli lagi apa enggak. Beneran tuh pegawainya sampai gak percaya, “snowball again? really?” haha..

instaweather_crop_20131204_185933Phenomenal snowball ^,^

Pict 204

Menuju tourist information

Selain itu masih balik lagi ke pasar mencari aneka magnet tempelan kulkas dan gantungan kunci khas Wurzburg, sama masih usaha mencari kaos bola untuk para suami. Pas kami nanya orang belinya dimana, malah diomelin karena menyebut-nyebut Bayern Muenchen. “We don’t really like them.” Ups, mungkin semacam nyari kaos Persija tapi di Bandung dan nanyanya ama bobotoh. Yaelah.. Salah lagi..

Pict 207Baby in cocoon.. so cute with his red nose *smooch* Yang kayak gini banyak banget dijumpai di pasar. Ibuknya santai aja belanja, kadang kepala si bayi sampai udah mengsle-mengsle di dalam stroller hehe.. Padahal udara lagi dingin-dinginnya loh.

Perjalanan berlanjut. Kami berniat menaklukkan Fostress Marienberg yang letaknya di seberang sungai Main. Rute bis yang biasanya menuju kesana hanya beroperasi hingga Oktober dan libur selama musim dingin. Padahal si benteng ini adanya di atas bukit. Jalan kaki mendaki? Yuuuk..

Pict 210Di depan patung ikon kota Wurzburg

Diawali dengan melintasi jembatan di atas sungai Main. Jembatannya cantik, dihiasi beraneka ornamen dan patung-patung ala Eropa jaman dulu. Trus ada krencengan gembok banyak banget, yang ternyata memenuhi mitos setempat dimana jika kita pasang gembok bertuliskan nama kita dan pasangan, hubungan kita bakal langgeng. So, yang masih suka percaya mitos, nih banyak temen ente di mari. Gemboknya banyak banget bok.

Picture 250Salah satu krencengan gembok di jembatan

Jalan menuju benteng sungguh mendaki dan berkelok. Angin hari itu juga lebih kencang dan dingin dari hari sebelumnya. Brrr..

Pendakian tahap satu selesai. Eh tapi habis itu pakai salah ambil rute. Malah mengikuti jalur bis yang lebih memutar. *gara-gara saya ini sih :-P* Makin lama jalan makin sepi hingga akhirnya kami  memutuskan untuk menyudahi saja. Kaki sudah sakit dan benteng yang dituju masih jauh. Masih setengah perjalanan. Terutama membayangkan perjalanan pulangnya nanti, bisa ngesot-ngesot deh. Taksi meskipun ada tapi sangat jarang yang sampai ke bukit.

Pict 247Langit gelap meggelayuti Wurzburg.. So gloomy..

Benar saja, padahal baru setengah jalan, tapi perjalanan pulang sudah terasa panjang dan melelahkan. Setiba di hotel rasanya sudah pengen rebahan saja di kasur sampai pagi. Alhasil kita pun ketiduran dan bangun-bangun kelaparan. Solusinya adalah melibas sisa stok makanan kawan saya. Daripada dibuang. Masa iya dibawa balik ke Indonesia? *cari pembenaran* XD

Paginya sarapan maksimal lagi lalu lanjut jalan-jalan ringan untuk menghabiskan waktu. Rencana untuk extend di hotel sampai sore pun buyar karena semua kamar sudah fully booked. FYI, disini jam 12 musti udah check out. Tadinya kita mau extend beberapa jam karena pesawat kita jam 10 malam. Daripada berlama-lama menunggu di bandara, kan mending bobok-bobok santai di hotel. Sayangnya misi gagal.

Jam 11.30 kami pun terpaksa check out dan langsung ke halte bis terdekat di Kulturspeicher untuk naik bis ke Wurzburg Hbf. Murah meriah lho dibanding jika naik taksi, hanya 2,5 euro buat berdua. Ya memang jaraknya dekat. Masih kalah murah dengan metromini dan kopaja yang cuma bayar 3000 saja sudah sampai ke ujung dunia. Haha.

Di stasiun Wurzburg, salju yang mulai turun dari pagi mulai melebat. Disertai angin yang berhembus kencang, super duingiinn. Tapi happy sih, akhirnya bisa merasakan salju yang ternyata kayak debu tapi dingin haha. Meski begitu, saya berharap di Frankfurt cuaca cerah sehingga penerbangannya nggak pakai delay. (alhamdulillah ini dikabulkan)

Perjalanan dari Wurzburg Hbf ke Frankfurt Flughafen berjalan lancar meski lagi-lagi kami nggak dapat tempat duduk. Fully reserved katanya. Aaarrgghh.. Sempet nekat duduk di kelas 1, eh ketahuan lho. Ya sudahlah, berdiri lagi di sambungan peron. *tutup muka*

Proses di bandara berjalan lancar. Cuma sepatu saya ini sungguh merepotkan karena nggak pernah lolos dari metal detector. Mungkin karena desainnya memang ada logamnya supaya kuat. Tapi jadinya saya musti bolak-balik copot sepatu. Nggak di Soetta, Abu Dhabi sampai Frankfurt. Yatapi masih mending. Ada ibu-ibu yang nggak lolos metal detector karena branya pakai kawat. Gimana tuh? Untung saya masih ingat untuk menyisakan bra tanpa kawat untuk dipakai saat pulang. Kawan saya sampai bela-belain nyuci malem-malem dan dikeringin pakai hairdryer *eh*

Masih dengan Etihad dengan announcement “wusss..wusss..wusss..syukron”-nya. Alhamdulillah bisa makan tanpa was-was soal kehalalannya. Transit lagi di Abu Dhabi selama hampir 4 jam. Sempat disambut calo (atau petugas?) untuk transit ke Doha. Eciye dikira PRT bok. Apa mau dikata, dari segi tampang sudah cocok. *nyengir*

Kami akhirnya sepesawat juga dengan para pahlawan devisa tersebut (yang mau balik ke Jakarta). Mereka seat-nya di bagian belakang jadi nggak bisa ngobrol. Ya lagian sudah capek juga, nggak mood ngobrol, bawaannya pengen merem aja. Tapi mungkin karena ada para TKW itu, akhirnya kami dilayani awak pesawat yang berbahasa Indonesia. Dan announcement juga ada versi bahasa Indonesia-nya. Sesuatu banget deh. Haha.

Ehtapi jangan salah, para TKW itu bahasan obrolannya sudah soal emas lho. Keren ya. Kalah deh saya, yang obrolannya masih berkisar di harga cabe dan sembako!

Perjalanan ke timur menyambut matahari ini pun berakhir di Soetta menjelang tengah malam. Suami pun sudah menjemput.

Ya. Welcome back to reality in Jakarta. Sweet memories will remain though. Au revoir, Europe. Hope someday I’ll be back again, but at that time, I am going to have fun trip with my beloved family. Aaamiinn. (Dengan ini menerima donatur untuk keperluan di atas. Terima kasih) *nyengir*

Lauda part 2

Perbedaan waktu 6 jam antara Jakarta-Lauda rupanya membuat ritme tubuh saya bingung. Alhasil, meski saya termasuk jago tidur, selama di Eropa ini saya selalu terjaga antara jam 2 – 3 pagi dan seringnya susah tidur lagi. Tubuh saya telanjur tahunya di jam segitu tuh sebenarnya sudah jam 8 atau 9 yang artinya sudah bukan waktunya tidur.

Tapi, gimana doong? Di luar masih gelap gulita. Seperti cerita saya sebelumnya, di sini matahari baru keluar pukul 8 pagi (yang artinya jam 2 siang di Jakarta). Ya sudah.. Mungkin ini waktunya saya untuk.. whatsapp-an sama suami! Yay!

Untuk komunikasi selama saya jauh dari keluarga ini, saya memang hanya mengandalkan wifi gratisan dari hotel. Memaksakan pakai telkomsel? Oh my… Big no! Sudah dari saya tiba, telkomsel dengan baik hati memberitahu saya tentang tarif roaming. Yaitu sbb.

Plgn Yth, Anda roaming di Germany. Tarif Telp ke Indonesia Rp.50 rb/mnt, SMS Rp.10 rb/SMS & Data Rp.2.000/10Kb.Info lbh lanjut, hub 1111/+628110000333

Super mahil, yes? Jadi tentunya ini bukan opsi yang bijak.

Bagaimana dengan beli simcard operator lokal, let’s say vodafone? If we stay a little longer, mungkin bisa juga. Tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya belum perlu. Jadi, no. Bukan opsi yang dipilih juga. *emak medit*

Alhasil selama di Eropa, saya intens komunikasi hanya dengan suami saja. Lewat whatsapp. Lain-lainnya seperti: titip pesan ke teteh, tanya-tanya kabar ke Akung, nanya perkembangan Lala (maemnya, boboknya, pupupnya, mainnya, rewel/enggak, dll), minta foto orang rumah (ofkors especially my lil princess)… semuanya lewat suami saya.

Syukurlah selama saya tinggal, putri kecil saya manis sekali. Tetap dengan pola keseharian dia. Nggak pakai nyariin mamanya sampai ngamuk/tantrum. Memang sih, setiap maghrib dia selalu heboh minta bukain pintu depan setiap kali gerbang utama dibuka. Dia hafal, jam segitu mama biasanya pulang. :’) Eh ternyata bukan mama, tapinya eyang atau tetangga paviliun sebelah. Nangis dikit, rewel dikit, tapi masih tahap wajar.

Di malam hari, Lala bobok dengan ayahnya. Tiap kali bangun malam (sekitar jam 1), ayahnya akan gendong dia, bikin susu sambil Lala-nya lihatin ayah nyeduh susu, trus habis minum susu dia akan langsung bobok lagi. Kalaupun nggak bisa langsung bobok, paling digendong sebentar, trus udah merem lagi. Sweet girl. And dependable husband. So grateful having them in my life. Really missed them. Wish I could fly away to my comfy home, hugging and kissing my beloved ones..  *XOXOXO*

IMG-20131203-WA0021

IMG-20131204-WA0016

IMG-20131204-WA0000

Okay. Enough dengan mellow mode.

Lanjut cerita soal Lauda saja.

Penantian yang panjang menunggu terbitnya matahari, berhasil dilalui dengan whatsapp-an sama suami, kirim foto pakai instaweather (pamer suhu yang nyaris minus ke suami wkwkwk) dan nonton tivi yang mana nggak ngerti juga bahasanya, haha. Ternyata, sinetron nggak cuman ada di Indonesia, bok. 😛

Pukul 6.00, lapar mulai mendera. Saya dan kawan saya pun memutuskan untuk turun sarapan. Brrr… dingin sekali di luar. Gelap sekali cyn.

Perlahan langit memerah jingga dan matahari pun muncul.

Picture 042

Usai menikmati sunrise (apa seh?! wkkwk) kami pun lanjut sarapan dulu. Yang mana ternyata restoran masih sepi, belum ada orang. Ngopi-ngopi pun jadi pilihan biar mata melek. Dan selanjutnya, bingung makan apa. Daging-dagingan tentu tak berani sentuh. Roti-rotian saya kok kurang berselera, soale keras dan dingin. Akhirnya salad buah jadi pilihan, dan lalu lanjut ke sereal dengan susu dingin. Hiks. Apa kabar bubur ayam anget? *dadahdadah*

IMG-20131203-WA0016

Saat kami hampir usai sarapan, tamu-tamu lain baru pada berdatangan. Yaelah.. ternyata emang kepagian bok! Haha.

Yasudah lah, mumpung masih ada waktu senggang sebelum dijemput training, kami pun foto-foto dulu.

Picture 033

Picture 028

Pict 015Usai beberes dan mandi, pukul 09.00 teng kami sudah siap meninggalkan hotel untuk training.

Bismillahirrahmaanir rahiim.. ^O^

Europe, We’re Coming! ^,^

Menginjakkan kaki ke Eropa, secara tak sadar telah menjadi satu mimpi saya sejak lama. Dengan semua cerita keindahannya, keteraturannya, hawa intelektualnya, sejarahnya yang panjang.. Membuat saya terpesona. Ehm. Pernah saya berkhayal, kalau tiba-tiba saya dapat rejeki dibiayai jalan-jalan dan disuruh milih sendiri kotanya, rasanya saya bakal milih kota di wilayah Eropa. Entahlah, Paris mungkin? Atau Roma? Venesia?

Dan ternyata, mimpi pun menjadi kenyataan. Meski melalui cara yang tidak sepenuhnya saya inginkan.

Long story short. Saya ditugaskan untuk pergi training alat ke suatu kota di Jerman. Namanya Lauda Konigshofen. Kota kecil di wilayah Stuttgart. Masuk di area Bavaria.

Kenapa saya kok nampaknya tak terlalu happy dengan keberangkatan saya ini? Katanya memang sudah lama bermimpi pengen ke Europe? Pertama, saya harus meninggalkan anak saya yang baru lepas setahun… Masih 15 bulan. Padahal, sejak saya hamil, saya sudah rajin ngeles kalo disuruh dinas keluar kota. Apalagi habis punyai baby. Setahun berlindung dengan alasan masih menyusui, toh akhirnya saya menyerah juga. Tak enak rasanya terus-terusan ngeles. Kesannya gak profesional gitu (baru nyadar neng? :P) Hmmh.. Trus, alasan lainnya apa selain anak? Ada deh ya. Rahasia. *minta dipentung yang baca hahaaa.

Yah pokoknya gitu deh.

Tapi toh suka tak suka, i’ve to go. Berbekal restu suami “demi menambah pengalaman dan wawasan” istrinya, saya pun berangkat.

Eh masak semudah itu?

Tentu tidak. Hahaa.. Saya masih harus urus passport (ketahuan ye belum pernah keluar negeri ckckck), urus visa (yang memakan waktu lama, entahlah saya dengar Eropa memang tergolong ketat dalam hal ijin masuk ke negara2nya), juga belanja keperluan musim dingin karena saya pergi pas Desember. Urusan visa ini bikin saya beberapa kali musti bolak-balik dari kantor saya di ujung dunia (Serpong) ke Jakarta. Tapi yang gak kalah bikin ribet tentunya yang terakhir itu. Iya. Belanja.

Sebenarnya wanita mana yang nggak doyan belanja? Tapi ini? Belanja untuk kostum beberapa hari saja, masa harus keluar uang dalam jumlah banyak (versi kantong saya)? Puyeng deh waktu akhirnya list belanja saya selesai : coat musim dingin, sepatu musim dingin, long john, syal, sarung tangan, kupluk, kaos kaki wool, aneka sweater... Lebih pusing lagi waktu lihat kisaran harganya di internet.  Mabok saya.

Tapi demi kelangsungan hidup saya di Eropa sana (ciyee) daripada beku dan nggak bisa kemana-mana, masak iya mau kruntelan di hotel aja, ya mau nggak mau saya harus lapang dada berpisah dengan rupiah-rupiah saya. Huhuhu.. Di suatu weekend yang cerah, meluncurlah saya berdua suami ke Pasar Pagi Mangga Dua. Demi perlengkapan winter murah! Tibalah di Toko Djohan dengan kiosnya yang kecil tapi pengunjung berjubel. Maakk.., rame bener. Ini pada mau keluar negeri semua ye? Hihi. Perburuan singkat di Djohan dan toko kembarannya yang masih berada di lokasi yang sama, Farina, menghasilkan 2 kantong besar berisi keperluan saya menghadapi dinginnya cuaca bersalju. Uhuy! Kok bisa cepet? Ya, lha wong tokonya pasang harga pas gitu. Udah gitu saya langsung main bungkus aja yang saya perlukan. Jadi kalo ditanya harga per itemnya, saya gak apal deh. Wkwkwk.

Tibalah hari itu. Sabtu berselimut awan mendung (Bukan lebay loh ini, emang beneran mendung) Di tengah gerimis yang mengguyur Jakarta, saya pamitan sama baby saya yang masih nggak ngeh bakal ditinggal lama jadi cengar-cengir aja dan kiss-bye ceria waktu di-daag-in mamanya. Pamitan ke teteh pengasuhnya anak saya. Salim ke Akung (bapak saya) sambil titip baby saya, tak terasa saya pun mewek. Hehe. Suami? Masih di kantor. Ccckkk emang karyawan teladan.. *nyengir Tenang.. beliau nyempatin ngejar ke bandara kok begitu urusan di kantornya kelar. Masih sempet ketemu sebentar sebelum saya boarding. Ala Rangga dan Cinta aja, haha.

Penerbangan berjalan mulus, 7 jam Jakarta-Abu Dhabi dan 6 jam Abu Dhabi-Frankfurt. Ditemani fasilitas entertainment di pesawat, rasa parno-an saya pun rada berkurang. Itu lho, was-was tiap kali naik pesawat. Suka deg-deg ser piye ngono, bayangin yang enggak2. Haha. Syukurlah si Ethan Hawke dan Julie Delpy berhasil bikin saya terhibur dengan film lama mereka, Before Sunset. Habis itu nonton Devil Wears Prada bikin saya sukses tertidur pulas hingga jam makan berikutnya.

Ngomong-ngomong soal makan, meski rasanya kurang spicy, coba saya nikmati saja. Mungkin ini makanan halal terakhir yang dapat saya temui sebelum menginjak Eropa, haha. Untung saja maskapainya Etihad, yang mengklaim semua menunya halal. Alhamdulillah. Meski jujur saja, kalau mereka mulai announcement pakai Arabic, yang bisa ditangkap telinga saya cuma syukron alias matur nuwun. Terima kasih. Hehe.

Transit ganti pesawat selama hampir 4 jam di Abu Dhabi. Sampai di langit Frankfurt, pesawat kami disambut hamparan awan tebal putih yang menutupi langit.  Ini foto jepretan kawan saya dari balik jendela pesawat.

Picture 018

Alamaakkk.. cuaca burukkah? Hmm, untunglah pesawat landing dengan mulus dan selamat. And akhirnyaa..

Welcome to gloomy Frankfurt!

Yah, gimana enggak gloomy. Sudahlah mendung menyelimuti langit (means no sun!), plus gerimis, trus dingin pula.

Alhamdulillah proses di keimigrasian berjalan lancar. Saya dan teman saya pun bergegas mencari moda transportasi selanjutnya ke Lauda Konigshofen. Bandara Frankfurt sebenarnya sudah terintegrasi dengan baik dengan stasiun kereta yang memudahkan akses hingga ke seluruh Eropa kalau perlu. Tapi namanya orang baru, tergagap-gagaplah kami, dari beli tiket ke jurusan yang benar (dengan begitu banyaknya stasiun bernama Lauda, ini Lauda yang mana yang harus dipilih?? Oh Tuhan!!) hingga mencari peron yang benar untuk kereta yang akan kami tumpangi. Petugas yang banyak dijumpai di Tanah Abang, tak nampak batang hidungnya di mari. Mau nanya ke siapa, gak ada petugas. Nanya ke sesama penumpang? Sudah dong. Tapi info yang simpang siur malah membuat kami harus  naik-turun dari lantai 1 ke lantai 2 trus lantai 1 lagi trus lantai 3 trus lagi ke lantai 1 demi mendapat peron yang benar ke Lauda Konigshofen. Dengan koper segede gaban dan eskalator sempat mati. Ampun dah!

Ya sudahlah.

Akhirnya kami berhasil juga nongkrong di kereta menuju Wurzburg. Lhoo katanya Lauda? Iya, Lauda. Tapi kami musti transit ganti kereta dulu di Wurzburg. Kalo gak, bisa-bisa kami kebawa sampe Muenchen. Gazwat toh hihi? Syukurlah stasiun Wurzburg termasuk kecil. Kami bisa melaluinya tanpa insiden berarti. Dan akhirnya, sampai juga kami di stasiun Lauda Konigshofen.

Tapi rupanya masih ada drama lagi yang harus dilalui. Kota Lauda ini ternyata super sepi. Angkot? Jelas nggak ada ini mah. Tapi taksi juga ngga ada, terus harus gimana cobaaa. Stop! Berpikir jernihlah. Ok, tapi harus makan dulu. Lapar. Syukurlah ada kedai kebab di depan stasiun. Dengan penjualnya yang (sepertinya) berdarah Turki dan statemen halal dari penjualnya, kami pun mantap memilih kebab seharga 3,5 euro (err.. hampir 58 ribu? busett). Dan ketika datang si kebab itu, saya sampai melongo dan langsung kenyang sebelum mulai mengunyah pun. Gede banget. 😛

Hanya sanggup makan separuh, dan taksi yang katanya sudah ditelponkan penjual kebab tak jua datang, dengan gontai kami pun keluar kedai. Nahas, penduduk setempat meski baik dan ramah, rata-rata nggak bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa isyarat dan bahasa Jerman seadanya (yang artinya hampir NOL besar haha), kami menangkap hotel tempat kami menginap itu jauhnya 5 km dan kami HARUS naik taksi. Kalau jalan kaki, nggak mungkin. Pertanyaannya, gimana bisa kami menemukan taksi? Info terpercaya dari penduduk setempat, taksi hanya ada kalau ditelepon dan itu juga datangnya SATU JAM kemudian. Ini sius apa becanda yak? Untunglah akhirnya kami bisa juga menemukan telepon umum yang letaknya, entahlah mungkin sengaja mau meledek kami, nyempil tak terlihat dengan mata telanjang. Harus dengan mata batin. *becanda

Singkat kata singkat cerita, setelah beberapa kali putus nyambung, dan menghabiskan 70 cent untuk telepon, kami menunggu dalam angin yang berhembus dingin selama sekian-sekian menit sebelum akhirnya supir dari hotel datang, dengan bawa mobil tentunya! Haha. Maksud untuk beramah tamah dengan supir pun kandas karena, “No English!” kata si supir sambil nyengir. Oh oookkaayy. *pasrah

Picture 037Harap-harap cemas menunggu dijemput di depan Lauda Konigshofen Hbf

Picture 048Alhamdulillah sampai juga di hotel :’)

Sampai di hotel terjawab sudah kenapa kami ditelantarkan dengan begitu kejamnya.. (eciye..) Rupanya pihak hotel sudah datang menjemput pukul 10.00 waktu setempat tapi tak ada siapa pun. Ups iya, pesawat kami memang delay sejam di Abu Dhabi sih. Belum lagi drama di stasiun yang tentunya makan waktu itu. Jadinya telat. Sedangkan kami tak kepikiran kasih kabar ke hotel. Kami pikir, bakal gampang nemu taksi. Siapa sangka Lauda begitu sepi?

Aannyway... Masih seperti mimpi bisa menginjak tanah Eropa. Ini beneran di Eropa gak sih? *cubit pipi

Oke, saatnya istirahat. Next episode waiting! ^O^

@mamayeah vs competitive mommy

Baru tahu, ada yang namanya “mamayeah”. *kemane aje maaakk :P

Jadi, ceritanya lagi baca artikel di mommiesdaily, trus ada yang nyebut @mamayeah sebagai sosok perfect mommy. Langsung buka twitter. *sigap

Tapi oh tapi, akunnya sudah tiada maakk. Yang ada @MamaYeahFC, itu juga masih baru. Akhirnya saya pun gugling dan nemu link ini dan ini.

Banyak yang tersindir dengan akun twitter ini dan jadi sewot, ngomel dan marah-marah. Ya gimana, gaya bertuturnya memang asli sarkastis. Tapi kenapa ya, reaksi saya pas baca malah ngakak-ngakak ga jelas? Apa karena saya ini orangnya juga sadis sarkastis. *please say noo, my frens :-P

Di jaman serba canggih seperti sekarang, akses informasi memang terbuka lebar. Sebagai ibu, kita bisa dengan mudah mencari berbagai ilmu parenting, nutrisi anak, milestone anak.. Kita bisa belajar di blog orang, milis atau situs-situs parenting. Tapi kadang tanpa disadari, kita jadi kebablasen jadi competitive mommy. Di berbagai socmed, kita cerita : kalau saya begini begitu, anak saya begini begitu, pake produk ini itu, makan ini itu, susunya, popoknya.. yang akhirnya jadi berbau pamer, atau memojokkan orang lain yang nggak “sealiran”.

Pastilah sebagai ibu kita bangga sama anak, bangga sama pencapaiannya, puas dengan gaya pengasuhan kita. Cuma kalau jadi menjurus ke men-judge orang lain dengan gaya yang berbeda itu sebagai DOSA, yaa.. kayaknya sudah nggak bener. *iya kan iya kan?

Naaahhh.., mamayeah ini semacam mengingatkan kita, ibu-ibu kece di jaman modern ini, untuk lebih wise dalam dunia peribu-ibuan. For being not too competitive, begitu lah simpelnya. Toh pada akhirnya, SEMUA ibu di dunia ini menginginkan yang terbaik buat anaknya masing-masing kok.

Jadi, mana sih… tweet-tweetnya @mamayeah yang fenomenal itu? Ini diaaa..

Ehtapi, itu hati tolong disabar-sabarin dulu. Jangan langsung ngamuk, mending kayak saya : NGAKAK!

“Bio: We are the perfect mothers: SAHM sekaligus WM, IMD, ASIX, homemade MPASI, jago memasak, berkebun, menjahit, dan memuaskan suami.”

  1. Working Mom niyeeeee
  2. Gak sempet makan siang gara2 harus merah ASI niyeeeee
  3. Bugaboo Cameleon niyeeeee
  4. Ketika baru melahirkan, kami langsung sukses IMD. Anak kami pun berkembang dengan sehat dan pintar. Yg lain: GAGAL IMD NIYEEE
  5. Gak masalah, krn bisnis rumahan dan part-time job kami sukses dan fulfilling. FTM niyeee! RT @theurbanmama: To all full-time-mom out there.. How do you feel about being home all day?
  6. Yang penting bukan istilahnya, tapi prestasinya sbg ibu. Krisis identitas niyeee! RT @mommiesdaily: Intinya mau klarifikasi aja soal pemakaian istilah, bkn memperdebatkan ttg status.
  7. CloDi niyeeee
  8. Nggak pake epidural niyeeee
  9. Stress jadi FTN / SAHM / IRT niyeee
  10. Nggak pake nanny niyeee (ini udah pernah belum sih? Nggak apa-apa deh, biar rame…. niyeee)
  11. Harga cabe naik? Nggak sempet (baca: males) ke pasar? Nggak masalah. Kami ‘kan nanem cabe sendiri dirumah. Jago berkebun niyeee…
  12. CEPET KURUS ABIS MELAHIRKAN NIYEEE… *isu paling sensitif, makanya capslock*
  13. Bosen debat panggilan ibu. Gmn dgn panggilan pembeti? ART? Pembantu? Bedinde? Nanny (nanny niyeee)? Sitter? Suster? Ncus? Mbak? Kok ribet?
  14. (lagi ngetrend) Bikin snack table sendiri niyeeee…
  15. Baju anak kalian apa? Kalo baju anak-anak kami gabungan antara Gap, Mothercare, H&M Kids, dan jait sendiri. Maklum, super mom.
  16. Astri Nugraha mungkin terlihat sbg ibu / istri sempurna, tapi pasti joget salsanya jagoan kita *pasang topi buah*. Kita kan juga sempurna!
  17. Goodnight mommies. Tidurlah biar kuat netekin nanti mlm… Ingat, susu formula adalah minuman setan, dan kalo nggak ASIX, ur a devil mom.
  18. Selamat bekerja, working moms! Ninggalin anak niyeee…
  19. Selamat menyambut hari, para IRT! Ingat, pertanyaan yg paling penting “Gak sayang kuliah tinggi2 ujungnya ngangon anak aje?” IRT niyeee…
  20. Tenang ibu-ibu, keluarga kecil Miranda Kerr, Orlando Bloom, Flynn Bloom itu palsu. Hologram kok. CGI effect. Gak ada yg sesempurna itu.
  21. Shiloh Jolie-Pitt dan Suri Cruise juga robot doang, kok. Tenang aja, bayi kita yg paling sempurna.
  22. Kadang kami juga suka curiga keluarga Lang (http://bit.ly/T56CM) dan keluarga Nugraha (http://bit.ly/bJWH0x) hanya fiksi belaka. Bohong lah
  23. Ingat, kesempurnaan hanya milik Tuhan dan ibu ASIX. Sementara ketidaksempurnaan milik Dorce dan ibu sufor.
  24. Baby massage di baby spa niyeee… (sementara maknya cukup pijat di panti tunanetra Pak H. Thoyyib)
  25. Mom / bun / mak, anaknya gendut gak keruan gitu ih, pasti sufor!
  26. Mom / bun / mak / sis / gan, anaknya kurus gak keruan gitu ih, pasti sufor!
  27. Mom / bun / mak / sis / gan, anaknya gak lolos GAP casting call ih, pasti sufor!
  28. Bajunya kembaran sama anak niyeee, jait sendiri niyeee…
  29. Ngomong-ngomong soal baju: Beliin baju suster buat ART niyeee… Kalo ke mall susah ngeceng deh si mbak!
  30. Ya envelope, byk follower baru! Makasih yaaa. Gak nyangka byk yg pingin jadi ibu yg sempurna. Kalo gak sempurna, anak kita gak sayang lho.
  31. Nama anak Anto, Budi, Dewi atau Sri sih udah gak jaman. Nama anak saya dong Francois, Chloe, Genevieve! Nama anaknya susah dibaca niyeee…
  32. Tas popok situ gbr kelinci, beruang sama kodok? Cih! mana jaman… Kalo punya saya sih made in New York! Diaper Bagnya Kate Spade Niyee…
  33. Nyetir stroller roda 3, rasanya lbh ribet daripada nyetir nasib… Ah, yang penting QUINNY BUZZ niyeeee
  34. RT @ngiGO: Aduh anaknya sakit? Pasti #sufor deh!!! @MamaYeah
  35. Ketek MamaYeah sampe basah baca mention kalian. Byk sekali! Gemes! MamaYeah estirohat dulu ya, mau bikin homemade MPASI. Homemade niyeee…
  36. Sudah pasti sembuhin sendiri dong, pake… ASIX! ASIX niyeee RT @nandraa: @MamaYeah kalo anaknya sakit di bawa ke dokter apa ke dukun?
  37. Wah Mak/Bun/Moms, ntar mlm Jumat nih. Paling seru sunnah rosul, atau ntn film horror. Ngomong2 horror, pada paling takut sama apa sih?
  38. Kami sih takut sama banyak hal, misalnya kecoak, hantu, atau mer123lak. Tapi kami paling, paling takut sama milis. Hiiii!
  39. Ooo ganti istilah ya? Tapi MamaYeah masih pingin pake istilah FTM. Tapi takut dimasukkin penjara. Atau milis. Kami takut milis…
  40. Selamat pagi WM dan FTM/SAHM/IRT! Unfortunately, we’re still here.
  41. “Mommy, can I pls have some buntil and pepeda sagu?” #Bangganya anak Mama bilingual! (meski selera dan penampilan tetep ndesit). Pamer nihee
  42. #Bangganya anak Mama blm 2 thn tp sdh potty trained! Dan mulai membaca, menulis, main bola, dan merakit mesin pesawat jet! Msh pamer nihee..
  43. Kenapa sih Tunisia rusuh mulu? Ini pasti gara-gara sufor.
  44. Tiger Mom is scary, but milis is scarier.
  45. #Bangganya anak Mama, nyemplung di baby spa langsung copot neck ring dan coba gaya kupu-kupu
  46. Begitulah sekelumit cerita membanggakan dari anak kami (yg namanya bukan Yeah). Kalo Moms / Mak / Bun lain gimana?
  47. @nancyanggie sufor itu susu formula, racun! racun!
  48. Duh ratusan botol ASI perahan sebanyak ini, mau diapain ya? Yg paling utama, di twitpic dulu dong yeee…
  49. Setelah di twitpic, beli kulkas baru deh buat nampung ratusan botol ASI ini. Abis itu? Di-twitpic lagi dong ya. Ciyeee…
  50. #Bangganya perahan ASI MamaYeah bisa sampe buat mandiin paus. Papa, pesen botol kaca lagi 3 kodi!
  51. Haree genee sibuk cari diskonan Pampers di koran? Clodi dong clodi! Save the environment, save the world. Ciyeee…
  52. Kerennyaa! Orangnya baik-baik? *cemas, ambil tasbih* RT @ngiGO: @MamaYeah Gabung yuk ke milis aimy@yahoogroups.com (asosiasi ibu mama yeah)
  53. Untuk para woking mom di twitterland, ninggalin anak niyeee! Jangan mellow-mellow yeee!
  54. Untuk para stay-at-home-mommy, gak pada pegel nih beberes rumah terus? Dapet salam dari ijazah niyeee!
  55. Duilee, lagi ngetrend gendong anak pake Moby Wrap niyee? Kalo nge-mall pake kain jarik gengsi niyeee… (disangka mbok jamu?)
  56. Pa, tabah ya, kita nggak makan dulu sebln. Yang penting iPad kebeli demi si buyung… Terancam masa depannya kalo mainannya bukan iPad…
  57. Belom lengkap rasanya jadi ibu kalo belom mampir Mothercare sale, paling enggak lewatin pintu masuk tokonya aja deh biar lega. Ciyeee..
  58. Pa, tabah ya, ternyata kita harus ngemil beras dulu 2 bln. MamaYeah mending mati daripada si buyung nggak sekolah di TK Internasional…
  59. #Bangganya setelah jago main ABCKids, sekarang bayiku udh jago ngulik app CNN. Pasti ntar keterima TK internasional. Semua berkat iPad.
  60. Buat yg tersinggung sama MamaYeah, maaf ya (tapi tetep follow niyee). Kan ceritanya mau nguatin mental jd ibu yg mmg lbh kejam drpd ibukota
  61. Udara mendung terus. Ini pasti kutukan gara-gara tadi salah nyebut SAHM jadi FTM. Atau gara-gara sufor.
  62. Edisi Hati Mama yg Terluka: MamaYeah mending dikasih Ergo 3 warna daripada di-report as spam. Suwer. Ergo niyee….
  63. Mama lebih takut sama milis dibanding Twitter. Yang kuatlah, ibu-ibu! Kuwat niyeee…
  64. Wah, hampir jam 5 nih. WM siap2 ngacir dan pura2 budeg dipanggil boss ya. Selamat berakhir pekan! Dan sebagai penutup, Mama mau ksh quote…
  65. “Ape?? Lo ngelahirin caesar?? Anaknya ntar durhaka lo… Lo gak ngeden sih…” Quotenya MamaYeah sekali. Ngelahirin normal niyeee. Dadah!
  66. PS. Jadi ngelahirin caesar is the new sufor ya. Yudadababay.
  67. Good morning and happy weekend, momzillas… To SAHM: wiken gak wiken sama aja niyeee *blender ijazah buat MPASI*
  68. Eh anakku ketawa! Twitpic ah. Eh anakku makan! Twitpic ah! Eh anakku napas! Twitpic ah. Eh anakku ga ngapa-ngapain! Twitpic ah.
  69. Aktivasi otak tengah anak biar jenius udah. Ada gak sih yg sekalian aktivasi otak kanan kiri depan belakang? Kali aja anaknya bisa terbang!
  70. Yang mana aja, asal bukan sufor. RT @purplerebel: @mamayeah untuk tumbuh kembang anak, lbh penting ASI apa iPAD ya?
  71. Sekali lagi, buat yg tersinggung sama MamaYeah, maaf ya (tapi tetep ngintip TL niyee *tutup gorden*)
  72. Oooh jadi sekarang yg nge-trend buat anak itu Finger Test ya? Kalo mau ikutan mahalan mana sama iPad? *siap-siap sebulan makan nasi aking*
  73. Eh tiap wiken itu wajib lo hukumnya masukkin anak ke Play Group paling eksis di Jekardah, KIDZANIAAAA!!
  74. Besok mau arisan keluarga lagi, anak kira-kira disumpelin pake apa ya bajunya biar keliatan gemuk? *awas nenek rempong* *awas tante rempong*
  75. Selain sufor, milis, dan puyer, mama juga paling takut sama yang namanya MER123LAK. Mertua Galak! Hiiiiii!
  76. Siang momzillas! Bagi yg lagi main di Kidzania atau Minniapolis, twitpic ya. Bagi yg lagi main di Cicaheum atau Cicalengka, gak usah. Malu..
  77. Anak Mama MPASI-nya udah dibikinin puree kabocha, puree zucchini & puree cantaloupe dong. Rasa gak jamin, tp yg penting kedengerannya keren!
  78. Saatnya bikin cemilan sore! Bikin chocolate cake dulu ah, abis itu twitpic deh hasilnya! *diem-diem nelfon delivery Harvest*
  79. Terakhir nih, anakku blm bisa baca tp bisa bikin acc Twitter dan FB sendiri. Pastinya krn ASIX! RT @mamanyaZayyan: Cerita milestone baby-nya dooong
  80. Dan sblm MamaYeah endehoy sama PapaYeah di mlm minggu ini, kita tutup hari dgn quote dari seorang pirsawati…
  81. RT @prin_theth Tiger mommy gungho. Moga2 ga cemen jd emak2. Kalo anak jd presiden, dikritiknya akan jauh lbh pedes drpd @MamaYeah, misalnya.
  82. Dan terakhir, spt biasa, ketidaksempurnaan milik Dorce, kesempurnaan milik supermom, spt kalian semua ini dan saya tentunya. Wass wr wb.
  83. Happy Sunday morning mamakzillas! Asik ya, pagi-pagi melukin anak? 24 jam lagi sblm jadi melukin tukang ojek. Working mom niyeee…
  84. Sementara anak lain masih jogedan nonton Barney, bayi Mama ngangguk-ngangguk nonton BBC Knowledge & Discovery channel! #Bangganya
  85. Sementara anak lain kruntelan di Kumon, anak Mama minta dimasukkin ke Sekolah Catur Utut Adianto. Saingan Garry Kasparov niyee! #Bangganya
  86. Mumpung di mall rame: “YUK NAK! MAKAN GERBER! AAAEEMMM…” Gerber niyee (pdhl isinya mah ubi racikan sendiri. Botol kacanya udh recycle 5x)
  87. Samurai, parang, gas airmata, perbekalan dan kotak P3K semua udh siap utk Papa. Be safe Papa … Semoga dpt tiket Justin Biebernya…
  88. Mama kepengen ikutan kelas hypnobirthing dueh, tapi kok bayanginnya bakal mbrojol di ITC sambil dihipnotis Uya Kuya ya. Takut ih!
  89. Aduh tadi jantung mama mau copot liat si Buyung nyomot Chiki tetangga! Langsung mama bawa ke UGD! Racun itu, MSG racun racun!
  90. Acara keluarga lage, ketemu mer123lak lage, anak dikomentarin kurus lage, ujung-ujungnya pasti doi nawarin racun no.1 deh, SUFOR!
  91. OK, bentar lg Mama harus les hypnobirthing (baca: mempelajari teknik UyaKuya di TV. Yg murah2 aja deh). Sblm berpisah, Mama mau berpesan…
  92. Biar byk yg benci MamaYeah, ternyata msh ada 500 org lainnya yg cinta (mamer niyee…) Ngapain sih pd follow? Byk amat? Mau bikin kultus?!
  93. Akhir kata, spt biasa, ketidaksempuraan milik spam reporter dan ibu sufor, kesempurnaan milik supermom spt saya. Wass wr wb, punten.
  94. Happy Monday morning, working moms. Nih kapas buat nyumpel kuping, biar gak pedih2 amat denger anaknya jejeritan ditinggalin *nyodorin*
  95. SAHM / WAHM boleh jumawa skrg, tapi WM besok bisa kipas2 duit di muka sambil nanya, “Ini gajiku. Gajimu mana?” Berat, ciin… Happy working!
  96. “Tapi kita kan punya dagangan online buat penghasilan!” kata WAHM. Yeh, dagang untung 100rb, belanja di OL shop laen 500rb. Nombok niyee!
  97. “Hih enak ya lo WM-WM pada bisa ngabur berkedok kerja, sementara kita…” kata SAHM sambil menatap ijazah yg nasibnya udah jd talenan.
  98. Aduh, liat sahabat-sahabat lama Mama di Facebook dan Twitter, pd awet muda banget ya semua?…. Eh… itu foto anaknya semua deng.
  99. Rani, Tisna, Mintje… Susah bgt nyari kalian! Di dunia maya namanya pada ganti jadi Mamanya…, Bundanya…, Uminya…, Emaknya… semua!
  100. Byk yang nyangka Mama sirik gak punya Quinny Zapp. Gak tau aja, kalo belanja Mama udh gak pake trolley lagi, tp QZ. Anaknya udh ngawang gak butuh stroller (thx to aktivasi otak tengah).
  101. Siang2 dengerin baby Mozart enak juga ya… Ternyata bukan CD, tapi lgsg dari anak Mama! #Bangganya
  102. Perasaan kmrn baru bisa main lagu abdi teh ayeuna gaduh hiji boneka, nak! Skrg udah Mozart aje! Berkat ASIX seliter sehari. Twitpic ah…
  103. Ga kerasa si Buyung mau ultah. Do’a tulus ibunya: semoga dpt ide utk dessert table. Rusak masa depan anakku kalo ultah tanpa dessert table!
  104. Mau bikin dessert table dgn tema KEBERANIAN deh, biar anakku berkepribadian kuat. Hiasannya: kuntilanak, rapor merah, sufor, dan milis galak
  105. Sebel deh, hasil pompaan ASI mama hari ini dikit! Ngadu dulu deh ke forum bu-ibu, kali aja ada yg lebih dikit! *ujung-ujungnya kompetitif*
  106. Ngetwit: “Anak mama lahap bener makan puree butternut squash buatan mama!” Pencitraan tuh, padahal sih puree labu siyem!
  107. Pa, nanti cepet come home ya. For makan dinner, we’re gonna have chili-fried aubergine and mozambique tilapia…
  108. …. Yang kalo diterjemahkan pake Alphalink sebenernya balado terong dan mujaer. Selamat makan, Indoneysyaa…
  109. *pingsan* RT @rezagunawan: Baca timeline @MamaYeah dgn ringan hati, bisa membantu memulihkan penyakit jiwa yg (sebagian) kita idap bersama
  110. Ah, udh sore nih pemirsa. Sblm Mama diculik Kolong Wewe krn kebanyakan bacot, kita pamit dulu ya. Spt biasa, Mama mau berkata-mutiara…
  111. Kesempurnaan milik MamaYeah dan @rezagunawan, ketidaksempurnaan milik ANTO. Kalo msh kecil, tu bocah gue tetekin deh biar kalem! Wass wr wb.
  112. Dear WM: GAJIAN NIYEEE! Taudehtaudehtaudeh *kekep anak di kasur, masih dasteran. Ijazah jadi perlak*
  113. Mak / bun / moms, pada tau gak sih, UFO yg meresahkan sejuta umat itu singkatan dari apa? sUFOr. You have been warned.. won.. won.. *echo*
  114. Siapin TO dulu deh, buat bahan pamer ntar di forum bu-ibu. Sederhana aja bajunya, moga2 gk terlalu malu2in dan ttp bisa jd inspirasi…
  115. Omygulay, memalukan bgt sih pada gak tau TO! TO: Today’s Outfit, alias memamerkan baju anak yg dipake hari itu…
  116. … Merk hrs dicantumkan (meski belinya di ITC, kibul aja dikit). Forum ibu2 dan blog adlh lahan subur TO. Udh ya, Mama siap2 dulu.
  117. Kaos Parda dan Goochy-nya Buyung mane sih? Yg ketemu baru clodi Channel-nya (TV kale…)
  118. “Soortee! Coba kamu timbun itu botol susu dan dot-dotnya Buyung, trus bakar sekalian! Temen ibu mau dateng nih, konselor laktasi!” *stres*
  119. Duh gusti… Ini udah TV ke-15 dalam minggu ini yang mama tendang sampe pecah. Tiap ada iklan SUFOR mama gak bisa kontrol emosi! Gelap mata!
  120. Kok gak ada yg bilang kalo vaksin IPD itu ada efek samping buat ortunya sih! Anak yg vaksin, mama yg lemes kyk abis ditodong! *sejeti cyin!
  121. New blog post: So Yummy! Banana bread pudding ala MamaYeah! (padahal resep en foto boleh ngembat dari annabelkarmel.com!)
  122. Yes, sukses ngasitau ke ibu2 tgl pendaftaran yg salah utk TK Internasional paforit. Mua! A! A! A! Jang, siap2 nyarios basa englais wae, nya
  123. Berkurang moral, asal bilingual. Jangan2 motto TK-nya memang begitu ntar…
  124. Next target: ngajarin Nanny (“Jenenge Surti, iboo!”) berbhs Enggris jg biar selaras. Surti, kita dinner fried catfish ya with mix veggie ya.
  125. Selamat pagi SAHM! Cantiknya kalian dgn daster yg gak akan diganti seharian itu. Dpt salam dari makeup seserahan kawinan (yg udh jamuran).
  126. Setiap pagi jml followers semakin mengerikan! GR sih enggak. Soalnya yg awalnya muji2, biasanya belakangan ngeroyok *ancang2 silat Cimande*
  127. Ih seneng ya, skrg tukang ketik akte lahir hemat tinta, berhubung anak jaman skrg namanya cuma satu huruf: Baby A, baby Z, baby Y, M, C, A!
  128. Melangkah dengen penuh percaya diri bersama tas Kate Speed (boleh beli ITC kak, huruf boleh tip-eks satu) dicangklong di bahu nanny…
  129. … nanny-nya tetep Surti dipakein baju suster, tangannya tetep bau terasi. Biar dikira mampu aja sewa nanny dari yayasan! Yuk, ncus!
  130. “Junaediii.. Eeehh, Baby Jaayy… Come, let’s neyneyn dulu sama mommy!” *matiii, mudah2an geng arisan dollar gak denger nama si juned*
  131. Kalo ada ABG (hai Anto) nulis “Mu’uph eaah, bhebheQu gy Lemhoed” ini kecilnya pasti bukan minum sufor lagi, udh berenang! Paging ibu2 milis!
  132. Astaghfirulloh si anak makan Chiki setengah biji. PAPATELPONUGD!
  133. Astaghfirulloh si anak dipakein baby talc. PAPATELPONUGD!
  134. Iyah, follower kita udh seribo. Tapi ya udh lah, kita gak suka nyombong *sambil nyiapin foto TO, foto diaper bag, Twitpic 100x sehari…*
  135. Yak, jam 5 buibu! Waktunya berhenti pura2 kerja pdhl blogging / main forum / ngoprek Twitter org. Pelukan hangat tukang ojek sdh menanti…
  136. Anak Mama, kenapa GTM sih? Baru mau makan kalo pake iPad… Maksudnya nasinya taro di iPad, disendok pake iPhone. Untung punya byk…
  137. Come, baby, sit with Mommy. Kita watch tontonan edukasyonal The Switched Princess dulu yuk… #pencitraan
  138. Oke, kita tutup perjumpaan dulu. Akhir kata, kesempurnaan milik Mama dan Benny Israel (krn cuma dia yg tau identitas asli Mama, catet!)…
  139. … Ketidaksempurnaan milik yg penasaran niyeee. Yuk ah. Gelang sipatu gelang.
  140. Good morning estri-estri! Bangun pagi kuterus… Mandiin anak dan suami, nanti mlm sunnah nabi. Asiiik! *pushup, situp, kegel*
  141. Cukuran rambut buyung kok jadi crop circle gini sih? Gini nih akibat mau ngibul Buyung abis cukur di Purrel / Kiddycuts, pdhl di Mang Kokom!
  142. Ya udahlah, Mama mau balik ngebordir aja… Ngebordir logo GAP dan Armani Kids segede2 setan di kaos-kaosnya buyung. Modal ngeceng di mol!
  143. Sholat hajat udh, bawa silet udh, bawa ATM Papa udh, pake sepatu bot (biar enak nginjek) udh. Mothercare sale, I am cominggg!!!
  144. Setelah berjam-jam meluk dinginnya tiang kereta, akhirnya bisa merasakan pelukan hangat anak Mama juga.. (Ini ape sih Papa pake nowel2!)
  145. Kita tutup perjumpaan malam ini ya.. (Ini apa sih Papa msh nowel-nowel Mama!) Seperti biasa kesempurnaan hanya milik SuperMom seperti Mama..
  146. …Ketidaksempurnaan milik Oom2 senang yg td twit jorok ke Mama! (Kecilnya minum susu apa sih?) Wass wr wb. Selamat menunaikan sunnah rosul!
  147. Hut Moaneng para Mama yg sibuk gelantungan di Bus TransJekardah! Kita dong lagi asix sarapan sama anak, NIKMAT! *ijazah jadi alas piring*
  148. Sewangi-wanginya tukang ojek, kenek bus & penumpang KRL, tetep aja bagai neraka dibanding bau surga jigong anak pagi hari. Happy Workeeeng!
  149. …. Hari ini kami males ngetwit (haters: horeee!!) Sebagai gantinya, hari ini kita main tanyajawab aja hyuk?
  150. Syarat dan Prasyarat! 1. Gak boleh nanya SARA, pornografi (hai Om2 senang yg kmrn!), dan politik. Politik silahkan tanya Om Ben.
  151. 2. Ga semua pertanyaan akan dijwb, krn hari ini Mama hrs multitasking manen kebun organik Mama, Archidendron pauciflorum dan Parkia speciosa
  152. (intip buku Biologi si kakak… Ooh, pete dan jengkol…)
  153. 4. Bagi yg accountnya dilock / protect, ya udah dadababay.
  154. 5. Terakhir, harus pake hashtag #permisinumpangtanyaprokprokprok , nggak kurang nggak lebih
  155. Duh, capek juga ya tanya-jawab gini. Nggak lagi-lagi deh! Kapok! Kalo gitu kita udahan dulu yaa…
  156. Lagian udh jam segini. It’s Friday night, bebi! Mama mau dandan, trus ngeceng ajojing! (kenyataan: ke Timezone main DDR sama anak.. Kesiann)
  157. Akhir kata, kesempurnaan milik Mama dan @deelestari (soalnya dimention mulu nih! Kita bikin buku bareng, apah?)…
  158. …Ketidaksempurnaan milik gim-gim Timezone yg akan menguras tenaga dan duit Mama mlm ini. Duh.. Awas kalo menangnya bukan tivi! Wass wr wb.
  159. Happy Weekend Momzillas! Aduh badan mama masih lemes nih saking hot-nya ajojingan semalem di Timezone. Pada mau ngapain today?
  160. Buat yg rumahnya mau di-inspeksi mer123lak, buruan umpetin koran gosipnya, elap debu jendela & berantakin dapur biar disangka rajin!
  161. Buat yg masih tinggal bareng mer123lak, ya udah lah ya, udah nasib! (Kok gak ada yg bilang sih mer123lak include dalam paket pernikahan?!)

Ciyee.. mamayeah ni yeee…

Saya kena di beberapa item nih :

  1. Saya working mom, bekerja 5 hari seminggu cus dari rumah pukul 6.15 dan sampai rumah lagi maghrib. Itu juga kalo nggak pas mampir beli groceries (2-3x seminggu). Anak cuma berdua sama teteh (pengasuh)-nya. #kuat2in hati
  2. Melahirkan SC dan gagal IMD.
  3. Alhamdulillah berhasil ASIX, dan masih aktif memompa ASI sampai hari ini (anak umur setahun lebih) meski produksi ASIP turun 75%. Jadi sekarang anak saya konsumsi ASIP plus sufor. Tapi bahkan di masa jaya pun, stok ASIP saya tidak pernah melebihi 20 botol isi 100 mL, jadi selalu ngos-ngosan kejar tayang  dan nggak bisa pamer ASIP di kulkas deh. Saya bangga bisa ASI tapi nggak segitunya juga nganggep sufor RACUN. Uhuk!
  4. Niatnya mau masak sendiri buat anak, tapi sejak anak GTM parah di usianya yang ke-7 bulan,saya menyerah pakai bubur instan. Rasanya tak sebanding dengan waktu dan sisa tenaga yang musti saya kerahkan untuk masak, anaknya tutup mulut rapat2. Aneka merk deh sudah dicoba. Waktu mudik kemarin, “kena” sama ibu dan mamah mertua soal ini, jadi mulai semangat lagi masak buat anak saya. Yatapi dasarnya anak saya nggak terlalu doyan makan, mau dimasakin mamanya, mau pakai bubur instan, ya makannya segitu-segitu aja. Kadang doyan kadang enggak. Udah gitu geraknya lasak banget, jadi badannya slim ga montok.
  5. Sempet kena rayuan paket diskon baby spa di mom n jo. Iyes, memang lumayan mihil. Yatapi kan di mari belum nemu dukun pijet bayi yang cocok seperti di kampung. Lagian worth it kok, pelayanannya memuaskan.
  6. Sempet pakai clodi juga, dan memuaskan kok. Yaaa meski hanya merk lokal macam pempem!, cluebebe.. Ga kuat beli yang impor. Mungkin nanti kalau sudah punya pohon uang. Yatapi setelah princess ga bisa diam saat dipakein popok, akhirnya beralih juga ke Pampers model pants. Maklum clodi-nya model pocket semua. Saya malah sedang berpikir untuk nyoba training pants sekalian, soalnyaa gambarnya lucu-lucu. #klise banget
  7. Pernah nyebut anak dengan nama baby Na (Nabila) di twitter.
  8. Nama di whatsapp adalah Mamalala. Ehyaampun, gegara itu dibilang alay sama teman SMA. #sial bener
  9. Nggak pakai talk buat anak. Sempet diprotes mertua, tapi ya sudahlaaahh. #murni alasan kesehatan ini sih.

Soal kompetisi merk untuk segala macam produk, alhamdulillahh saya nggak ikutan deh. Buat saya yang mahal belum tentu paling baik, meski yang berkualitas baik memang nggak murah juga. Jadi yaa yang moderat lah. Pinter-pinternya milih aja. Ketahuan yah, emak irit. Ehtapi gini-gini juga masih suka diomelin suami (yang lebih irit dari saya). Habis gimanaaa, saya suka lapar mata. Hahaaa

Mamayeah.. makasih sudah menghibur saya. Dan mengingatkan saya buat nggak LEBAY jadi ibu. Pokoknya musti bijak. Kita kan yang paling tahu kondisi keluarga kita sendiri. Ya kan ya kan?

 

Unconsciously Disturbed

Seorang teman kantor (wanita), sebut saja Bunga (aaiihhh..),  pernah ada konflik terbuka dengan juniornya yang kebetulan lelaki, sebut saja AF (bukan Ahmad Fathanah ya.. ini random initial kok, bukan sebenarnya xixi).

Bunga merasa AF ini membicarakan dirinya di suatu forum yang kebetulan Bunga tidak hadir di situ. Bunga pun terusik karena merasa dibicarakan “di belakang”. Akhirnya di suatu forum terbuka, Bunga pun “menyentil” kelakuan AF ini. Dan entahlah, mungkin karena sedang emosi tinggi atau apa, AF ini “meledak”.  Untunglah seorang senior meredam situasi dan permasalahan ini pun dibicarakan di luar forum. Entah bagaimana kelanjutannya, saya pun tak tahu.

Sebenarnya sih, permasalahannya lebih ke miskomunikasi saja, menurut saya. Sewaktu AF “katanya” membicarakan Bunga “di belakang” itu, sebenarnya lebih ke mempertanyakan sistem, dan bukan semata soal Bunga. Cuma entahlah, mungkin info yang sampai ke Bunga tidak lengkap atau bagaimana. Sedangkan mengenai AF yang bicaranya (maaf) agak kasar itu, seorang kawan saya (lelaki) berkata bahwa itu semata karena background-nya AF yang dunia lelaki banget, jadi tidak terlalu bagus dalam hal berbicara dengan wanita. Ya ya ya.. teori Man Comes From Mars and Venus Comes From Venus, and That’s Why They Often Collide..

Saya tidak sedang menghakimi siapa pun di sini. Tapi saya belajar hikmah yang sangat dalam dari kejadian ini. Apa itu?

Bahwa cara kita menyampaikan sesuatu itu sangat penting, sama pentingnya dengan apa yang akan kita sampaikan.

Bahwa sekali kita bicara kasar dan melukai hati orang, orang itu nggak akan pernah lupa. Ibarat kita menancapkan paku di kayu, meski paku sudah kita cabut, kayu itu akan tetap berlubang. Benar bahwa time will heal the wound, but the scar will always be remained.

Maka, kita benar-benar harus berhati-hati dengan lidah kita, terutama kala berhadapan dengan orang-orang yang kita cintai.

Lalu, apa hubungannya dengan judul posting ini? Unconsciously disturbed?

Segera setelah konflik itu terjadi, AF akhirnya meminta maaf pada Bunga. Dan Bunga pun dengan bijaknya meminta maaf pada AF, sama-sama lah begitu biar sama-sama enak. Bunga menyangka permasalahan sudah selesai.

Yang Bunga tidak sadar, alam bawah sadarnya masih sakit hati dan tidak terima dengan perlakuan yang dia terima. Perasaan, saya nggak pernah jahat sama orang, kok tega banget orang sejahat itu sama saya? Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, dia tidak bisa tidur (padahal biasanya lelap!). Berhari-hari setelah itu, dia sulit tidur malam. Semata karena masih ada yang mengganggu pikirannya. Dia pun heran, ternyata yang dia anggap sudah selesai itu, masih mengganggu dunia bawah sadarnya.

Hal yang sama pernah juga terjadi sama saya akhir-akhir ini. Sesuatu yang mungkin dianggap joke sama orang, dan saya juga menganggapnya enteng.. Eh kok malah masih terbawa di pikiran saya sampai lama kemudian. Rupanya alam bawah sadar saya yang nggak terima diperlakukan begitu. Unconsciously disturbed. Ada jugakah yang pernah mengalami?