Ayah, PNS dan Hatta

Ah ayah.. Serius deh, kamu harus berterima kasih sama pak Hatta.

Hatta? Hatta yang mana?

Yang ini…

scan0001

Lho, emang kenapa?

Karena kalau saja aku belum membaca tentang beliau, mungkin aku akan bersungut-sungut  dengan keputusanmu ikut mendaftar jadi PNS dan lalu diterima.

Karena membaca pemikiran-pemikirannya, pemikiranku pun mulai berubah, yah. Kalau memang pengabdian menjadi panggilan hidupmu, aku tidak akan menghalangi. Meski itu mungkin berarti bahwa ekonomi kita akan begini-begini saja sampai nanti, aku akan ridlo. Semoga ALLOH meneguhkan selalu hatiku ini untuk mendukungmu.

Pak Hatta saja, sang proklamator, wakil presiden merangkap menteri luar negeri,  nggak sanggup beli sepatu Bally yang sangat diidamkan hingga beliau meninggal. Padahal kalau mau, tinggal telepon, pasti itu sepatu sudah siap dikenakan. Semasa pensiun, uang pensiun beliau hampir-hampir tak cukup untuk membayar listrik! Semata-mata karena kejujurannya dan keteguhannya untuk tidak “memanfaatkan” jabatan untuk hal-hal pribadi.

Dari Hatta, saya diingatkan kembali bahwa sungguh pengabdian itu bukan hal yang abstrak. Bukan semata bullshit seperti orang-orang bilang. Idealisme pengabdian itu nyata.

Jika mau, seorang Hatta bisa jadi pedagang besar. Sejak lahir pun keluarga besarnya adalah kalangan saudagar yang sukses.

Jika mau, Hatta bisa menjadi pegawai pemerintah Belanda dengan gaji berkali-kali lipat dari kepala sekolah yang kewarganegaraan Belanda sekalipun. Tapi tidak. Beliau memilih memperjuangkan bangsa ini. Rela dipenjara berbulan-bulan di Belanda karena aktivitas perjuangannya yang gagah berani di jantung musuh.

Kembali ke Indonesia saat bung Karno ditangkap Belanda, beliau tetap lantang meneriakkan gelora perjuangan. Akibatnya, beliau pun ikut dibuang ke Digul, Tanah Merah yang kala itu terkenal angker dan merupakan daerah endemik malaria.

Ujung pengabdian beliau pun tak kalah epic. Beliau rela mundur dari kedudukannya sebagai wakil presiden kala idealismenya memperjuangkan nasib rakyat terbentur oleh sahabatnya sendiri. Sang dwitunggal pun pecah. Namun beliau tetap tak berhenti. Beliau terus gigih bersuara. Mensosialisasikan koperasi. Memberi masukan-masukan pada pejabat pemerintah yang sedang berjalan meski banyak yang diabaikan. Beliau awalnya berharap banyak pada pemerintahan Orde Baru, yang pada akhirnya juga mengecewakan.

Kecintaan yang tak pernah luntur pada bangsanya, tak terbendung meski nyawa sudah tak dikandung badan. Beliau memilih untuk dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum, TPU Tanah Kusir, semata karena ingin selalu dekat dengan rakyat yang sangat dicintainya.

Idealisme pengabdiannya begitu nyata dan semestinya dikobarkan kembali di benak generasi muda bangsa ini termasuk dan terutama para penyelenggara negara.

Itulah kenapa yah, aku bilang bahwa ayah harus berterima kasih pada pak Hatta. Sebab dulu, aku selalu berpendapat bahwa seorang lelaki tak sepantasnya menjadi PNS karena gaji yang pas-pasan, padahal seorang lelaki adalah tulang punggung keluarga. Bahasa kasarnya, harus mencari uang sebanyak-banyaknya demi kesejahteraan keluarga. Apalagi hari gini, apa-apa mahal. Naudzubillahi min dzalik.. jangan sampai jika suatu ketika perlu uang, nggak ada, terus korupsi. (knock2 wood)

Kini aku sudah berubah yah. Terserah apa kata orang. Insya ALLOH materi bukan lagi pertimbangan utama. Aku tak akan menuntut ini itu di luar kemampuan kita. Semoga kita bisa istiqomah ya yah, menjadi PNS yang amanah.

Mama pesan ya yah, jangan pernah.. Jangan pernah terpikir sedetik pun memberi keluargamu uang atau apapun yang bukan hakmu. Bukan semata karena dikutuk masyarakat, bertentangan dengan nurani, ataupun mengkhianati negara. Tapi karena ALLOH Maha Melihat dan Mengetahui.

Di tengah semua polemik yang mungkin terjadi, karena politik birokrasi bisa sangat rumit, aku selalu berdoa agar Ayah bisa memberi sumbangsih yang terbaik untuk bangsa dan negara ini,  serta selalu dilindungi ALLOH dari apapun : bisikan setan, pengaruh jahat, rekan/atasan yang (bisa saja) busuk, apapun. Aaamiiin..

Advertisements

Dahlan Iskan

Duluuuu banget, sebelum nama beliau banyak disebut di media karena diangkat jadi menteri BUMN, aku pernah dengar cerita tentang beliau dari bosku. Tentang sakit livernya, transplantasi hati di Cina-nya yang biayanya M-M-an, tapi belum tentang sepak terjangnya yang mengagumkan.

Dan lalu rupanya bos besar republik ini terkesan dengan semua pencapaian beliau saat memimpin PLN. Dan diangkatlah beliau menggantikan pak Mustafa Abubakar yang terganggu kesehatannya, untuk memimpin kementerian BUMN dengan harapan bisa membenahi BUMN-BUMN yang sakit menjadi lebih sehat sebagaimana saat beliau menyembuhkan PLN yang sedang kritis dengan gebrakan-gebrakan mautnya. *terlalu lebay ya kalimatnya hi3

Sejak itu aku sering melihatnya di televisi.

Semua kebersahajaannya membuatku terpikat. *aiiihh bahasanya

Pilihan fashionnya yang simpel, gaya bicaranya yang lugas, pilihan sikapnya yang berani tampil berbeda dari tipikal pejabat pada umumnya di Indonesia, aksi-aksinya yang langsung, semua terasa sempurna.

Lalu aku menemukan blog yang berisi catatan-catatan beliau selama memimpin PLN yang sebenarnya didedikasikan untuk para karyawannya tapi ternyata lalu menyebar kemana-mana karena isnpiratif, yang disebut CEO Note.

Lalu aku menonton Sentilan-Sentilun yang mengundang beliau sebagai tamu. Juga Save Our Nation.

Lalu aku menemukan bukunya : Dua Tangis dan Ribuan Tawa yang berisi kumpulan CEO Note-nya dan terkesaaaannn…

Lalu aku semakin sering menemukan berita tentang beliau yang membuat makin jatuh cinta, di antaranya baru-baru ini berani naik KRL ekonomi dan berdesak-desakan dengan penumpang lain bahkan sempat mau naik ke atap kereta. Dan tanpa pengawalan! Yang mana ini istimewa di tengah  makin maraknya suara nguk-nguk motor pengawal pejabat di jalan raya, bahkan saat yang dikawal ternyata bukan pejabat tapi bersikap “sok orang penting” ! *geram geram

Ah, jangan tanya kenapa aku begitu jatuh cinta.

Mungkin latar belakang beliau sebagai wartawan dan bussinessman (wartawan untuk idealismenya dan bussinessman untuk pengalaman manajemennya) yang mana beliau adalah CEO surat kabar Jawa Pos dan Jawa Pos Group sehingga soal materi duniawi sudah tak perlu mengais-ngais uang negara untuk kepentingan pribadi. Baca CEO Bertangan Dingin

Mungkin pengalaman spiritual beliau yang sudah di ambang waktu saat terkena sirosis beberapa tahun lalu sehingga sekarang begitu berani dalam gebarakan-gebarakannya, “Saya itu harusnya sudah mati 5 tahun yang lalu, ketika saya diberi kesempatan untuk sehat kembali, maka saya harus memberikan semuanya.”

Hanya bisa berdoa semoga beliau istiqomah dalam kebaikan dan nggak terpengaruh dunia politik Indonesia yang acakadut.

PS:

Sekarang sedang mengikuti catatan beliau di wordpress dan baca buku Indonesia Habis Gelap Terbitlah Terang. Ada yang mau pinjam dan ikut jatuh cinta? 😉