Lauda part 2

Perbedaan waktu 6 jam antara Jakarta-Lauda rupanya membuat ritme tubuh saya bingung. Alhasil, meski saya termasuk jago tidur, selama di Eropa ini saya selalu terjaga antara jam 2 – 3 pagi dan seringnya susah tidur lagi. Tubuh saya telanjur tahunya di jam segitu tuh sebenarnya sudah jam 8 atau 9 yang artinya sudah bukan waktunya tidur.

Tapi, gimana doong? Di luar masih gelap gulita. Seperti cerita saya sebelumnya, di sini matahari baru keluar pukul 8 pagi (yang artinya jam 2 siang di Jakarta). Ya sudah.. Mungkin ini waktunya saya untuk.. whatsapp-an sama suami! Yay!

Untuk komunikasi selama saya jauh dari keluarga ini, saya memang hanya mengandalkan wifi gratisan dari hotel. Memaksakan pakai telkomsel? Oh my… Big no! Sudah dari saya tiba, telkomsel dengan baik hati memberitahu saya tentang tarif roaming. Yaitu sbb.

Plgn Yth, Anda roaming di Germany. Tarif Telp ke Indonesia Rp.50 rb/mnt, SMS Rp.10 rb/SMS & Data Rp.2.000/10Kb.Info lbh lanjut, hub 1111/+628110000333

Super mahil, yes? Jadi tentunya ini bukan opsi yang bijak.

Bagaimana dengan beli simcard operator lokal, let’s say vodafone? If we stay a little longer, mungkin bisa juga. Tapi setelah ditimbang-timbang, sepertinya belum perlu. Jadi, no. Bukan opsi yang dipilih juga. *emak medit*

Alhasil selama di Eropa, saya intens komunikasi hanya dengan suami saja. Lewat whatsapp. Lain-lainnya seperti: titip pesan ke teteh, tanya-tanya kabar ke Akung, nanya perkembangan Lala (maemnya, boboknya, pupupnya, mainnya, rewel/enggak, dll), minta foto orang rumah (ofkors especially my lil princess)… semuanya lewat suami saya.

Syukurlah selama saya tinggal, putri kecil saya manis sekali. Tetap dengan pola keseharian dia. Nggak pakai nyariin mamanya sampai ngamuk/tantrum. Memang sih, setiap maghrib dia selalu heboh minta bukain pintu depan setiap kali gerbang utama dibuka. Dia hafal, jam segitu mama biasanya pulang. :’) Eh ternyata bukan mama, tapinya eyang atau tetangga paviliun sebelah. Nangis dikit, rewel dikit, tapi masih tahap wajar.

Di malam hari, Lala bobok dengan ayahnya. Tiap kali bangun malam (sekitar jam 1), ayahnya akan gendong dia, bikin susu sambil Lala-nya lihatin ayah nyeduh susu, trus habis minum susu dia akan langsung bobok lagi. Kalaupun nggak bisa langsung bobok, paling digendong sebentar, trus udah merem lagi. Sweet girl. And dependable husband. So grateful having them in my life. Really missed them. Wish I could fly away to my comfy home, hugging and kissing my beloved ones..  *XOXOXO*

IMG-20131203-WA0021

IMG-20131204-WA0016

IMG-20131204-WA0000

Okay. Enough dengan mellow mode.

Lanjut cerita soal Lauda saja.

Penantian yang panjang menunggu terbitnya matahari, berhasil dilalui dengan whatsapp-an sama suami, kirim foto pakai instaweather (pamer suhu yang nyaris minus ke suami wkwkwk) dan nonton tivi yang mana nggak ngerti juga bahasanya, haha. Ternyata, sinetron nggak cuman ada di Indonesia, bok. 😛

Pukul 6.00, lapar mulai mendera. Saya dan kawan saya pun memutuskan untuk turun sarapan. Brrr… dingin sekali di luar. Gelap sekali cyn.

Perlahan langit memerah jingga dan matahari pun muncul.

Picture 042

Usai menikmati sunrise (apa seh?! wkkwk) kami pun lanjut sarapan dulu. Yang mana ternyata restoran masih sepi, belum ada orang. Ngopi-ngopi pun jadi pilihan biar mata melek. Dan selanjutnya, bingung makan apa. Daging-dagingan tentu tak berani sentuh. Roti-rotian saya kok kurang berselera, soale keras dan dingin. Akhirnya salad buah jadi pilihan, dan lalu lanjut ke sereal dengan susu dingin. Hiks. Apa kabar bubur ayam anget? *dadahdadah*

IMG-20131203-WA0016

Saat kami hampir usai sarapan, tamu-tamu lain baru pada berdatangan. Yaelah.. ternyata emang kepagian bok! Haha.

Yasudah lah, mumpung masih ada waktu senggang sebelum dijemput training, kami pun foto-foto dulu.

Picture 033

Picture 028

Pict 015Usai beberes dan mandi, pukul 09.00 teng kami sudah siap meninggalkan hotel untuk training.

Bismillahirrahmaanir rahiim.. ^O^

Advertisements

Europe, We’re Coming! ^,^

Menginjakkan kaki ke Eropa, secara tak sadar telah menjadi satu mimpi saya sejak lama. Dengan semua cerita keindahannya, keteraturannya, hawa intelektualnya, sejarahnya yang panjang.. Membuat saya terpesona. Ehm. Pernah saya berkhayal, kalau tiba-tiba saya dapat rejeki dibiayai jalan-jalan dan disuruh milih sendiri kotanya, rasanya saya bakal milih kota di wilayah Eropa. Entahlah, Paris mungkin? Atau Roma? Venesia?

Dan ternyata, mimpi pun menjadi kenyataan. Meski melalui cara yang tidak sepenuhnya saya inginkan.

Long story short. Saya ditugaskan untuk pergi training alat ke suatu kota di Jerman. Namanya Lauda Konigshofen. Kota kecil di wilayah Stuttgart. Masuk di area Bavaria.

Kenapa saya kok nampaknya tak terlalu happy dengan keberangkatan saya ini? Katanya memang sudah lama bermimpi pengen ke Europe? Pertama, saya harus meninggalkan anak saya yang baru lepas setahun… Masih 15 bulan. Padahal, sejak saya hamil, saya sudah rajin ngeles kalo disuruh dinas keluar kota. Apalagi habis punyai baby. Setahun berlindung dengan alasan masih menyusui, toh akhirnya saya menyerah juga. Tak enak rasanya terus-terusan ngeles. Kesannya gak profesional gitu (baru nyadar neng? :P) Hmmh.. Trus, alasan lainnya apa selain anak? Ada deh ya. Rahasia. *minta dipentung yang baca hahaaa.

Yah pokoknya gitu deh.

Tapi toh suka tak suka, i’ve to go. Berbekal restu suami “demi menambah pengalaman dan wawasan” istrinya, saya pun berangkat.

Eh masak semudah itu?

Tentu tidak. Hahaa.. Saya masih harus urus passport (ketahuan ye belum pernah keluar negeri ckckck), urus visa (yang memakan waktu lama, entahlah saya dengar Eropa memang tergolong ketat dalam hal ijin masuk ke negara2nya), juga belanja keperluan musim dingin karena saya pergi pas Desember. Urusan visa ini bikin saya beberapa kali musti bolak-balik dari kantor saya di ujung dunia (Serpong) ke Jakarta. Tapi yang gak kalah bikin ribet tentunya yang terakhir itu. Iya. Belanja.

Sebenarnya wanita mana yang nggak doyan belanja? Tapi ini? Belanja untuk kostum beberapa hari saja, masa harus keluar uang dalam jumlah banyak (versi kantong saya)? Puyeng deh waktu akhirnya list belanja saya selesai : coat musim dingin, sepatu musim dingin, long john, syal, sarung tangan, kupluk, kaos kaki wool, aneka sweater... Lebih pusing lagi waktu lihat kisaran harganya di internet.  Mabok saya.

Tapi demi kelangsungan hidup saya di Eropa sana (ciyee) daripada beku dan nggak bisa kemana-mana, masak iya mau kruntelan di hotel aja, ya mau nggak mau saya harus lapang dada berpisah dengan rupiah-rupiah saya. Huhuhu.. Di suatu weekend yang cerah, meluncurlah saya berdua suami ke Pasar Pagi Mangga Dua. Demi perlengkapan winter murah! Tibalah di Toko Djohan dengan kiosnya yang kecil tapi pengunjung berjubel. Maakk.., rame bener. Ini pada mau keluar negeri semua ye? Hihi. Perburuan singkat di Djohan dan toko kembarannya yang masih berada di lokasi yang sama, Farina, menghasilkan 2 kantong besar berisi keperluan saya menghadapi dinginnya cuaca bersalju. Uhuy! Kok bisa cepet? Ya, lha wong tokonya pasang harga pas gitu. Udah gitu saya langsung main bungkus aja yang saya perlukan. Jadi kalo ditanya harga per itemnya, saya gak apal deh. Wkwkwk.

Tibalah hari itu. Sabtu berselimut awan mendung (Bukan lebay loh ini, emang beneran mendung) Di tengah gerimis yang mengguyur Jakarta, saya pamitan sama baby saya yang masih nggak ngeh bakal ditinggal lama jadi cengar-cengir aja dan kiss-bye ceria waktu di-daag-in mamanya. Pamitan ke teteh pengasuhnya anak saya. Salim ke Akung (bapak saya) sambil titip baby saya, tak terasa saya pun mewek. Hehe. Suami? Masih di kantor. Ccckkk emang karyawan teladan.. *nyengir Tenang.. beliau nyempatin ngejar ke bandara kok begitu urusan di kantornya kelar. Masih sempet ketemu sebentar sebelum saya boarding. Ala Rangga dan Cinta aja, haha.

Penerbangan berjalan mulus, 7 jam Jakarta-Abu Dhabi dan 6 jam Abu Dhabi-Frankfurt. Ditemani fasilitas entertainment di pesawat, rasa parno-an saya pun rada berkurang. Itu lho, was-was tiap kali naik pesawat. Suka deg-deg ser piye ngono, bayangin yang enggak2. Haha. Syukurlah si Ethan Hawke dan Julie Delpy berhasil bikin saya terhibur dengan film lama mereka, Before Sunset. Habis itu nonton Devil Wears Prada bikin saya sukses tertidur pulas hingga jam makan berikutnya.

Ngomong-ngomong soal makan, meski rasanya kurang spicy, coba saya nikmati saja. Mungkin ini makanan halal terakhir yang dapat saya temui sebelum menginjak Eropa, haha. Untung saja maskapainya Etihad, yang mengklaim semua menunya halal. Alhamdulillah. Meski jujur saja, kalau mereka mulai announcement pakai Arabic, yang bisa ditangkap telinga saya cuma syukron alias matur nuwun. Terima kasih. Hehe.

Transit ganti pesawat selama hampir 4 jam di Abu Dhabi. Sampai di langit Frankfurt, pesawat kami disambut hamparan awan tebal putih yang menutupi langit.  Ini foto jepretan kawan saya dari balik jendela pesawat.

Picture 018

Alamaakkk.. cuaca burukkah? Hmm, untunglah pesawat landing dengan mulus dan selamat. And akhirnyaa..

Welcome to gloomy Frankfurt!

Yah, gimana enggak gloomy. Sudahlah mendung menyelimuti langit (means no sun!), plus gerimis, trus dingin pula.

Alhamdulillah proses di keimigrasian berjalan lancar. Saya dan teman saya pun bergegas mencari moda transportasi selanjutnya ke Lauda Konigshofen. Bandara Frankfurt sebenarnya sudah terintegrasi dengan baik dengan stasiun kereta yang memudahkan akses hingga ke seluruh Eropa kalau perlu. Tapi namanya orang baru, tergagap-gagaplah kami, dari beli tiket ke jurusan yang benar (dengan begitu banyaknya stasiun bernama Lauda, ini Lauda yang mana yang harus dipilih?? Oh Tuhan!!) hingga mencari peron yang benar untuk kereta yang akan kami tumpangi. Petugas yang banyak dijumpai di Tanah Abang, tak nampak batang hidungnya di mari. Mau nanya ke siapa, gak ada petugas. Nanya ke sesama penumpang? Sudah dong. Tapi info yang simpang siur malah membuat kami harus  naik-turun dari lantai 1 ke lantai 2 trus lantai 1 lagi trus lantai 3 trus lagi ke lantai 1 demi mendapat peron yang benar ke Lauda Konigshofen. Dengan koper segede gaban dan eskalator sempat mati. Ampun dah!

Ya sudahlah.

Akhirnya kami berhasil juga nongkrong di kereta menuju Wurzburg. Lhoo katanya Lauda? Iya, Lauda. Tapi kami musti transit ganti kereta dulu di Wurzburg. Kalo gak, bisa-bisa kami kebawa sampe Muenchen. Gazwat toh hihi? Syukurlah stasiun Wurzburg termasuk kecil. Kami bisa melaluinya tanpa insiden berarti. Dan akhirnya, sampai juga kami di stasiun Lauda Konigshofen.

Tapi rupanya masih ada drama lagi yang harus dilalui. Kota Lauda ini ternyata super sepi. Angkot? Jelas nggak ada ini mah. Tapi taksi juga ngga ada, terus harus gimana cobaaa. Stop! Berpikir jernihlah. Ok, tapi harus makan dulu. Lapar. Syukurlah ada kedai kebab di depan stasiun. Dengan penjualnya yang (sepertinya) berdarah Turki dan statemen halal dari penjualnya, kami pun mantap memilih kebab seharga 3,5 euro (err.. hampir 58 ribu? busett). Dan ketika datang si kebab itu, saya sampai melongo dan langsung kenyang sebelum mulai mengunyah pun. Gede banget. 😛

Hanya sanggup makan separuh, dan taksi yang katanya sudah ditelponkan penjual kebab tak jua datang, dengan gontai kami pun keluar kedai. Nahas, penduduk setempat meski baik dan ramah, rata-rata nggak bisa bahasa Inggris. Dengan bahasa isyarat dan bahasa Jerman seadanya (yang artinya hampir NOL besar haha), kami menangkap hotel tempat kami menginap itu jauhnya 5 km dan kami HARUS naik taksi. Kalau jalan kaki, nggak mungkin. Pertanyaannya, gimana bisa kami menemukan taksi? Info terpercaya dari penduduk setempat, taksi hanya ada kalau ditelepon dan itu juga datangnya SATU JAM kemudian. Ini sius apa becanda yak? Untunglah akhirnya kami bisa juga menemukan telepon umum yang letaknya, entahlah mungkin sengaja mau meledek kami, nyempil tak terlihat dengan mata telanjang. Harus dengan mata batin. *becanda

Singkat kata singkat cerita, setelah beberapa kali putus nyambung, dan menghabiskan 70 cent untuk telepon, kami menunggu dalam angin yang berhembus dingin selama sekian-sekian menit sebelum akhirnya supir dari hotel datang, dengan bawa mobil tentunya! Haha. Maksud untuk beramah tamah dengan supir pun kandas karena, “No English!” kata si supir sambil nyengir. Oh oookkaayy. *pasrah

Picture 037Harap-harap cemas menunggu dijemput di depan Lauda Konigshofen Hbf

Picture 048Alhamdulillah sampai juga di hotel :’)

Sampai di hotel terjawab sudah kenapa kami ditelantarkan dengan begitu kejamnya.. (eciye..) Rupanya pihak hotel sudah datang menjemput pukul 10.00 waktu setempat tapi tak ada siapa pun. Ups iya, pesawat kami memang delay sejam di Abu Dhabi sih. Belum lagi drama di stasiun yang tentunya makan waktu itu. Jadinya telat. Sedangkan kami tak kepikiran kasih kabar ke hotel. Kami pikir, bakal gampang nemu taksi. Siapa sangka Lauda begitu sepi?

Aannyway... Masih seperti mimpi bisa menginjak tanah Eropa. Ini beneran di Eropa gak sih? *cubit pipi

Oke, saatnya istirahat. Next episode waiting! ^O^