Sepenggal Cerita di Lauda

Hari begitu cepat berlalu di Lauda. Ini harafiah lho. Gimana enggak, waktu kami baru datang, matahari sudah tenggelam dari jam 16.30. Terbit lagi keesokan harinya pukul 8.00. Benar-benar, malam yang panjang bukan hanya malam Minggu. 😛

Siang itu, setiba kami di hotel, kawan saya yang langsung telepon ke perusahaan tempat kami training alat. Bukannya kenapa, bahasa Inggris dia lebih advance daripada saya. *nyengir* Jadwal kami yang mustinya dimulai siang itu, akhirnya diundur hingga keesokan harinya. Sebagai gantinya, mereka mengundang kami dinner. Undangannya pukul 18.00 yang mana ternyata sudah gelap gulita. Kirain masih maghrib. Haha.

Pukul 18.00 kami standby di restoran bawah. Info tambahan, kamar kami di lantai 3. Tambahan lagi, kawan saya ini cantik lho, alias sesama cewek. Jadi disewain kamarnya model studio gitu, dengan satu kamar tidur, satu kamar mandi, satu ruang duduk lengkap dengan kitchen set, plus ada balkonnya. Info lagi, nggak ada lift. Untung pak supir yang jemput kami, mau bantuin mengangkat koper. Dan dia langsung angkat itu dua kopor segede-gede gaban dalam sekali naik. Giliran mau kasih tips, kitanya bingung. Disono model nggak sih kasih tips, takutnya malah tersinggung. Akhirnya malah nggak ngasih :(.

Pak Phillip dan Miss Regina tiba sesaat setelah kami turun. Syukurlah mereka lumayan jelas bahasa Inggrisnya jadi kuping ndeso saya ini lumayan bisa mengikuti pembicaraan. Wkwkwk..

Dinner berlangsung dalam suasana bersahabat, ditambah dua lagi tamu kenalannya pak Phillips yang kebetulan ada di restoran yang sama. Btw, kita dinner-nya di restoran hotel. Yang mana menjadi jelas alasannya, jika pembaca sudah baca posting sebelum ini. Tak lain tak bukan, karena Lauda kotanya super sepi. Jadi mungkin resto hotel ini salah satu yang lumayan hits (apa seh? haha)

ImageDemi kehati-hatian, meski saya penyuka daging-dagingan, saya pesan prawn spaghetti saja. Yang mana saya langsung kenyang begitu dia datang dalam mangkok besar yang cukup untuk dimakan bertiga. Oh.. not again! Ada apa sih dengan orang Eropa dan porsi besarnya ini? Mungkin memang karena postur mereka tinggi besar, jadi ukuran lambung mereka juga besar ya. Sedangkan saya, di Indonesia saja tergolong mungil.

Kawan saya mengalami masalah serupa. Dia justru lebih parah karena memesan daging rusa, yang katanya rasanya aneh, dan sudah begitu sausnya juga aneh. Dan dalam porsi besar! Belakangan, dia mengaku tak sanggup menghabiskan hidangan itu. Yang dengan segera saya pun ikut jujur ke pak Phillips sebagai tuan rumah, bahwa saya tidak bisa menghabiskan spaghetti saya. *nyengir*

Herannya, kawan-kawan semeja kami kok ya bisa-bisa saja menghabiskan semua. Masih tambah sup pembuka dan dessert. Oh my God! *takjub*

Soal dessert ini, rupanya kawan saya tak cuma sekedar kenyang dengan hidangannya, tapi juga mual karena rasanya yang aneh. Makanya begitu dia langsung mau waktu ditawari dessert. Chocolate cake dengan ice cream. Dia pun memaksa saya agar mau sharing. Ini sempet disindir kawannya pak Phillip, “Cewek tu ya.. bilangnya kenyang. Tapi tetep aja mau dessert.” Hihi.. Pengalaman ya pak, kok curhat. 😛

Sayangnya jet lag membuat kantuk begitu cepat datang dan tak tertahankan pada saya dan kawan saya. Pak Phillip pun maklum dan kami boleh ke kamar lebih dulu kalau mau. Yang mana, tentu kami mau haha. Demikianlah makan malam kami di waktu maghrib itu. Selebihnya, mata tak mau kompromi. Dan..

Zzzzz..

Advertisements